email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Selasa, 17 Februari 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Refleksi HUT ke-80 RI, Sehat Mental Wujud Merdeka yang Sesungguhnya

by Redaksi Javasatu
17 Agustus 2025
I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya. (Foto: Ist/Dok)

OPINI: Refleksi HUT ke-80 RI, Sehat Mental Wujud Merdeka yang Sesungguhnya

Penulis: I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya – Instruktur Lembaga Olah Pikir Indonesia LOA, Dewan Pengawas Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Hipnoterapi Indonesia, mitra Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen.

Tahun ini, Indonesia memasuki usia 80 tahun kemerdekaan. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia selalu diwarnai gegap gempita, yakni upacara bendera, lomba rakyat hingga karnaval budaya. Namun di balik semarak itu, ada refleksi penting yang kerap luput dari perhatian: kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari belenggu batin, termasuk gangguan kesehatan mental.

Data terkini menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat 15,5 juta remaja (34,9%) mengalami masalah mental, dan 2,45 juta remaja (5,5%) menderita gangguan mental. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan menyebut, tiga dari sepuluh penduduk Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan mental. Ironisnya, penanganannya masih jauh dari memadai.

Situasi diperburuk oleh keterbatasan anggaran. Dalam pidato kenegaraan 15 Agustus lalu, Presiden RI mengungkap defisit APBN sebesar Rp638,8 triliun pada RAPBN 2026. Jika prioritas tetap jatuh pada sektor infrastruktur dan belanja rutin, kesehatan mental masyarakat berisiko terus terpinggirkan.

Padahal, kesehatan mental adalah fondasi kehidupan berbangsa. Individu yang sehat mental mampu berpikir jernih, mengendalikan emosi, membangun relasi positif, dan memaksimalkan potensi diri. Sebaliknya, depresi, kecemasan, atau stres pascatrauma bisa menurunkan produktivitas, merusak relasi sosial dan memicu perilaku destruktif.

Di sinilah pentingnya meredefinisi makna “merdeka.” Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari belenggu internal berupa gangguan mental. Merdeka berarti mampu menjalani hidup dengan bahagia, produktif dan bermakna. Tubuh boleh sehat, tetapi bila batin rapuh, kemerdekaan itu sejatinya pincang.

Perjuangan menjaga kesehatan mental memang menantang. Era digital membawa tekanan baru: banjir informasi, budaya instan, hingga ekspektasi sosial yang tidak realistis. Media sosial, misalnya, sering memicu perbandingan diri, rasa tidak puas dan perundungan. Situasi ini menuntut individu dan negara serius mengelola aspek psikologis warganya.

Sayangnya, stigma terhadap gangguan mental masih kuat. Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dicap “gila.” Padahal, gangguan mental membutuhkan penanganan profesional, sama seperti penyakit fisik. Tanpa intervensi, kondisi bisa memburuk dan berdampak pada aspek sosial maupun ekonomi.

BacaJuga :

OPINI: Nisfu Sya’ban dan Isu “Blackout”, Cahaya Doa di Tengah Gelapnya Kepanikan Publik

OPINI: Hari Lahir NU, Etika Kepemimpinan di Tengah Sorotan Kasus Hogi Minaya

Maka, perayaan HUTke-80 RI seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif. Jika para pahlawan dahulu berjuang merebut kemerdekaan fisik, generasi kini ditantang memperjuangkan kemerdekaan jiwa. Membebaskan diri dari depresi, cemas atau trauma adalah bentuk perjuangan modern yang tak kalah heroik.

Dukungan profesional juga sangat penting. Terapi psikologis, konseling, hingga hipnoterapi dapat menjadi pilihan. Hipnoterapi, misalnya, terbukti secara ilmiah membantu banyak orang dengan biaya relatif terjangkau. Metode ini bersifat holistik, menyentuh akar emosional, non-farmakologis, minim efek samping dan fleksibel sebagai terapi mandiri atau pelengkap psikoterapi. Hipnoterapi mampu membantu relaksasi, mengelola stres, meningkatkan kepercayaan diri dan mengubah kebiasaan negatif secara mandiri.

