JAVASATU.COM- Pegiat sastra dan budaya Halimah Munawir mendorong penguatan diplomasi seni antara Indonesia dan Mesir melalui gerakan “Titian Muhibah” budaya antarnegara. Upaya ini dinilai penting untuk mempererat hubungan bilateral yang telah terjalin sejak era Presiden pertama RI.

Halimah menyampaikan hal tersebut usai sosialisasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir Abdul Mutaiali di Rumah Budaya HMA, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Senin (16/2/2026).
Menurut Halimah, diplomasi budaya menjadi instrumen strategis membangun keharmonisan antarbangsa. Mesir, kata dia, memiliki tradisi sastra dan seni pertunjukan kelas dunia, di antaranya melalui karya sastrawan peraih Nobel, Naguib Mahfouz yang meraih Penghargaan Nobel Sastra pada 1988.
Selain itu, Mesir juga dikenal lewat Cairo Opera House, pusat seni pertunjukan di Kairo yang menjadi panggung opera, balet, dan musik Arab bertaraf internasional.
“Perlu digalakkan titian muhibah seni budaya antarnegara, khususnya Indonesia-Mesir. Ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga promosi budaya dan penguatan persahabatan,” ujar Halimah kepada wartawan.
Owner Rumah Budaya HMA itu berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kolaborasi seni lintas negara.
Ia menilai sinergi antarpegiat budaya dapat memperkuat hubungan bilateral sekaligus membuka ruang diplomasi nonformal yang lebih luas.
Sebagai penyair dan novelis yang dikenal sebagai pinisepuh Sunda, Halimah juga menekankan pentingnya membawa budaya lokal ke panggung global.
“Kita ingin seni budaya Nusantara, termasuk Sunda, mendunia melalui karya,” katanya.
Hubungan Indonesia-Mesir sendiri telah terjalin erat sejak masa pemerintahan Soekarno dan terus berkembang dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan. (las/nuh)