JAVASATU.COM- Anggota DPRD Kabupaten Malang, Syaiful Rosyid, menyiapkan gagasan konsolidasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah pemilihannya, khususnya wilayah Singosari-Lawang-Pakis. Gagasan tersebut diarahkan untuk menghubungkan pelaku usaha dalam jaringan produksi, distribusi, pemasaran, hingga akses informasi permodalan.

Syaiful, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Malang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ingin pelaku UMKM di berbagai desa terorganisasi agar lebih mudah berkomunikasi, berbagi informasi, serta menyampaikan kendala usaha yang mereka hadapi.
“Saya sudah punya ambisi secara pribadi untuk mengonsolidasi dan mengoneksikan UMKM di dapil saya. Harapan saya nanti bisa saya gandengkan juga dengan Dinas Koperasi dan UMKM, dengan Disperindag, dengan Bank Jatim,” ujar Syaiful saat bertemu warga Perumahan Bumi Banjararum Asri, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Minggu malam (11/10/2026), dalam tasyakuran pavingisasi.
Menurut Syaiful, jaringan UMKM diperlukan agar pelaku usaha tidak berjalan sendiri-sendiri. Keterhubungan antarpelaku usaha diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dalam pemasaran produk, distribusi, dan pengembangan usaha.
Ia mengatakan langkah awal yang ingin dilakukan adalah mengidentifikasi kelompok UMKM di tingkat desa atau rukun warga (RW), termasuk mengetahui koordinator, anggota, dan jenis usaha yang dijalankan.
“Paling tidak ketika ketemu itu ada pembicaraan, ada keluh kesah, ada aspirasi yang bisa kita carikan jalan keluarnya,” kata anggota Banggar DPRD kabupaten Malang ini.
Dorong Koordinasi dengan Dinas dan Perbankan
Syaiful juga membuka peluang koordinasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta perbankan, termasuk Bank Jatim. Koordinasi itu diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memperoleh informasi mengenai dukungan usaha dan solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Ia menyebut permodalan sebagai salah satu kendala yang kerap dihadapi pelaku UMKM. Namun, ia menegaskan gagasan konsolidasi tersebut bukan untuk mendorong pelaku usaha mengambil pinjaman, melainkan membuka ruang komunikasi dan mencari solusi sesuai kebutuhan.
“Bukan berarti nanti saya gandengkan orang untuk suruh utang. Tetapi paling tidak ketika ketemu itu ada pembicaraan, ada keluh kesah, ada aspirasi yang bisa kita carikan jalan keluarnya,” ujarnya.
Syaiful berharap konsolidasi tersebut dapat menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk membangun jaringan usaha dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada pihak terkait. Ia mengatakan pengembangan gagasan itu membutuhkan keterlibatan pelaku usaha, pemerintah desa, dinas terkait, dan lembaga pendukung usaha.
Dalam pertemuan dengan warga di Perumahan Bumi Banjararum Asri, Syaiful juga meminta masyarakat menghubungkannya dengan kelompok UMKM yang telah terbentuk di lingkungan masing-masing agar dapat dilakukan komunikasi lebih lanjut. (arf/arf)