Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Javasatu by Javasatu
24 Oktober 2026
0
Khoirul Anwar – Ketua Komisi Komdigi MUI Jatim, Wakil Ketua PCNU Kota Malang. (Dok. Pribadi)

OPINI

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Oleh: Khoirul Anwar – Ketua Komisi Komdigi MUI Jatim, Wakil Ketua PCNU Kota Malang

Ada sesuatu yang menarik sedang tumbuh di Malang. Bukan sekadar kegiatan kebudayaan, romantisme sejarah perjuangan, atau hura-hura sesaat. Yang tumbuh adalah benih kesadaran baru bahwa masa depan sebuah kota tidak cukup dibangun dengan jalan, dihiasi gedung-gedung tinggi, atau didorong melalui investasi dan teknologi.

Kota membutuhkan jiwa. Masyarakat membutuhkan identitas. Generasi muda membutuhkan akar yang membuat mereka memahami dari mana mereka berasal, siapa diri mereka, dan ke mana harus melangkah.

Kesadaran itulah yang dapat mempertemukan tiga gagasan besar yang diusung oleh dua tokoh besar pula, yakni Ngalam Hebak, Malang Kota Pejuang, dan AI untuk Osob Kiwalan.

ADVERTISEMENT

Ketiganya tampak berbeda. Gagasan pertama berbicara tentang budaya. Gagasan kedua menghidupkan sejarah perjuangan. Sementara itu, gagasan ketiga memasuki dunia kecerdasan buatan untuk menjaga warisan budaya hingga ribuan tahun ke depan.

Namun, sesungguhnya ketiganya memiliki satu tujuan, yaitu membangun identitas Malang yang kuat dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Jika dilokalkan, tujuan tersebut adalah mempersiapkan generasi emas Ngalam 2045 untuk menyongsong Indonesia Emas.

Inilah tesis yang perlu kita letakkan bersama: budaya memberi akar, perjuangan membentuk karakter, dan teknologi menjaga keberlanjutan masa depan.

Tanpa budaya, kemajuan kehilangan identitas. Tanpa semangat perjuangan, kemajuan kehilangan karakter. Tanpa teknologi, warisan budaya dan perjuangan berisiko kehilangan relevansinya bagi generasi mendatang.

Ngalam Hebak: Identitas yang Menyatukan

Langkah menarik datang dari Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi. Melalui inisiasi gerakan Ngalam Hebak atau Malang Kabeh, ia menghadirkan cara berbeda dalam memandang keamanan dan kehidupan masyarakat.

Menjaga kota ternyata bukan hanya persoalan patroli, penegakan hukum, atau pengamanan ruang publik. Menjaga kota juga berarti merawat identitas, kebersamaan, dan rasa memiliki masyarakat terhadap tempat tinggalnya.

Ngalam Hebak menjadikan Osob Kiwalan sebagai pintu masuk. Namun, bahasa walikan hanyalah permukaan dari kekayaan kebudayaan Malang yang jauh lebih luas.

Di dalamnya terkandung solidaritas, keberanian, kreativitas, egalitarianisme, dan keterbukaan. Yang terpenting, terdapat semangat kebersamaan khas Arek Malang.

Gerakan ini menjadi penting ketika modernisasi kerap membuat kota-kota semakin menyerupai satu sama lain. Pusat perbelanjaannya mirip, bangunannya seragam, bahkan gaya hidup masyarakatnya semakin kehilangan kekhasan. Malang tidak boleh kehilangan wajahnya sendiri.

Ngalam Hebak seharusnya berkembang menjadi gerakan sosial yang inklusif. Gerakan ini bukan hanya milik warga yang lahir di Malang, melainkan juga siapa pun yang mencintai, tinggal, berkarya, dan berkontribusi bagi Malang.

Di sinilah identitas berubah menjadi kekuatan sosial. Kebudayaan bukanlah alat untuk membedakan siapa yang paling asli, melainkan jembatan yang mempertemukan semua orang.

Malang Kota Pejuang: Identitas yang Membentuk Karakter

Pilar kedua menemukan relevansinya melalui gagasan Malang Kota Pejuang. Gagasan ini perlu memperoleh dukungan kelembagaan dari TNI, terutama Korem 083/Baladhika Jaya di bawah kepemimpinan Danrem Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan.

Gagasan ini penting karena Malang bukan sekadar kota pendidikan, wisata, atau olahraga. Malang juga memiliki warisan perjuangan yang turut membentuk perjalanan Republik Indonesia.

Ada Mas Isman, tokoh Brigade TRIP. Ada KH Masjkur, ulama sekaligus tokoh perjuangan nasional. Ada pula sejarah Laskar Sabilillah, Hizbullah, PETA, serta perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.

Pertempuran Jalan Salak pada 31 Juli 1947 menjadi salah satu penanda pengorbanan generasi muda. Sementara itu, keberadaan berbagai kesatuan militer, termasuk Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, menegaskan hubungan panjang Malang dengan tradisi pertahanan negara.

Namun, sejarah tidak boleh berhenti sebagai nama jalan, monumen, atau makam pahlawan, apalagi sekadar menjadi bagian dari upacara tahunan. Sejarah harus menjadi sumber pembentukan karakter.

Semangat pejuang masa kini tidak selalu diwujudkan dengan mengangkat senjata. Semangat itu dapat hadir melalui keberanian melawan korupsi, menjaga integritas, menolak kekerasan, membela kepentingan publik, serta bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat.

Karena itu, Malang Kota Pejuang tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai gerakan untuk mengenang masa lalu. Gagasan ini merupakan ikhtiar untuk menerjemahkan nilai-nilai perjuangan ke dalam kehidupan generasi masa depan.

