email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Sabtu, 26 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Silek Minangkabau Jadi Komposisi Musik di Pekan Komponis Indonesia 2026

by Javasatu
26 September 2026

JAVASATU.COM- Tradisi silek Minangkabau dihadirkan sebagai bagian dari komposisi musik dalam Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026 di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (23/9/2026) malam. Dalam pertunjukan ini, gerakan tubuh, hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tangan, benturan dan napas pesilat menjadi bagian dari materi bunyi yang disusun sebagai komposisi.

Pertarungan Da At dan Emri. (Foto: Ist)

Pertunjukan tersebut merupakan karya M. Hario Efenur atau Uncu berjudul Ketubuhan Silek: Formulasi Sistem Ketubuhan Silek Menjadi Sistem Komposisi Musik. Karya itu menempatkan tindakan tubuh dalam silek sebagai sumber penciptaan, bukan sekadar gerakan yang kemudian diberi iringan musik.

“Yang dikomposisi bukan nada. Tapi tindakan,” kata Uncu dalam sesi diskusi karya seusai pertunjukan.

Konsep tersebut membuat penonton tidak menyaksikan pertunjukan musik dengan format konvensional. Di tengah panggung terdapat matras pencak silat berukuran sekitar 4 x 4,5 meter. Penonton duduk bersila mengelilingi arena dalam dua hingga tiga baris di setiap sisi. Barisan terdepan bahkan hanya berjarak beberapa sentimeter dari arena.

Di setiap sudut matras dipasang mikrofon bertiang pendek. Mikrofon ditempatkan rendah dan diarahkan ke permukaan matras untuk menangkap bunyi yang muncul dari aktivitas tubuh para pesilat.

Panggung kemudian digelapkan. Cahaya hanya diarahkan dari atas ke arena.

Tiga orang yang menjadi pusat pertunjukan awalnya duduk di antara penonton barisan depan. Ketika pertunjukan dimulai, mereka masuk ke arena, menyalami beberapa penonton terdekat, kemudian mengambil posisi kuda-kuda dan saling berhadapan.

Ketiganya adalah M. Hario Efenur atau Uncu, Emri, dan Hamdan Tawil atau Da At. Pertunjukan sekitar 45 menit itu berlangsung dalam tiga pertemuan, yakni Emri dengan Da At, Emri dengan Uncu, kemudian Da At dengan Uncu.

Emri merupakan seniman tari yang juga mengajar di ISI Padangpanjang. Sementara Da At merupakan alumni ISI Padangpanjang sekaligus pembuat alat-alat musik tradisional Minangkabau. Keduanya telah lama menekuni tradisi silek.

Bunyi Lahir dari Gerakan Silek

Pada pertemuan pertama, gerakan kedua pesilat masih mudah dibaca sebagai pertarungan. Ada serangan, tangkisan, tangkapan, kuncian, jatuhan hingga lompatan.

Namun, bersamaan dengan gerakan itu muncul berbagai bunyi yang tidak berasal dari alat musik. Kaki menghentak matras, tubuh beradu, kain bergesekan, tangan menepuk tubuh, hingga suara benturan ketika tubuh jatuh atau melompat.

Napas para pesilat juga terdengar semakin jelas.

Pada awalnya, bunyi tersebut dapat dipahami sebagai konsekuensi dari gerakan. Namun, seiring pertunjukan berlangsung, bunyi itu mulai menjadi bagian yang menarik perhatian pendengar.

Pertemuan kedua antara Emri dan Uncu menghadirkan pengalaman serupa. Gerakan berubah mengikuti respons satu sama lain. Satu tindakan memicu tindakan berikutnya dan setiap tindakan menghasilkan bunyinya sendiri.

Menjelang pertemuan terakhir, Da At tampil sendirian selama beberapa menit. Uncu tetap berada di arena tanpa bergerak.

Da At berganti-ganti jurus, mengubah langkah, berpindah posisi, melompat, menepuk tubuh dan celana sileknya. Tidak ada lawan yang harus direspons, tetapi bunyi tetap muncul dari setiap tindakan.

Langkah kaki, gesekan kain, tepukan tangan pada tubuh dan pakaian, hentakan kaki serta napas membentuk rangkaian bunyi yang bergerak mengikuti tubuh Da At.

Di titik itu, pertunjukan menghadirkan pertanyaan: apakah bunyi tersebut sekadar akibat dari gerakan silek atau memang menjadi sesuatu yang sedang disusun?

Uncu menjelaskan, sejak awal tubuh, gerak dan bunyi ditempatkan dalam satu kerangka penciptaan komposisi.

“Yang dikomposisi bukan nada. Tapi tindakan,” ujarnya.

Uncu tidak mengambil gerakan silek lalu memberinya musik. Ia menjadikan tindakan tubuh dalam silek sebagai bahan komposisi.

