JAVASATU.COM- Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT) menyatakan siap menjamin kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di STM Turen dan SMP Bhakti, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, berjalan normal. Namun, jaminan itu disampaikan dengan syarat pengurus Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT) keluar dari lingkungan sekolah.

Pernyataan tersebut disampaikan Kuasa Hukum YPTWT, Ahmad Hadi Puspito, usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Forkopimda Kabupaten Malang di ruang rapat paripurna DPRD Kabupaten Malang, Senin (19/1/2026).
“Dari kami komitmen menjamin pendidikan berjalan lancar dan tidak terganggu, seperti yang sudah kami lakukan bertahun-tahun. Yang kami minta, kondisi sekolah dikembalikan seperti sebelum peristiwa 28 Desember 2025,” ujar Hadi.
Menurut Hadi, RDPU tersebut belum menghasilkan kesepakatan dan akan dijadwalkan ulang. Ia menyebut salah satu poin yang menjadi perhatian adalah keberadaan pengurus YPTT di lingkungan sekolah pascakejadian 28 Desember 2025 yang disebutnya sebagai aksi penabrakan pagar sekolah.
Hadi menuturkan, permintaan agar YPTT keluar dari lingkungan sekolah bukan hanya datang dari pihak yayasan, tetapi juga dari guru dan siswa. Ia menyebut kehadiran YPTT dinilai memengaruhi kondisi psikologis warga sekolah.
“Beberapa guru menyampaikan merasa tidak nyaman. Dari siswa juga ada yang takut dan khawatir kejadian serupa terulang. Peristiwa itu terekam CCTV,” katanya.
Ia menegaskan YPTWT tidak menuduh YPTT melakukan gangguan secara langsung. Namun, menurutnya, rasa tidak nyaman yang dirasakan guru dan siswa menjadi alasan utama permintaan tersebut.
“Kami tidak mengatakan mereka mengganggu. Tapi faktanya, guru dan siswa merasa tidak nyaman dengan kehadiran YPTT. Karena itu kami menjamin sekolah bisa tatap muka jika mereka keluar dari lingkungan sekolah,” jelas Hadi.
Hadi menambahkan, YPTWT telah lama menyelenggarakan pendidikan di STM Turen dan SMP Bhakti tanpa gangguan berarti. Ia menyebut ribuan siswa telah diluluskan sejak yayasan tersebut mengelola sekolah.
“Sebelum kejadian 28 Desember 2025, situasi sekolah relatif aman dan nyaman. Gangguan psikologis baru muncul setelah peristiwa tersebut,” ujarnya.
Terkait tudingan bahwa YPTWT memprovokasi siswa hingga terjadi perusakan kantor yayasan, Hadi menyatakan pihaknya tidak memberikan tanggapan dan menyerahkan pembuktian kepada pihak yang menyampaikan tudingan tersebut.
“Siapa yang menuding, silakan membuktikan,” pungkasnya. (agb/nuh)