email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Jumat, 25 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Kopi Amstirdam Didorong Jadi Brand Global, Bukan Sekadar Komoditas

by Wahyu Eko Setiawan
25 September 2026

JAVASATU.COM- Kopi Amstirdam didorong naik kelas dari komoditas lokal menjadi brand kawasan yang mampu menembus pasar global. Penguatan produktivitas, koperasi, standardisasi kualitas hingga pemasaran dinilai menjadi kunci agar kopi dari kawasan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit (Amstirdam) Kabupaten Malang memiliki daya saing lebih luas.

Foto: Wahyu Eko Setiawan

Dorongan tersebut disampaikan Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Asep Kusdinar saat menjadi narasumber Workshop Peningkatan Kualitas Produk Communal Branding yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur di Kantor Bakorwil III Malang, Kamis (24/9/2026).

“Kita ingin kopi Amstirdam tidak berhenti sebagai komoditas. Amstirdam harus bisa menjadi identitas. Bagaimana kopi dari empat wilayah ini memiliki kekuatan branding bersama, standar kualitas yang kuat, tata kelola yang profesional, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas, bahkan go international,” ujar Asep.

Menurut Asep, communal branding bukan sekadar membuat nama, logo atau kemasan. Konsep tersebut harus membangun ekosistem ekonomi bersama yang menghubungkan petani, koperasi, UMKM, pengolahan pascapanen, standardisasi kualitas, pengemasan, pemasaran hingga akses pasar.

“Yang kita bangun bukan hanya merek. Kita membangun ekosistem bisnis bersama. Ada kualitas produk, standar produksi, kelembagaan, kemasan, pemasaran, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan pasar,” tegasnya.

Asep menilai pengembangan Kopi Amstirdam tidak bisa dimulai hanya dari sisi produk dan pemasaran. Karakter wilayah tempat kopi diproduksi harus dipahami lebih dahulu agar program yang disusun sesuai dengan kondisi kawasan.

Analisis tersebut mencakup kondisi geografis dan topografi, sumber daya alam, aksesibilitas hingga potensi kerawanan bencana. Perbedaan karakter masing-masing wilayah membuat pola pengembangan tidak bisa diseragamkan.

“Kalau kita ingin membangun sebuah kawasan, jangan hanya melihat produknya. Kita harus memahami wilayahnya dan memahami masyarakatnya. Analisis spasial dan sosial-budaya adalah fondasi yang sangat krusial agar program yang kita jalankan benar-benar berhasil dan berkelanjutan,” kata Asep.

Ia mencontohkan, setiap wilayah memiliki kontur, akses, sumber daya dan tingkat kerawanan bencana yang berbeda. Kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan infrastruktur, produksi, pengelolaan sumber daya hingga distribusi kopi.

BacaJuga :

Warga Kedungkandang Malang Diingatkan Bahaya SUTT 150 kV

Jelang HUT TNI, Moeldoko Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

“Setiap wilayah mempunyai karakter. Ada wilayah dengan kontur tertentu, akses yang berbeda, potensi sumber daya yang berbeda, bahkan tingkat kerawanan bencana yang berbeda. Karena itu, pendekatannya tidak bisa seragam,” ujarnya.

Selain kondisi wilayah, Asep menekankan pentingnya memahami masyarakat yang menjadi bagian dari rantai produksi kopi. Pengembangan ekonomi kawasan, kata dia, tidak cukup hanya berdasarkan data komoditas, tetapi juga perlu mempertimbangkan demografi, pendidikan, mata pencaharian, pendapatan, kearifan lokal, struktur sosial serta kebutuhan nyata masyarakat.

“Jangan sampai kita membuat program berdasarkan apa yang menurut kita dibutuhkan masyarakat, tetapi ternyata bukan itu yang menjadi kebutuhan mereka. Kita harus menemukan real needs-nya,” ungkapnya.

Menurut Asep, masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat. Pelibatan masyarakat sejak proses perencanaan hingga pengembangan usaha dinilai dapat membangun rasa memiliki sekaligus memperkuat keberlanjutan program.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, dapat melahirkan tiga hal penting, yakni bottom-up development, sense of ownership, dan sustainability. Pengembangan kopi diharapkan tumbuh dari potensi dan kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata program dari atas.

“Kalau masyarakat merasa memiliki, maka mereka tidak hanya menjadi objek pembangunan. Mereka menjadi subjek yang menggerakkan pembangunan. Itu yang kita inginkan,” jelasnya.