Kemerdekaan sejati tak bisa diraih bila jutaan warga hidup dalam kecemasan dan depresi. Semangat “merdeka” seharusnya meliputi kebebasan untuk merasa aman, dihargai, dan mampu mengembangkan potensi diri tanpa hambatan batin. Ketika negara sibuk menghitung defisit APBN, jangan sampai abai pada defisit yang lebih berbahaya: defisit kebahagiaan warganya.

Indonesia telah berumur 80 tahun, tetapi tanpa rakyat yang sehat mental, cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa” akan sulit terwujud. Mari jadikan HUT ke-80 RI dengan tema ‘Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’ sebagai momentum untuk menyehatkan jiwa bangsa. Karena hanya bangsa yang sehat mentalnya, yang benar-benar merdeka. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: EsaiOpini
ADVERTISEMENT

Comments 1

  1. Hendri says:
    6 bulan ago

    menyoroti aspek kesehatan mental yang sering luput dari perhatian dalam peringatan HUT RI Menekankan bahwa kemerdekaan tidak lengkap tanpa kesehatan mental yang baik.

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Halimah Munawir Dorong Diplomasi Seni Indonesia-Mesir

Jalur Pantura Pemalang-Tegal Tergenang Air, Polisi Turun Tangan Atur Lalin

RAT 2025 KSPPS Al-Karimi Berkah Mandiri Gresik, Soroti Penurunan SHU

MUI Gresik Minta Perusahaan Fasilitasi Ibadah Karyawan saat Ramadan

Fatwa MUI Haramkan Buang Sampah ke Sungai, BRUIN Soroti EPR

RAT XXI BMT Mandiri Sejahtera Jatim Bahas Ekspansi Usaha 2026

Pengurus DMI-PRIMA Manyar Dilantik, Siap Kawal Dampak Sosial KEK Gresik

Pelatihan dan Uji Kompetensi Chef Program MBG Kembali Digelar di Blitar

HUT Ke-3 SUARA3NEWS Luncurkan Zona Hukum untuk Masyarakat

Golkar Kota Malang Siap Garap Pemilih Muda di 2029 Usai Dilantik Bahlil

Prev Next

POPULER HARI INI

Yayasan Diduga Lakukan Kecurangan, Warga Demo SPPG Bandar Lor Kediri

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

RAT 2025 KSPPS Al-Karimi Berkah Mandiri Gresik, Soroti Penurunan SHU

Pelatihan dan Uji Kompetensi Chef Program MBG Kembali Digelar di Blitar

Bahlil Lantik DPD II Golkar se-Jatim, Bidik 73 Persen Pemilih Muda di 2029

BERITA LAINNYA

Halimah Munawir Dorong Diplomasi Seni Indonesia-Mesir

Jalur Pantura Pemalang-Tegal Tergenang Air, Polisi Turun Tangan Atur Lalin

Pelatihan dan Uji Kompetensi Chef Program MBG Kembali Digelar di Blitar

Golkar Kota Malang Siap Garap Pemilih Muda di 2029 Usai Dilantik Bahlil

Bahlil Lantik DPD II Golkar se-Jatim, Bidik 73 Persen Pemilih Muda di 2029

Reconcile Rilis EP Left Me Lost, Angkat Tema Kehilangan dan Krisis Arah Hidup

Trisouls Bawa Nuansa 90-an di “Sementara atau Selamanya”

Gotong Royong TNI dan Warga Blora Wujudkan Jalan Rabat Beton

SeaBank: Gaya Hidup Anak Muda 2026, Nikmati Hidup Uang Tetap Aman

Alun-alun Wonosobo Dibersihkan Kodim dan Pemda Dukung ASRI

Prev Next

POPULER MINGGU INI

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

Yayasan Diduga Lakukan Kecurangan, Warga Demo SPPG Bandar Lor Kediri

Pelatih Muda Malang Raya Digembleng Pelatih Nasional

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d