JAVASATU.COM- Sehari menjelang Deklarasi Ngalam Hebak 2026, Kapolresta Malang Kota Kombespol Danang Setiyo Pambudi Sukarno berkoordinasi dengan Wali Kota Malang Dr. Wahyu Hidayat untuk mematangkan persiapan kegiatan. Pertemuan berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Malang, Jalan Ijen Nomor 2, Sabtu (26/9/2026) malam.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Deklarasi Ngalam Hebak yang digelar Minggu (27/9/2026) di Sanggar Sasana Krida Budaya Celaket berjalan sesuai rencana.
Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026, Hanan Djalil, mengatakan persiapan kegiatan telah mencapai 99 persen. Panitia tinggal melakukan finalisasi dan pengecekan teknis sebelum acara dimulai.
“Persiapan sudah 99 persen. Tinggal finalisasi dan memastikan seluruh rangkaian besok berjalan sesuai rundown. Kami mengajak masyarakat datang dan menjadi bagian dari Deklarasi Ngalam Hebak,” kata Hanan, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Hanan, Ngalam Hebak yang digagas Kapolresta Malang Kota mendapat dukungan dari Wali Kota Malang. Kegiatan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga malam dengan membawa semangat “Malang Kabeh”.
“Ngalam Hebak memang kami bangun sebagai ruang bersama. Ada pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, pelaku budaya, UMKM dan masyarakat. Semangatnya Malang Kabeh,” ujarnya.
Prosesi utama deklarasi dan penandatanganan dijadwalkan berlangsung pukul 10.52 WIB. Sejumlah pertunjukan seni dan budaya juga disiapkan, mulai Tari Beskalan, Tari Remo, Jathilan, Gandrung Banyuwangi, kesenian Bali, Tari Topeng Malang, Reog Ponorogo hingga pencak silat Pamor Garuda Hitam. Penyanyi asal Banyuwangi Demy dijadwalkan tampil sekitar pukul 11.17 WIB.
Selain pertunjukan budaya, panitia menyiapkan stan UMKM dan penjualan beras SPHP kemasan 5 kilogram dengan harga Rp55 ribu. Batik tulis Celaket juga akan diperkenalkan melalui fashion show bersama Andre Modelling School.
UMKM ditempatkan sebagai bagian dari konsep kegiatan agar deklarasi tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga membuka ruang interaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“UMKM kami utamakan karena Ngalam Hebak harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk tumbuh. Budaya jangan hanya menjadi tontonan. Harus ada manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk pelaku usaha lokal,” kata Hanan.
Panitia juga mengimbau peserta menggunakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan selama berada di area kegiatan, termasuk ketika bertransaksi dengan pelaku UMKM.
“Seluruh peserta di dalam venue atau area acara kami imbau menggunakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan, termasuk saat melakukan transaksi jual beli dengan UMKM,” ujarnya.
Setelah deklarasi, rangkaian Ngalam Hebak akan dilanjutkan dengan Sarasehan Boso Walikan pada pertengahan Oktober dan agenda city run yang mengajak peserta mengenali sejumlah kampung tematik serta kawasan bersejarah di Kota Malang. (saf)