JAVASATU.COM- Sebanyak 250 anak penyintas gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat pendampingan psikososial dari Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara selama dua pekan.
Pendampingan dilakukan di dua titik, yakni Dusun Nunang, Desa Salama, dan Dusun Motor Pecah, Desa Wangkung, Kecamatan Reok.

Ketua Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara, Yudi Priyanto, mengatakan pendampingan dilakukan melalui kegiatan mendongeng, bermain, menggambar hingga aktivitas di luar ruangan. Dongeng yang diberikan juga menyampaikan pesan tentang kebersamaan dan pencegahan perundungan.
“Anak-anak senang dan terhibur. Apalagi saat boneka monyet turut hadir saat mendongeng,” kata Yudi, Senin (5/10/2026).
Tim relawan mendampingi anak-anak yang tinggal di tenda pengungsian di Zona Anak. Dukungan psikososial juga diberikan kepada siswa di sejumlah lembaga pendidikan, yakni SDN 2 Reo, MIN 2 Reok, TK/RA Nurul Huda Reo, TK/PAUD Annurinamasa, Rumah Tahfidz An Najwa, Pondok Pesantren Pancasila Reo, dan MIN 1 Reok.
Selain mendongeng, relawan mengajak anak-anak bermain bersama, mewarnai, menggambar, bermain bola, mencari ikan, mandi dan memancing ikan bersama di sungai.
Anak-anak juga mendapat edukasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa. Mereka diajak mengenali jalur evakuasi di sekolah dan menuju area pengungsian yang dinilai aman apabila terjadi bencana.
Relawan juga menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah dari para donatur. Bantuan tersebut berupa tas, buku tulis, buku gambar, pensil, penghapus, penggaris, bolpoin dan rautan. Selain itu, anak-anak mendapat kotak bekal makan, garpu, sendok dan botol minuman.
“Sangat menarik dan senang. Bonekanya nakal, menyanyi salah-salah terus,” kata salah seorang siswa, Fitri.
Distribusikan 80 Ribu Liter Air Bersih
Selain pendampingan anak, Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara menyalurkan 80 ribu liter air bersih kepada masyarakat penyintas gempa. Bantuan diberikan karena sejumlah wilayah masih mengalami kesulitan mendapatkan air.
Sebagian warga harus berjalan kaki melalui perbukitan untuk mengambil air dari sumber di kawasan pegunungan. Saat musim kemarau, warga terpaksa membeli air dari penjual keliling.
Untuk 1.000 liter air, warga harus membayar sekitar Rp250 ribu. Persediaan sebanyak itu hanya mencukupi kebutuhan selama tiga hingga empat hari.
“Beberapa daerah di NTT saat kemarau mengalami krisis air,” ujar Yudi.
Saat musim hujan, sebagian warga juga menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci.
Relawan turut menyalurkan paket sembako kepada 250 kepala keluarga yang berada di sekitar Zona Anak. Setiap paket berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, minyak 1 liter, kopi 25 gram, satu bungkus teh celup, kecap, saus dan susu kental manis.
Ketua RT 06 RW 01 Dusun Nunang, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Engkos, 45, mengatakan kehadiran relawan membantu kebutuhan warga setelah bencana, termasuk kebutuhan pokok, air bersih dan pendampingan bagi anak-anak.
“Anak-anak senang dan harus melanjutkan hidup,” kata Engkos.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut gempa NTT berdampak di tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka dan Flores Timur.
Pada masa darurat, jumlah pengungsi tercatat mencapai 150.000 jiwa. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi sekitar 46.000 jiwa. (dop/arf)