Gerakan yang telah disusun dan dilatih dapat menjadi bagian yang tetap, sedangkan respons terhadap lawan membuka ruang perubahan selama pertunjukan. Serangan dapat menjadi pemicu, tangkapan dan pelepasan membentuk hubungan antartindakan, sementara perubahan posisi, kecepatan, tenaga dan jarak menghasilkan perubahan bunyi.

Dengan pendekatan itu, silek tidak sekadar menjadi tontonan yang diiringi musik. Gerak dan tindakan tubuhnya sendiri ditempatkan sebagai bagian dari komposisi.

Tubuh Menjadi Bagian dari Komposisi

Uncu menyebut pendekatan tersebut sebagai Musik Konsekuensial. Gagasannya berangkat dari sistem ketubuhan silek yang dipahami bukan hanya sebagai teknik gerak, tetapi juga sebagai pengetahuan yang bekerja melalui tubuh, termasuk prinsip, respons dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Dalam pendekatan tersebut, tubuh bukan sekadar alat untuk memainkan komposisi yang telah dibuat sebelumnya. Tubuh menjadi tempat komposisi berlangsung.

Gagasan itu merupakan bagian dari perjalanan artistik Uncu bersama Candasuara, kelompok yang didirikannya pada 2016. Kelompok berbasis di Sumatera Barat tersebut memusatkan penciptaannya pada seni ketubuhan Minangkabau, khususnya silek dan randai, sebagai sumber penciptaan musik.

Ketertarikan Uncu terhadap musik dan silek tumbuh sejak 2003. Saat itu ia mulai memainkan musik tradisional Minangkabau seperti gandang tambua, talempong dan rabano, sekaligus mulai belajar silek.

Eksplorasi hubungan tubuh, bunyi dan teknologi kemudian hadir dalam sejumlah kolaborasinya. Salah satunya melalui karya Panjago bersama Rani Jambak, istrinya, dan Prof. Scott Wilson dari University of Birmingham.

Dalam karya tersebut, gerak silek Uncu ditangkap kamera dan sensor gerak, kemudian diolah menjadi body sound yang dipertemukan dengan musik elektronik dan live coding. Visual karya dikerjakan Jean David Caillouet.

Uncu dan Rani juga mengelola Rumah Gagas, sebuah laboratorium dan ruang kreatif untuk pertunjukan kontemporer dan eksperimental.

Uncu kini tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di ISI Surakarta. Karya Ketubuhan Silek: Formulasi Sistem Ketubuhan Silek Menjadi Sistem Komposisi Musik yang dipentaskan dalam PKIna 2026 berkaitan dengan proses penelitian dan penciptaan tersebut.

Silek Hadir di Pekan Komponis Indonesia 2026

Karya tersebut hadir dalam Pekan Komponis Indonesia, program yang memiliki sejarah panjang. Agenda tahunan Dewan Kesenian Jakarta itu telah berlangsung sejak 1979 ketika masih bernama Pekan Komponis Muda.

PKIna 2026 berlangsung pada 23-27 September di Taman Ismail Marzuki dengan tema “Tala-Talu: Listening, Remapping, Extending”. Tema tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk penciptaan dan pemikiran musik.

Dalam konteks tersebut, karya Uncu tidak hanya memperluas sumber bunyi dalam musik, tetapi juga memetakan kembali kemungkinan dari mana musik dapat berangkat, termasuk dari tindakan tubuh yang telah hidup dalam sebuah tradisi.

Silek sendiri merupakan istilah dalam tradisi Minangkabau untuk seni bela diri yang secara umum dikenal sebagai silat. Sementara pencak silat sebagai tradisi Nusantara telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2019.

Mendengarkan Musik Melalui Tubuh

Pendekatan Uncu bersinggungan dengan pertanyaan dalam musik eksperimental mengenai apa yang dapat menjadi sumber musik.

John Cage, misalnya, melalui 4’33”, menempatkan keheningan dan suara lingkungan sebagai bagian dari pengalaman mendengarkan. Dalam karya Uncu, perhatian pendengar digeser melalui tubuh.

Hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tubuh, napas dan benturan yang biasanya menjadi bagian dari gerakan silek ditempatkan sebagai materi musik.

Pendekatan tersebut juga dapat ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas mengenai soundscape yang dikembangkan R. Murray Schafer. Jika lingkungan dapat dipahami sebagai lanskap bunyi, gagasan itu dapat diperluas untuk melihat tubuh sebagai ruang kecil yang terus menghasilkan bunyi melalui gerak dan aktivitasnya.

Dalam praktik body music, seperti yang dikembangkan Keith Terry, tubuh juga digunakan sebagai sumber bunyi. Namun, pendekatan Uncu memberikan tekanan berbeda. Yang dikomposisikan bukan semata-mata pola bunyi tubuh, melainkan tindakan yang menghasilkan bunyi tersebut dan tindakan itu bersumber dari pengetahuan silek.