Kita ingin anak-anak Ngalam bukan hanya mengetahui siapa pahlawan mereka, melainkan juga menjadi generasi muda yang memahami mengapa mereka harus berani, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

AI untuk Osob Kiwalan: Identitas yang Menjangkau Masa Depan

Pilar ketiga membawa kita memasuki tantangan baru. Dunia sedang bergerak menuju peradaban yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Gagasan ini turut dipikirkan oleh Dekan FISIP UB, Dr. Imron Rojuli.

Pertanyaannya sederhana: apakah teknologi akan membantu merawat kebudayaan lokal atau justru mempercepat hilangnya identitas daerah?

Di sinilah perguruan tinggi, terutama FISIP Universitas Brawijaya, bersama akademisi, komunitas budaya, dan pengembang teknologi dapat mengambil peran strategis.

AI untuk Osob Kiwalan bukan sekadar upaya membuat mesin yang mampu menerjemahkan bahasa walikan. Gagasan besarnya adalah membangun kecerdasan budaya atau cultural intelligence yang mampu mendokumentasikan bahasa, sejarah, cerita rakyat, nilai sosial, dan pengetahuan lokal Malang.

Bayangkan, pada 2045, generasi muda dapat berdialog dengan sistem AI mengenai sejarah Brigade TRIP, mengenal makna Osob Kiwalan, menjelajahi situs perjuangan, atau mempelajari kebudayaan Malang melalui teknologi interaktif.

Namun, teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat. Masyarakat, budayawan, sejarawan, dan akademisi tetap menjadi penjaga autentisitas pengetahuan.

AI tidak boleh menciptakan sejarah palsu ataupun mengubah warisan budaya menjadi sekadar komoditas digital.

Menuju Satu Orkestra Ngalam 2045

Ketiga gerakan ini tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Semuanya harus bersinergi dan berkolaborasi untuk mencapai satu tujuan bersama.

Kapolresta melalui Ngalam Hebak membuka ruang bagi kebudayaan dan kohesi sosial. Danrem bersama unsur TNI dapat memperkuat gerakan Malang Kota Pejuang melalui pendidikan karakter dan pewarisan nilai-nilai kepahlawanan. Sementara itu, perguruan tinggi menghadirkan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, orkestra tersebut harus melibatkan pemerintah daerah, komunitas, sekolah, pesantren, media, pelaku usaha, dan yang tidak kalah penting, masyarakat luas sebagai civil society atau masyarakat sipil.

Polri dan TNI dapat menjadi pemantik. Kampus menjadi pusat pengetahuan. Masyarakatlah yang harus menjadi pemilik gerakan.

Inisiatif ini juga memerlukan agenda nyata. Sekolah mengenalkan sejarah lokal. Komunitas menghidupkan kebudayaan. Teknologi mendokumentasikan pengetahuan. Ruang publik menjadi tempat perjumpaan antargenerasi.

Dengan demikian, ketiga pilar tersebut bukanlah tiga proyek terpisah. Ketiganya harus menjadi satu arsitektur identitas Malang 2045.

Ngalam Hebak menjawab siapa kita. Malang Kota Pejuang menjelaskan dari mana karakter kita lahir. AI untuk Osob Kiwalan memastikan identitas itu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi. Keberhasilan juga terlihat ketika generasi muda mampu melangkah jauh ke dunia global tanpa kehilangan kebanggaan terhadap tanah kelahirannya.

Malang harus maju tanpa kehilangan akar, modern tanpa melupakan sejarah, dan canggih tanpa meninggalkan kemanusiaan.

Sebab, masa depan yang kuat bukanlah masa depan yang meninggalkan masa lalu, melainkan masa depan yang mampu menjadikan warisan budaya dan perjuangan sebagai sumber kemajuan.

Itulah jalan menuju Ngalam 2045: Malang yang berbudaya, berkarakter pejuang, dan berkeadaban teknologi.

Malang Kabeh. Ngalam Hebak. (*)

Tags: Opini
Previous Post

Peziarah Makam Sunan Gresik Meningkat di Hari Santri

Next Post

Asep Japar Maju Jadi Calon Ketua Golkar Kabupaten Sukabumi di Musda XI

Related Posts

OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045
Opini

OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045

22 Oktober 2026
OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara
Opini

OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara

18 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

Di Balik Dugaan Korupsi MBG: Antara Administrasi Negara dan Akuntabilitas Demokrasi

11 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan

6 Oktober 2026
OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?
Opini

OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?

5 Oktober 2026
OPINI: Kebijakan Fiskal Hijau, Strategi Banyuwangi Menghadapi Perubahan Iklim
Opini

OPINI: Kebijakan Fiskal Hijau, Strategi Banyuwangi Menghadapi Perubahan Iklim

4 Oktober 2026
Next Post
Asep Japar Maju Jadi Calon Ketua Golkar Kabupaten Sukabumi di Musda XI

Asep Japar Maju Jadi Calon Ketua Golkar Kabupaten Sukabumi di Musda XI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Turnamen Mini Soccer Hari Santri Tambakrejo, 8 Sekolah Lolos Babak Lanjutan
  • BEM Unair Cek Kesehatan Gratis Lansia di Ngajum Malang, Diapresiasi Warga
  • Event K-Pop SKJ Summer Bloom di Spencer Green Hotel Batu 15 November
  • Safari Subuh Kapolres Majalengka, Warga Usul Zebra Cross di Jatipamor
  • Polres Batu Ungkap 8 Kasus Curanmor, 11 Tersangka Ditangkap dalam 12 Jam
  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com