JAVASATU.COM- Anak muda Indonesia kini menjalani gaya hidup serba digital, mulai dari ngopi, langganan platform hiburan, belanja daring, hingga transaksi harian melalui ponsel.

Di tengah mobilitas tinggi ini, SeaBank menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang sadar agar gaya hidup tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas finansial jangka menengah dan panjang.
Direktur Keuangan SeaBank Indonesia, Lindawati Octaviani, menjelaskan, tantangan utama anak muda bukan sekadar menahan konsumsi, melainkan mengatur uang secara terencana.
“Dengan pengelolaan yang tepat, gaya hidup bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan,” ujar Lindawati, Sabtu (14/2/2026).
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, menunjukkan semakin banyak masyarakat memahami produk dan layanan keuangan. Namun, peningkatan literasi perlu dibarengi praktik pengelolaan uang yang konsisten, terutama bagi Gen Z dan Milenial yang aktif bertransaksi digital.
Lindawati menekankan strategi sederhana: memisahkan rekening untuk kebutuhan harian dan simpanan jangka menengah. Tabungan digital berfungsi sebagai pusat kendali transaksi harian, sementara deposito digital berjangka membantu menahan konsumsi impulsif dan menyiapkan dana masa depan.
“Deposito digital bukan hanya produk simpanan, tetapi alat membangun kebiasaan finansial yang sehat. Cocok bagi anak muda yang ingin tetap menikmati hidup sambil memastikan sebagian uangnya bekerja aman,” tambah Lindawati.
Tren ini terlihat dari rata-rata transaksi harian SeaBank yang melebihi 10 juta transaksi per hari, menegaskan posisi bank digital sebagai bagian dari gaya hidup modern. SeaBank juga menegaskan aspek keamanan tetap menjadi fondasi utama, beroperasi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.
Dengan pendekatan sadar dan terencana, anak muda bisa menjalani gaya hidup aktif dan digital tanpa khawatir keuangan, sekaligus menyiapkan fondasi keuangan stabil untuk masa depan. (arf)