email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Sabtu, 11 April 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Sang Liswa

Opini

by Redaksi Javasatu
27 Maret 2024
Ahmad Farih Sulaiman. (Foto: Istimewa)

Sang Liswa

Ditulis oleh: Ahmad Farih Sulaiman – Kader PKB Kota Malang, Ketua Ansor Kota Malang

Sang Liswa adalah Raja Kerajaan Kanjuruhan, yang memerintah pada tahun 760 – 789 (29 tahun). Sang Liswa lebih dikenal dengan nama gelar Gajayanalingga Jagatnata (Raja Gajayana). Selama pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan, Gajayana (Sang Liswa) sangat dicintai oleh rakyatnya. Mulai dari para Brahmana, Abdi Kerajaan hingga rakyat jelata, semuanya mencintai dan hormat kepada Gajayana. Karena kepemimpinannya mampu memberikan ketentraman, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Keadilan, Kesejahteran dan Pengayoman, diwujudkan Gajayana dengan cara-cara welas asih, berbudi luhur dan beradab.

Yang paling mencolok di dalam diri Gajayana adalah kemampuannya untuk menampung, mengelola dan mengharmonisasi keberagaman rakyat yang dipimpinnya. Dalam bahasa saat ini, Gajayana mempunyai kemampuan untuk berkolaborasi dan mengorkestrasi berbagai potensi yang sangat beragam. Di dalam keberagaman rakyat yang dipimpinnya, Gajayana mampu menghadirkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteran hidup seluruh warganya. Kemampuan inilah yang menjadikan Gajayana sebagai Raja Kerajaan Kanjuruhan yang sangat dicintai oleh seluruh rakyatnya.

Sebenarnya, situasi dan kondisi pada masa Kerajaan Kanjuruhan pada masa lampau (tahun 760 – 789), bisa kita jadikan pelajaran bersama untuk menghadapi situasi dan kondisi Kota Malang saat ini. Bukankah kita semuanya harus berani mengambil pelajaran dan hikmah dari masa lalu, untuk meningkatkan kemampuan dalam membangun masa depan? Dan kenapa kita harus menggali sejarah dan pengalaman dari Sang Liswa? Bagaimana urgensinya, masihkah relevan dengan masa kini?

Kota Malang, seperti yang sudah kita ketahui bersama, adalah seperti sebuah kuali peradaban. Yang di dalamnya terdapat banyak keberagaman. Mulai dari budaya, adat istiadat, suku, ras, agama, dan lain-lainnya. Semuanya ada, semuanya beragam. Semuanya hidup, dan saling menghidupi. Menjadi satu kesatuan dalam denyut nadi dan nafas kehidupan di Kota Malang. Dinamika dan problematika di dalamnya, juga tidak bisa dilepaskan dari keberagaman yang terus tumbuh subur di Kota Malang. Oleh karena itu, kita semuanya sangat perlu untuk menggali sejarah dan ilmu pengetahuan dari masa Kerajaan Kanjurahan, khususnya pada era Sang Liswa (Raja Gajayana) memimpin rakyatnya.

Jika kita mampu menggali pelajaran dari Sang Liswa, khususnya dalam hal bagaimana strategi mengelola, mengharmonisasi dan mengorkestrasi keberagaman, maka kita bersama punya harapan bahwa Kota Malang bisa mewujudkan masa kejayaannya yang gilang gemilang di masa kini dan masa depan. Sang Liswa mempunyai nama gelar Gajayanalingga Jagatnata. Yang secara manifestasi kebahasaan, bisa diartikan sebagai Sang Penata, Pengayom dan Menghormati Setiap Kehidupan. Bukan hanya kehidupan manusia, tetapi juga kehidupan hewan, pohon dan para mahkluk yang tidak nampak mata. Intinya, menghormati seluruh kehidupan yang ada di alam semesta. Baik yang bisa dilihat oleh mata manusia, maupun yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Jika kita mampu mengerti, memahami dan menghormati seluruh kehidupan di alam semesta, maka kita pasti terhindar dari berbagai bentuk perbuatan keji, beringas dan menindas. Kita juga tentu tidak mau berbuat licik, curang dan culas, hanya demi untuk memenuhi kepentingan pribadi. Dengan memahami makna sejati di dalam keberagaman, kita pasti mudah berpikir terbuka, saling menghormati dan saling menjaga. Bahkan, justru kita akan berupaya untuk saling mendukung dan saling menghidupi. Karena dengan demikian, kita bisa semakin kuat di dalam keberagaman. Kita semakin menyadari, bahwa apapun keberagaman yang ada, semuanya pasti mempunyai tujuan hidup mulia yang bersumber pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Inilah manifestasi dari sesanti Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Meskipun dalam keberagaman yang berbeda-beda, tetapi tujuannya satu untuk memberikan dharma yang tidak mendua.

