JAVASATU.COM- Ratusan warga Desa Sukamulya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, mengikuti tradisi Hajat Guar Bumi di Kompleks Kabuyutan Buyut Kasun, Rabu (7/10/2026). Tradisi tahunan menjelang musim tanam ini diisi doa bersama, ziarah, dan makan bersama. Warga berharap kompleks kabuyutan tersebut mendapat perhatian dan dikembangkan menjadi destinasi wisata religi.

Warga yang hadir membawa makanan dan hasil bumi untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Tradisi ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga anak-anak, serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Desa (Forkopimdes).
Sesepuh adat Desa Sukamulya, Rahmat Mulyana, mengatakan Hajat Guar Bumi merupakan warisan turun-temurun yang digelar sebagai penanda dimulainya musim tanam sekaligus bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon keberkahan dan hasil pertanian yang melimpah kepada Allah SWT.
“Tradisi ini adalah agenda rutinan tiap tahunan sebagai tanda mengawali masa musim tanam dengan memohon kepada Allah, agar hasil yang didapatkan melimpah dan berkah,” ujar Rahmat.
Menurut Rahmat, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Kebersamaan terlihat saat seluruh peserta mengikuti makan bersama setelah rangkaian kegiatan selesai.
Bangunan Kabuyutan Memprihatinkan
Di balik pelestarian tradisi tersebut, Rahmat menyoroti kondisi salah satu bangunan di Kompleks Kabuyutan Buyut Kasun yang biasa digunakan untuk kegiatan selawat. Bangunan itu disebut dalam kondisi memprihatinkan dan dinilai berpotensi membahayakan jika tidak segera mendapat penanganan.
Rahmat berharap masyarakat dan pemerintah memberikan dukungan untuk merawat kompleks tersebut agar nilai sejarah dan tradisi yang diwariskan tetap terjaga.
“Kami berharap ada rezeki dari masyarakat dan bantuan dari pemerintah setempat untuk bisa terus menjaga dan merawat kompleks ini, karena ke depannya saya ingin ini menjadi destinasi wisata religi,” katanya.
Rahmat menyebut pengajuan bantuan telah disampaikan kepada pemerintah desa dan masih dalam proses. Ia juga berharap dinas terkait, termasuk Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang, dapat memfasilitasi upaya pelestarian kompleks tersebut.
Selain itu, komunikasi telah dilakukan dengan Yayasan Pangeran Sumedang (YPS). Menurut Rahmat, perwakilan yayasan tersebut bahkan telah berkunjung ke lokasi.
Buyut Kasun Dikaitkan dengan Sejarah Penyebaran Islam
Rahmat menjelaskan, Kompleks Kabuyutan Buyut Kasun memiliki nilai sejarah yang tidak hanya berkaitan dengan makam. Menurut penuturan masyarakat setempat, Buyut Kasun juga mewariskan Al-Qur’an tua yang disebut dibuat sendiri olehnya.
Kompleks tersebut juga dikaitkan dengan sejarah penyebaran Islam di wilayah Sukamulya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang.
“Karena kompleks Kabuyutan Buyut Kasun ini bukan hanya sekadar jajaran makam. Buyut Kasun mewarisi Al-Qur’an tua yang dibuat oleh beliau, begitupun sejarah perjalanan dalam penyebaran Islam di Sumedang, tepatnya di wilayah Sukamulya Ujungjaya,” tutur Rahmat.
Rahmat berharap dukungan pemerintah dan masyarakat dapat membantu menjaga bangunan serta peninggalan sejarah di kompleks tersebut. Ia ingin Kompleks Kabuyutan Buyut Kasun dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata religi tanpa meninggalkan tradisi Hajat Guar Bumi yang selama ini dijalankan warga Desa Sukamulya. (eko/arf)