JAVASATU.COM- Ada banyak cara seorang anggota DPRD menghabiskan waktu. Bisa rapat, bisa sidak, bisa memelototi dokumen proyek, atau kalau sedang mujur, bisa melakukan semuanya dalam satu hari.
H. Iing Misbahuddin punya cukup banyak pengalaman dengan pilihan-pilihan tersebut.

Sebagai Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PKS, urusan infrastruktur sudah seperti menu yang cukup akrab dalam aktivitasnya.
Tapi pada Kamis (24/9/2026), menunya agak berbeda.
Tidak ada jalan yang diperiksa. Tidak ada proyek yang disorot. Tidak ada cerita soal beton, aspal, atau pekerjaan konstruksi.
Yang ada justru pelaku UMKM, obrolan soal usaha, dan kelapa muda.
Iing mengunggah momen itu melalui akun Facebook pribadinya. Dalam foto dan keterangannya, ia memperlihatkan pertemuan dengan sejumlah pelaku UMKM di Kecamatan Talaga.
Suasananya sederhana. Tidak seperti rapat resmi yang biasanya punya meja, kursi, berkas, dan bahasa-bahasa birokratis yang kadang membutuhkan penerjemah khusus.
Di Talaga, obrolannya lebih membumi.
Para pelaku usaha berbagi pengalaman mengenai bagaimana mempertahankan usaha, mengembangkan produk, hingga menghadapi persoalan pemasaran.
Iing menyebut pertemuan itu sebagai ruang bertukar gagasan.
“Di tengah suasana yang sederhana dan penuh keakraban, beberapa pelaku UMKM di wilayah Talaga berkumpul untuk berdiskusi serta berbagi pengalaman,” tulis Iing.
Kelapa muda menjadi teman diskusi.
“Ditemani segarnya kelapa muda, pertemuan ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai strategi bertahan, pengembangan produk, hingga tantangan pemasaran yang dihadapi pelaku usaha lokal,” tulisnya.
Tidak Semua Persoalan Perlu Dibawa ke Ruang Rapat
Ada hal menarik dari pertemuan tersebut.
Iing yang selama ini dikenal melalui aktivitasnya di Komisi III, kali ini tidak sedang membicarakan bagaimana sebuah pembangunan dikerjakan. Ia berbicara tentang bagaimana usaha warga tetap dikerjakan.
Bedanya memang tipis di telinga, tetapi cukup jauh dalam praktik.
Infrastruktur punya proyek. UMKM punya produk.
Infrastruktur punya kontraktor. UMKM punya pemilik usaha yang sering kali merangkap jadi bagian produksi, bagian pemasaran, bagian keuangan, bahkan bagian angkat-angkat barang.
Dan kalau sedang sepi pembeli, ya pemilik usahanya juga yang paling pertama pusing.
Persoalan pemasaran menjadi salah satu topik yang dibicarakan dalam pertemuan Iing dengan pelaku UMKM Talaga.
Produk lokal tidak cukup hanya dibuat. Ia perlu ditemukan pembeli. Karena itu, pengembangan produk dan strategi pemasaran menjadi bagian penting agar usaha bisa terus bertahan.
Di titik ini, obrolan santai sambil menikmati kelapa muda ternyata membicarakan perkara yang tidak terlalu santai.
Bagaimana usaha kecil tetap hidup.
Belum ada keterangan mengenai kebijakan atau program baru sebagai tindak lanjut pertemuan tersebut. Iing dalam unggahannya lebih menekankan suasana diskusi dan pertukaran pengalaman bersama pelaku UMKM.
Namun setidaknya, pada hari itu, Ketua Komisi III DPRD Majalengka sedang melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Bukan dari atas meja rapat.
Bukan dari balik dokumen proyek.
Melainkan dari cerita pelaku usaha yang sedang berusaha menjaga dagangannya tetap berjalan.
Dan untuk kali ini, pembahasannya tidak ditemani suara mesin proyek.
Barangkali, persoalan UMKM memang tidak selalu membutuhkan rapat panjang dengan bahasa yang panjang pula.
Kadang ia cukup dimulai dari pertanyaan sederhana: “Jualannya bagaimana?”
Dari pertanyaan itu, bisa muncul cerita tentang produk yang susah berkembang, pasar yang tak kunjung luas, dan usaha yang harus bertahan meski pembeli datang sesekali.
Iing mendengarkan cerita itu di Talaga, ditemani kelapa muda.
Sebab ada persoalan yang bisa dibaca dari laporan dan ada pula yang baru terasa setelah duduk bersama orang yang mengalaminya.
Kalau biasanya pembangunan punya target kapan selesai, UMKM punya pertanyaan yang barangkali lebih sederhana sekaligus lebih berat: besok masih bisa jualan atau tidak?
Di Talaga, pertanyaan itulah yang dibicarakan tanpa podium, tanpa mikrofon, dan untuk sementara, tanpa perlu membawa-bawa urusan infrastruktur.
Cukup pelaku usaha, cerita mereka, dan kelapa muda yang pelan-pelan habis. (eko/arf)