JAVASATU.COM- Kota Malang kembali menghadirkan ruang temu seni media baru melalui pameran INTERSECTION, yang digelar pada 16-18 Januari 2026 di Astaloka Coffee, Kota Malang. Pameran lintas disiplin ini menjadi wadah pertemuan gagasan antara kurator dan akademisi dalam menjembatani praktik kampus dengan ruang publik.

INTERSECTION digagas oleh tim Swarnaloka dan melibatkan kurator Didit Prasetyo serta akademisi Adita Ayu Kusumasari. Keduanya datang dari latar berbeda, namun bertemu dalam satu pandangan: seni tidak hanya soal medium dan visual, melainkan harus berangkat dari gagasan yang matang dan tetap terhubung dengan audiens.
Didit Prasetyo, dosen sekaligus kurator dengan latar praktik lintas disiplin, menegaskan bahwa pameran seni harus diawali dengan konsep yang jelas sebelum menentukan ruang dan visual.
“Harus ada gagasan dulu. Ruang dan visual mengikuti. Kalau karya sudah matang, baru lokasi ditentukan tanpa mengubah konsep dasar,” ujar Didit, dalam keterangan tertulis diterima redaksi media ini pada Kamis (22/1/2026).
Pengalamannya sebagai pengajar membentuk cara pandang Didit dalam membaca karya mahasiswa, tidak hanya dari hasil akhir, tetapi juga dari proses berpikir di baliknya. Ia menilai masih banyak mahasiswa yang lebih menitikberatkan hasil dibandingkan proses konseptual.
“Biasanya fokusnya ke hasil. Padahal konsep harus dipikirkan sejak awal agar karya yang dihasilkan benar-benar matang,” katanya.

Dalam konteks seni media baru, Didit menyoroti kecenderungan pengambilan tema tradisi yang masih bersifat permukaan karena perhatian mahasiswa tersedot pada eksplorasi medium dan visual. Di sinilah peran kurator dibutuhkan untuk memperdalam pemaknaan tanpa mengintervensi aspek teknis karya.
Sementara itu, dari sisi akademik, Adita Ayu Kusumasari, dosen sekaligus Ketua Program Studi DKV Universitas Bhinneka Nusantara (UBHINUS), memposisikan INTERSECTION sebagai ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Keterlibatannya berangkat dari pembimbingan tugas akhir mahasiswa yang sejalan dengan risetnya mengenai pertemuan seni tradisi dan media art.
“Ini bagian dari proses akademik sekaligus riset saya. Mahasiswa mengembangkan proyek karya, lalu kami dorong agar bisa diuji langsung di ruang publik,” ujar Adita.
Mahasiswa DKV UBHINUS yang tergabung dalam kelompok Gangcallslow menjadi peserta utama pameran edisi perdana ini. Bagi Adita, pameran bukan sekadar etalase karya, melainkan sarana mahasiswa berinteraksi langsung dengan audiens dan menerima respons publik.
Adita juga menilai ruang alternatif seperti kafe relevan untuk mendekatkan seni media baru dengan generasi muda, tanpa harus terjebak pada eksklusivitas galeri.
INTERSECTION menghadirkan berbagai program, mulai dari New Media Art Exhibition oleh Gangcallslow, live audio-visual performance, DJ set, peluncuran photobox interaktif, hingga pop-up art merchandise. Selain menjadi ruang temu seniman, akademisi, dan publik, pameran ini juga menjadi roadshow pembuka menuju agenda Swarnaloka 2026. (arf)