JAVASATU.COM-BLITAR- Paguyuban kesenian Jaranan (Kuda Lumping/Jaran Kepang) “Turonggo Joyo” asal dusun Tuwuhrejo, desa/kecamatan Kesamben, kabupaten Blitar berkiprahi sejak 1942 berkibar hingga sekarang. Merekea bertekad terus melestarikan kesenian daerah meski di tengah pesatnya perkembangan zaman digital.
“Kami akan terus melestarikan kesenian daerah Jaranan sampai kapan pun. Sekarang kan sudah zamannya digital, modern dan lain-lain, tapi kami tetap akan melestarikan dan merawat kesenian leluhur ini,” ujar Ketua Paguyuban Jaranan Turonggo Joyo, Hari Yuswanto, Sabtu (29/7/2023).
Yuswanto mengungkapkan, saat ini anggota atau pelaku seni yang tergabung dalam paguyuban kesenian Jaranan Turonggo Joyo sebanyak 71 orang.
“Kami sudah pentas hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Tujuannya tak lain, hanya untuk melestarikan kesenian daerah Jaranan dan menciptakan guyub rukun masyarakat,” katanya.

Sementara itu, kesenian Jaranan Turonggo Joyo pada Sabtu (29/7/2023) unjuk kebolehan di tradisi Grebeg Suro dan selamatan desa di hadapan warga kampung Babadan dusun Tuwuhrejo, desa/kecamatan Kesamben, kabupaten Blitar. Dalam panggung itu, mereka menampilkan kesenian Kuda Lumping (Jaranan/Jaran Kepang) dan Reog.
“Malam ini di Grebeg Suro kami menyajikan 9 tarian jaranan dan reog,” ucapnya.
Antusias warga setempat sangat besar terhadap kesenian daerah Jaranan. Hal ini terlihat saat para penari keliling kampung Babadan Tuwuhrejo.
Pelatih Kesenian Jaranan Turonggo Joyo, Bakri mengatakan, di Grebeg Suro Tuwuhrejo Kesamben, Jaranan Turonggo Joyo menyajikan tarian khasnya yakni ‘Semarangan’.
“Tarian semarangan itu ciptaan leluhur kita. Dan malam ini kami bawakan di Grebeg Suro Kesamben. Tarian ini memiliki makna yang besar terhadap Turonggo Joyo,” jelasnya.
“Tarian semarangan dibawakan 6 orang lengkap dengan pedang dan kudanya,” imbuh Bakri menandaskan.
Dalam tradisi grebeg suro ini nampak hadir anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono dan anggota DPRD Kabupaten Blitar Budi Susila Wijaya. Hadir pula Kepala Desa Kesamben, Sutaji.
Guntur Wahono mengapresiasi keberadaan kesenian Jaranan Turonggo Joyo yang masih berkiprah di tengah zaman modern.
“Saya sangat bangga dengan paguyuban kesenian Turonggo Joyo yang masih melestarikan kesenian daerah,” ucap Guntur Wahono.
Dia berharap, kesenian jaranan Turonggo Joyo di kabupaten Blitar ini dapat menjadi barometer kesenian daerah di Jawa Timur, bahkan Indonesia.
“Karena penampilannya sangat bagus, pakem-pakemnya sangat baik” katanya.

Kepala Desa Kesamben, Sutaji menambahkan, pagelaran kesenian jaranan persembahan Turonggo Joyo ini juga dalam rangka selamatan desa.
“Ini bentuk ungkapan syukur kita atas nikmat dan rezeki yang kami terima sampai sekarang. Tadi juga ada selamatan bersama warga,” ucap Kades Sutaji.
Tambahan informasi, dalam tradisi Grebeg Suro ini, paguyuban kesenian Jaranan Turonggo Joyo selain menampilkan tarian khasnya yakni Gagrag Semarangan juga menyajikan tari Remo khas Jawa Timur, tari Jaranan Senterewe, Warok Reog Ponorogo dan sejumlah tarian yang sangat memukau. (Kir/Arf)