JAVASATU.COM- Sutradara muda asal Malang, Herlambang Hashemi, membawa film pendek independennya menembus berbagai festival internasional di Eropa hingga Amerika. Film berjudul Melawan Stigma (2024), yang didistribusikan dengan judul Breaking the Stigma, tercatat meraih penghargaan Best International Film di Brightside Tavern Film Festival, Amerika Serikat.

Film tersebut juga masuk dalam sejumlah festival internasional, di antaranya Garofano Rosso International Film Festival di Italia, Black Cat Award International Film Festival di Bolivia, Cannes International Shorts di Prancis, serta Büyük Taarruz Uluslararası Kısa Film Festival di Turki.
Karya Herlambang juga tercatat di sejumlah platform film digital, seperti IMDb, Letterboxd, Amazon Prime Video, Apple TV, dan Rotten Tomatoes. Film Melawan Stigma tercatat memperoleh rating 9,4 di IMDb.
Herlambang, 29, merupakan lulusan Program Studi Televisi dan Film Universitas Jember. Ia telah memproduksi 10 film pendek secara independen sejak 2012 hingga 2024.
Ketertarikan Herlambang terhadap dunia perfilman tumbuh sejak berusia sekitar 10 tahun. Saat itu, mendiang ayahnya kerap mengajaknya menyewa VCD. Salah satu film yang membekas dalam ingatannya adalah Transformers.
Ia masih mengingat perkataan ayahnya saat menonton film tersebut. “Hanya orang-orang Barat yang bisa membuat film seperti itu,” kenang Herlambang.
Ucapan tersebut justru memantik tekadnya untuk menjadi pembuat film. Ia ingin membuktikan bahwa film juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan cerita dan persoalan sosial.
“Saat itu ada pikiran gimana kalau semuanya bisa diabadikan lewat film. Jadi orang itu nggak melihat kita sebagai pribadi saja, tapi juga melihat kita karena ada cerita yang ingin disampaikan. Sekarang, sampai bisa tembus internasional, ya karena itu sih,” ungkapnya.
Sejak SMP hingga kuliah, Herlambang terus mengembangkan kemampuannya dengan membuat video dan film pendek. Ia mengeksplorasi berbagai genre, mulai dari horor, drama hingga romansa, dengan isu sosial sebagai salah satu tema yang diangkat dalam karyanya.
Sejumlah film pendek yang pernah digarapnya antara lain Noir Spirit Monomatic (2012), Noir Spirit Black Shadow (2013), Memorinto (2014), Tuhanku Disakuku (2015), Haru Biru (2015), I’m Sorry (2016), Knock (2017), Introvert (2017), Reaper is Typing (2019), dan Melawan Stigma (2024).
Dalam proses produksi, Herlambang menulis naskah sekaligus menyutradarai film-filmnya. Ia juga membangun tim kecil bersama teman-temannya untuk menggarap berbagai proyek secara independen.
Meski mendapat pengakuan di sejumlah festival luar negeri, Herlambang mengaku apresiasi terhadap film pendeknya di Indonesia masih terbatas. Menurut dia, beberapa karyanya hanya terpilih sebagai official selection atau masuk seleksi resmi festival.
“Kayak terpilih buat ditayangkan di mana gitu. Kalau di luar negeri dapat penghargaan, piala plus ditayangkan juga,” katanya.
Saat ini, Herlambang tengah mengembangkan proyek film terbaru. Ia berencana kembali mengangkat isu sosial sebagai salah satu pijakan dalam berkarya. (dop/arf)