BacaJuga :

Lapas Malang Bagikan Kuesioner, Serap Aspirasi Warga Binaan

Job Fair Majalengka Buka 2.789 Lowongan Kerja, Pemkab Bidik Penurunan Pengangguran

Seorang penonton dalam sesi diskusi karya mengaku sempat memejamkan mata untuk lebih berkonsentrasi mendengarkan. Ketika penglihatan disisihkan, suara gesekan, hentakan, napas dan benturan tubuh terdengar seperti memiliki susunan tersendiri.

Jarak penonton dengan arena juga membuat pengalaman tersebut semakin kuat. Ketika tubuh terlempar hanya beberapa sentimeter dari penonton atau benturan keras tiba-tiba terdengar, penonton tidak sepenuhnya berada dalam posisi pengamat yang berjarak.

Kedekatan tersebut membentuk pengalaman yang lebih imersif. Jarak, suara, gerakan dan ketegangan tubuh ikut menjadi bagian dari pengalaman penonton.

Kembali ke Arena

Pada bagian terakhir, Da At berhadapan dengan Uncu.

Kali ini Da At membawa sebilah kuku alang, senjata tradisional berbentuk belati yang cukup besar dan mengilap di bawah cahaya lampu. Sementara Uncu bertangan kosong.

Adegan tersebut kembali menghadirkan ketegangan silek. Namun, setelah menyaksikan bagaimana gerakan tubuh menjadi sumber bunyi, perhatian penonton turut berubah.

Yang terdengar bukan sekadar suara dari sebuah pertarungan. Ada langkah, napas, gesekan kain, benturan, jeda, respons dan perubahan tenaga. Semuanya lahir dari tindakan tubuh yang sejak awal ditempatkan sebagai bagian dari sistem komposisi.

Langkah, napas, gesekan kain, benturan dan jeda yang terdengar di arena malam itu tidak lagi sekadar menyertai gerakan silek sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan melalui tubuh.

Semuanya menjadi bagian dari cara lain membaca tubuh sekaligus mendengarkan musik. (arf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: budayaSeniSilekTradisi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Silek Minangkabau Jadi Komposisi Musik di Pekan Komponis Indonesia 2026

Lapas Malang Bagikan Kuesioner, Serap Aspirasi Warga Binaan

Job Fair Majalengka Buka 2.789 Lowongan Kerja, Pemkab Bidik Penurunan Pengangguran

Bupati Gresik Lantik 25 Pejabat, Diskoperindag Jadi Perhatian

Podcast Mbois Sport: Pickleball Mulai Populer di Kota Malang, Atlet Disiapkan untuk Porprov

Dari Mimbar ke Layar, MUI Gresik Sasar Generasi Muda Lewat Film

TransNusa Gandeng Skywise, Kembangkan Ekosistem Digital Penerbangan

Khataman Al-Qur’an MUI Kebomas Diwarnai Pisah Sambut Kepala KUA

Bupati Kediri Pesan Santri Warisi Semangat Resolusi Jihad

Menhan Beri Pesan Khusus ke Prajurit Yonif TP 339 di Ujungjaya Sumedang

Prev Next

POPULER HARI INI

SOR Baribis Majalengka Tetap Dibangun, Desain Digeser 20 Meter karena Sesar

Ansor Tebuwung Tutup Ramadan dengan Khatmil Quran dan Aksi Sosial

Ramadan di Lapas Malang, Ratusan Warga Binaan Buka Puasa Bersama Keluarga

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

BERITA LAINNYA

Silek Minangkabau Jadi Komposisi Musik di Pekan Komponis Indonesia 2026

Lapas Malang Bagikan Kuesioner, Serap Aspirasi Warga Binaan

Job Fair Majalengka Buka 2.789 Lowongan Kerja, Pemkab Bidik Penurunan Pengangguran

Bupati Gresik Lantik 25 Pejabat, Diskoperindag Jadi Perhatian

Podcast Mbois Sport: Pickleball Mulai Populer di Kota Malang, Atlet Disiapkan untuk Porprov

Dari Mimbar ke Layar, MUI Gresik Sasar Generasi Muda Lewat Film

TransNusa Gandeng Skywise, Kembangkan Ekosistem Digital Penerbangan

Khataman Al-Qur’an MUI Kebomas Diwarnai Pisah Sambut Kepala KUA

Bupati Kediri Pesan Santri Warisi Semangat Resolusi Jihad

Menhan Beri Pesan Khusus ke Prajurit Yonif TP 339 di Ujungjaya Sumedang

Prev Next

POPULER MINGGU INI

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Ramadan di Lapas Malang, Ratusan Warga Binaan Buka Puasa Bersama Keluarga

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

Bupati Yani Ingatkan Ancaman Ekonomi Global saat Susun Pembangunan Gresik 2027

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved