JAVASATU.COM- Potensi besar sepak bola di Malang Raya dinilai belum berbanding lurus dengan capaian prestasi. Di tengah ketersediaan ratusan lapangan dan puluhan Sekolah Sepak Bola (SSB), perkembangan sepak bola di wilayah ini justru disebut jalan di tempat.

Data mencatat, terdapat 203 lapangan sepak bola di Malang Raya. Rinciannya, 152 lapangan berada di Kabupaten Malang, 26 di Kota Malang, dan 15 di Kota Batu. Namun, tidak seluruhnya dalam kondisi layak dan aktif digunakan. Sejumlah lapangan terbengkalai, kurang perawatan, bahkan nyaris berubah menjadi lahan kosong.
Manajer Malang City FA, Wahyu Eko Setiawan, menyebut persoalan bukan semata pada ketersediaan fasilitas, melainkan pada optimalisasi dan manajemen pembinaan.
“Dari ratusan lapangan tersebut, diperkirakan kurang dari separuh yang benar-benar termanfaatkan secara rutin untuk pembinaan dan kompetisi,” ujar Sam Wes, sapaannya, Jumat (6/2/2026).
Diungkapkan, jika dibandingkan dengan jumlah desa dan kelurahan, Kota Batu dinilai paling efektif memaksimalkan fasilitas. Dari 24 desa/kelurahan, 15 lapangan dapat dioptimalkan. Sementara Kabupaten Malang dengan 390 desa/kelurahan hanya mengaktifkan kurang dari 100 lapangan. Kota Malang dengan 57 kelurahan, sekitar 13 lapangan yang termanfaatkan optimal.
“Dalam lima tahun terakhir, tren prestasi juga menunjukkan disparitas. Menurut kami, kota batu mengalami peningkatan cukup konsisten, disusul kabupaten malang. Sebaliknya, kota malang belum menunjukkan perkembangan signifikan,” bebernya.
Dari sisi pembinaan, terdata 92 SSB di Malang Raya. Namun hanya sekitar 33 yang aktif dan progresif. Minimnya konsistensi pembinaan membuat potensi talenta lokal belum tergarap maksimal.
“Kondisi itu terlihat saat turnamen digelar, di mana peserta dari luar daerah justru mendominasi,” kata Sam Wes.
Sam Wes menilai, sepak bola modern tidak bisa lagi dikelola secara konvensional. Ia mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari industri hiburan, ekonomi kreatif, pendidikan karakter hingga pariwisata olahraga. Selain itu, peningkatan kualitas pelatih dan kompetisi berjenjang dinilai menjadi kunci.
Faktor lain yang disebut berpengaruh adalah peran aktif Askab dan Askot PSSI di masing-masing daerah serta dukungan pemerintah daerah. Tanpa kemauan politik dan kebijakan yang berpihak pada pengembangan ekosistem olahraga, potensi yang ada dinilai sulit berkembang.
“Lapangan tersedia, talenta banyak. Tinggal bagaimana tata kelola, pembinaan, dan komitmen bersama,” ujarnya.
Dengan infrastruktur dan sumber daya yang cukup, Malang Raya sejatinya memiliki peluang menjadi salah satu pusat pengembangan sepak bola nasional.
“Namun, tanpa pembenahan manajemen dan sinergi lintas sektor, sepak bola Malang Raya berisiko terus berjalan di tempat,” imbuh Sam Wes memungkasi. (saf)