Menghadapi Pilkada Kota Malang tahun 2024 ini, pasca Pemilu 2024 yang sangat luar biasa tantangan dan dinamikanya, tentu kita semuanya sangat membutuhkan untuk bisa berpikir jernih, obyektif dan bijaksana. Karena kita semuanya tentu tidak mau menyerahkan nasib masa depan Kota Malang kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita semuanya, tentu juga tidak mau menyerahkan nasib masa depan Kota Malang yang sudah terbukti punya track record atau rekam jejak yang sangat buruk sebagai pemimpin Kota Malang. Apakah kita semuanya sebagai warga Kota Malang, mau mendapatkan pemimpin yang rekam jejaknya buruk atau tidak jelas kiprahnya bagi Kota Malang? Tentu tidak!

BacaJuga :

OTT di Tulungagung: Negara Tidak Boleh Diam, Publik Berhak Tahu Sekarang Juga

OPINI: Malang, Kota Pendidikan dan Fenomena Bunuh Diri

Semoga, dengan kita bersama berani menengok sejenak ke belakang, dan menggali sejarah dari pengalaman Sang Liswa dalam memimpin Kerajaan Kanjuruhan, kita semuanya bisa mendapatkan pencerahan dari keluhuran para leluhur kita semuanya. Kita jadi bisa berpikir secara jernih, obyektif dan bijaksana. Dalam berbagai keberagaman yang ada di Kota Malang, kita semuanya mampu saling menghormati, welas asih, berbudi luhur dan beradab.

Kota Malang Beragam. Beragam kampungnya, beragam potensi warganya. Beragam kelurahannya, beragam lapangan kerjanya. Sudah saat sekarang, Kota Malang Membangun Koalisi Keberagaman. Untuk bersama-sama membangun masa depan Kota Malang lebih berjaya serta penuh dengan kegemilangan. Yakin, kita pasti bisa!. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Ahmad Farih Sulaiman

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Sultan Tazzam Siap Tarung di NEX Road to Champion, Hadapi Mustakin Hasan di Jakarta

Sekda Kabupaten Malang: GMNI Jadi Kekuatan Penting Pembangunan Daerah

Analis Publik Dukung Langkah Tegas Menteri Imipas Berantas Narkoba di Lapas

UB Sulap Limbah MBG Jadi Cuan, DPRD dan Wali Kota Malang Kompak Dukung

Novel ‘Cinta Segitiga di Langit Kediri’ Resmi Rilis, Karya Musab Soemardjan Tuai Apresiasi

Menteri Imipas Tegas Berantas Narkotika di Lapas, Oknum Petugas Terlibat Dipecat

Presiden Prabowo: Negara Selamatkan Rp11,42 Triliun, Tak Tolerir Korupsi

Cara Kapolres Gresik Bangun Soliditas, Rayakan Ultah Anggota hingga Pesan Profesionalisme

OTT di Tulungagung: Negara Tidak Boleh Diam, Publik Berhak Tahu Sekarang Juga

Polisi Tangkap Tiga Pembobol SMPN 1 Pakisaji Malang

Prev Next

POPULER HARI INI

Pelaku Budaya Malang Tolak Baju Khas Daerah, Desak SK Wali Kota Dicabut

Internet Rakyat Hadir di Blitar, Tarif Rp100 Ribu per Bulan Kecepatan 100 Mbps

141 PNS Sidoarjo Terima SK Pensiun April-Juni 2026, Pemkab Apresiasi Pengabdian

Gowes PEDAL Lawang Himpun Puluhan Juta Rupiah untuk Masjid An-Nur Pilang

OTT di Tulungagung: Negara Tidak Boleh Diam, Publik Berhak Tahu Sekarang Juga

BERITA LAINNYA

Sultan Tazzam Siap Tarung di NEX Road to Champion, Hadapi Mustakin Hasan di Jakarta

Analis Publik Dukung Langkah Tegas Menteri Imipas Berantas Narkoba di Lapas

Novel ‘Cinta Segitiga di Langit Kediri’ Resmi Rilis, Karya Musab Soemardjan Tuai Apresiasi

Menteri Imipas Tegas Berantas Narkotika di Lapas, Oknum Petugas Terlibat Dipecat

Presiden Prabowo: Negara Selamatkan Rp11,42 Triliun, Tak Tolerir Korupsi

OTT di Tulungagung: Negara Tidak Boleh Diam, Publik Berhak Tahu Sekarang Juga

Polisi Amankan Sedekah Laut Alasdowo Pati, Larung Sesaji Berlangsung Meriah

Panglima TNI Turun Langsung, Dorong Prajurit Jadi Motor Ketahanan Pangan

1-800 Wicked Rilis “Vespa Biru”, Siap Ekspansi ke Pasar Musik Indonesia

Polisi Bongkar Peredaran 4.621 Pil Obaya di Sragen, Pemuda 19 Tahun Ditangkap

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Internet Rakyat Hadir di Blitar, Tarif Rp100 Ribu per Bulan Kecepatan 100 Mbps

Pelaku Budaya Malang Tolak Baju Khas Daerah, Desak SK Wali Kota Dicabut

Portal Bendungan Lahor Dibuka Paksa, Warga Tolak Retribusi Akses Malang-Blitar

Dubes Uzbekistan Ziarah ke Sunan Gresik, Gresik Kian Mendunia

Pemkab Gresik Dorong Percepatan Proyek Jalan Laban 13 Km, Target 4 Jalur

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved