JAVASATU.COM- Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., mendorong pesantren menyiapkan santri yang kuat dalam ilmu agama sekaligus menguasai sains dan teknologi modern. Menurutnya, santri perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan keterampilan profesional agar mampu menjawab persoalan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ahmad Barizi dalam refleksi Hari Santri Nasional 2026, Kamis (22/10/2026). Ia menilai kesalehan santri tidak cukup diwujudkan melalui ibadah pribadi, tetapi juga perlu tercermin dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Santri bukan hanya dituntut saleh secara personal, tetapi juga harus memiliki kemampuan intelektual dan kecakapan keterampilan untuk mengelola diri serta kehidupan sosialnya,” ujar Ahmad Barizi.
Menurutnya, persoalan kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan membutuhkan keterlibatan santri melalui pendekatan keagamaan, intelektual, dan profesional.
“Santri harus hadir dalam persoalan-persoalan umat. Kesalehan tidak cukup hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi perlu diwujudkan dalam kemampuan membaca realitas dan menghadirkan solusi bagi masyarakat,” katanya.
Santri Perlu Kuasai Sains dan Teknologi
Ahmad Barizi menegaskan, penguasaan kitab kuning dan ilmu keislaman tradisional perlu berjalan beriringan dengan sains modern. Santri, kata dia, perlu memiliki kesempatan berkiprah di berbagai bidang, mulai dari kedokteran, pertanian, kehutanan, kelautan, pertambangan, hingga teknologi.
“Santri tidak boleh hanya menjadi penjaga warisan keilmuan masa lalu. Mereka juga harus menjadi bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” ujarnya.
Ia mencontohkan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kerusakan lingkungan, serta ketahanan pangan sebagai tantangan yang membutuhkan kontribusi ilmiah.
Menurut Ahmad Barizi, santri tidak cukup hanya menyampaikan kritik dari sisi moral. Mereka juga perlu berkontribusi melalui pengetahuan, penelitian, dan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mengingatkan pentingnya prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
“Kaidah ini jangan berhenti sebagai semboyan. Tradisi yang baik harus tetap dirawat, sementara kemajuan ilmu pengetahuan harus direspons secara terbuka, kritis, dan bertanggung jawab,” katanya.
Santri Dituntut Berpikir Kritis
Ahmad Barizi juga mendorong santri mengembangkan pola pikir rasional, kritis, dan berbasis bukti tanpa meninggalkan identitas keagamaan.
“Aqidahnya boleh salaf, tetapi metodologinya khalaf. Identitas keagamaan harus tetap terjaga, sementara cara memahami persoalan dan mengembangkan ilmu perlu terus bergerak mengikuti kemajuan pengetahuan,” tuturnya.
Menurut dia, santri masa depan perlu menguasai lebih dari sekadar kemampuan membaca kitab kuning dan mengikuti metode sorogan. Mereka juga perlu mampu membaca jurnal ilmiah internasional, memahami pemrograman atau coding, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris.
“Santri harus mampu membaca kitab kuning sekaligus jurnal internasional; memahami tradisi sorogan sekaligus menguasai teknologi digital. Jangan sampai kuat dalam hafalan, tetapi lemah dalam analisis dan penyelesaian masalah,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan burhani, yang mengedepankan rasionalitas, argumentasi, dan pembuktian, penting untuk memperkuat budaya intelektual di lingkungan pesantren.
“Ilmu agama harus membimbing arah kehidupan, sedangkan sains membantu kita memahami bagaimana realitas bekerja. Ketika keduanya bertemu secara proporsional, santri memiliki landasan moral sekaligus kemampuan teknis untuk memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.
Kesalehan Harus Berdampak bagi Masyarakat
Ahmad Barizi menilai kesalehan santri perlu tercermin dalam perilaku profesional dan tanggung jawab sosial. Ibadah tetap menjadi fondasi, tetapi nilai-nilai spiritual juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Santri harus tetap menjaga salatnya, menghidupkan tahajudnya, dan memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. Namun, kesalehannya tidak boleh berhenti di atas sajadah,” ujarnya.
Ia mencontohkan kepedulian terhadap lingkungan, kejujuran dalam penelitian, dan pengembangan teknologi yang membantu masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab moral kaum terdidik.
Santri yang terlibat dalam penelitian, kata dia, harus menjaga integritas ilmiah, tidak memanipulasi data, serta mempertimbangkan dampak penggunaan teknologi terhadap manusia.
Ia juga mendorong santri mengembangkan ilmu yang dapat membantu masyarakat, termasuk menciptakan teknologi sederhana untuk mendukung produktivitas petani, peternak, dan nelayan.
Kitab Kuning dan Sains Modern Harus Berjalan Beriringan
Dalam refleksi Hari Santri Nasional 2026, Ahmad Barizi mendorong pesantren melahirkan generasi yang mampu memadukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan sains modern.
“Kitab kuning harus menjadi sumber etika, sedangkan kitab putih—yakni khazanah sains modern—menjadi alat kerja untuk memahami realitas dan menyelesaikan persoalan kehidupan,” katanya.
Ia menilai keberhasilan pendidikan santri tidak cukup diukur dari penguasaan teks atau capaian akademik. Kemampuan menerapkan ilmu secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat bagi masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
“Santri masa depan bukan mereka yang harus memilih antara menjadi religius atau menjadi modern. Mereka harus mampu menjadi keduanya: kuat dalam tradisi, unggul dalam sains, dan matang dalam akhlak,” ujar Ahmad Barizi.
Ia berharap pesantren terus berkembang menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi berkarakter, berwawasan luas, dan kompeten menghadapi perubahan zaman. (ery/arf)