Dalam pengembangan Kopi Amstirdam, Bakorwil Malang mendorong terbentuknya ekosistem kolaborasi yang melibatkan pemerintah, koperasi, petani, UMKM, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan pasar.

Asep mengatakan Bakorwil dapat berperan menghubungkan potensi ekonomi daerah dengan kebijakan, pengetahuan, teknologi, pembiayaan, pasar dan jejaring usaha.

“Kita ingin Bakorwil menjadi bagian dari solusi. Ketika ada potensi ekonomi di daerah, kita dorong agar potensi itu terhubung dengan kebijakan, pengetahuan, teknologi, pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha,” ujar Asep.

Ia menegaskan, communal branding Kopi Amstirdam harus diarahkan menjadi entitas bisnis kolektif yang modern dan profesional. Artinya, pengembangan tidak berhenti pada produksi kopi, tetapi mencakup standar produk, identitas, tata kelola, strategi pemasaran dan kemampuan membangun pasar.

Asep berharap pengembangan Kopi Amstirdam dapat menjadi contoh penguatan potensi lokal berbasis kawasan dan kolaborasi. Target akhirnya bukan hanya meningkatkan popularitas kopi, tetapi menciptakan nilai tambah bagi petani, koperasi, UMKM dan masyarakat di empat wilayah penghasil.

“Target akhirnya bukan sekadar kopi kita dikenal. Tetapi bagaimana kopi Amstirdam mampu menciptakan nilai tambah bagi petani, koperasi, UMKM, dan masyarakat di kawasan. Dari lokal, naik kelas menjadi regional, nasional, bahkan internasional,” pungkasnya.

Dengan konsep tersebut, Kopi Amstirdam diposisikan bukan hanya sebagai produk pertanian, tetapi sebagai identitas ekonomi kawasan yang dibangun melalui potensi wilayah, kekuatan masyarakat, kualitas produk, kelembagaan koperasi dan kolaborasi lintas sektor. (wes/arf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Bakorwil MalangKabupaten MalangKomoditasKopi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Kopi Amstirdam Didorong Jadi Brand Global, Bukan Sekadar Komoditas

Warga Kedungkandang Malang Diingatkan Bahaya SUTT 150 kV

Jelang HUT TNI, Moeldoko Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

Bukan Cuma Lomba, MTQ Nasional 2026 Putar Ekonomi Rp1,2 Triliun

PPIR Konsolidasi di Malang, SAPIR Jatim Resmi Bergabung

BNPB Catat Karhutla 138 Hektare dan Kekeringan di Sejumlah Daerah

Ketua Komisi III DPRD Majalengka Jalan-jalan ke Pelosok, Publik Bisa Tebak Ada Apa?

Hari Tani Nasional, AMARAH Brawijaya Aksi di DPRD Kota Malang, Ini Tuntutannya

Hari Tani Nasional, Anak TK di Depok Belajar Jadi Petani dari Kebun Sekolah

Pemkab Gresik Ajak Warga Cek dan Perbarui DTSEN

Prev Next

POPULER HARI INI

Jelang Mudik Lebaran, Polres Malang Perketat Pengamanan Stasiun dan Terminal

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

BERITA LAINNYA

Kopi Amstirdam Didorong Jadi Brand Global, Bukan Sekadar Komoditas

Warga Kedungkandang Malang Diingatkan Bahaya SUTT 150 kV

Jelang HUT TNI, Moeldoko Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

Bukan Cuma Lomba, MTQ Nasional 2026 Putar Ekonomi Rp1,2 Triliun

PPIR Konsolidasi di Malang, SAPIR Jatim Resmi Bergabung

BNPB Catat Karhutla 138 Hektare dan Kekeringan di Sejumlah Daerah

Ketua Komisi III DPRD Majalengka Jalan-jalan ke Pelosok, Publik Bisa Tebak Ada Apa?

Hari Tani Nasional, AMARAH Brawijaya Aksi di DPRD Kota Malang, Ini Tuntutannya

Hari Tani Nasional, Anak TK di Depok Belajar Jadi Petani dari Kebun Sekolah

Pemkab Gresik Ajak Warga Cek dan Perbarui DTSEN

Prev Next

POPULER MINGGU INI

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Bupati Yani Ingatkan Ancaman Ekonomi Global saat Susun Pembangunan Gresik 2027

Ramadan di Lapas Malang, Ratusan Warga Binaan Buka Puasa Bersama Keluarga

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved