email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Selasa, 4 Agustus 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Tanda Punah?

by Javasatu
28 April 2023
Ilustrasi. (By: Javasatu)

Tanda Punah?

Oleh: Esge Laksana – Dewan Pakar Satupena Jawa Timur

“Kuuuuung…….. turun, ayo main!.”
“Kuuuuung…….. ayo main hompimpah!.”
Teriak Sifa dan Fisa. Kedua cucu kembarku dari lantai bawah. Teriakan itu, membuat ide yang masih ada di otak, seketika ambyar. Aku save terlebih dulu, tulisan yang telah ku edit dan kembangkan. Lantas aku tekan tombol power, kumatikan komputer jinjingku. Ku lipat dan kemudian ku simpan laptop ku.

Ku langkahkan kakiku menuruni 14 anak tangga. Menuju sumber teriakan dan ajakan bermain. Di bawah sudah menanti cucu kembar dari anak pertamaku. Sesaat kemudian, kita bertiga bermain. Hompimpah alaiyun gambreng. Putaran pertama, Fisa, si adik, kalah dan harus mencari aku dan Sifa bersembunyi. “Satu, dua, tiga, empat,……….. sepuluh”, Fisa menghitung. Setelah itu, dia mencari kami berdua. Aku dan Sifa sembunyi di balik lemari baju di ruang tempat sholat. “Dimana ya?”, kata Fisa. Sementara Sifa, tak kuasa menahan tawa. “Daaaaaar…..”, teriak Fisa. Putaran kedua hompimpah, dimulai lagi. Begitu seterusnya, sampai akhirnya kita lelah.

Di sela-sela permainan, aku coba bicara dengan bahasa Jawa pada kedua cucu kembarku, yang berusia tiga tahun lebih tiga bulan. “Ayo, saiki yang kung sing kalah. Sifa karo Fisa singitan”, keduanya melongo. Keduanya tidak mengerti apa yang aku katakan. “Kung bilang apa?”, kata Fisa. “Kung ngomong bahasa Jawa”, kataku. “Mbak dan adik ngerti gak?”, tanyaku. Keduanya serempak jawab, “nggak!”. Ini adalah kekagetanku yang kedua, saat bahasa Jawa kuucapkan dalam percakapan ternyata tidak dimengerti.

Kekagetan pertama, saat anak keduaku, Fira yang saat itu kelas V di Madrasah Ibtidaiyah bertanya padaku, “Pak, slawe itu apa?”. Sebelum aku jawab, ku tanya terlebih dahulu, “adik sedang ngerjakan apa?”. “PR bahasa Jawa”, sahutnya. Setelah itu baru aku jawab, selawe itu dua puluh lima. “Kalau selikur itu apa pak?”. Selikur itu, dua puluh satu. Kalau srengenge?, dan seterusnya. Saat mengerjakan PR, beberapa kali aku coba bicara dengan bahasa Jawa. Ternyata si Fira tidak mengerti.

Kedua peristiwa ini, menyadarkanku, bahwa bahasa Jawa, bahasa etnis atau bahasa daerah, tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari anak cucuku. Ternyata, sejak kecil, anak dan cucuku saat berbicara dengan orang tuanya, tidak lagi berbahasa Jawa. Tetapi, berbahasa Indonesia. Kenyataan ini juga dialami oleh anak dan cucu dari kerabat dan teman-temanku. PR bahasa Jawa lebih sulit dibanding dengan PR matematika. Nilai bahasa Jawa di rapot ternyata paling rendah dibanding mata pelajaran lainnya. Bahkan sebagian anak-anak keluarga kelas atas di kota besar, kesulitan berbicara bahasa Indonesia, karena sejak kecil telah diajarkan bahasa Inggris atau bahasa asing oleh orang tuanya. Tujuan orang tua simpel, menyiapkan anaknya hidup mengglobal.

Peristiwa kecil ini, bisa jadi representasi dari realitas sosial yang lebih besar. Sebuah kenyataan, bahwa bahasa etnis atau bahasa daerah terancam punah. Terdesak oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Terpinggirkan oleh Bahasa Inggris, Korea, Mandarin, atau bahasa internasional lainnya. Mei 2022, Kemendikbud pernah merilis, ada 11 bahasa etnis atau bahasa daerah yang punah. Adapun bahasa daerah yang punah adalah Bahasa Tandia dari Papua Barat, Bahasa Mawes dari Papua, Bahasa Ternateno dari Maluku Utara, Bahasa Kajeli/Kayeli, Bahasa Piru, Bahasa Moksela, Bahasa Palumata, Bahasa Hukumina, Bahasa Hoti, bahasa Serua, dan Bahasa Nila dari Maluku. Data tersebut, bisa ditambahkan dengan beberapa bahasa daerah yang terancam punah. UNESCO pada 21 Februari 2009 merilis bahwa sekitar 2.500 bahasa di dunia termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia kini terancam punah dan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam tiga puluh tahun terakhir dan 607 tidak aman.

BacaJuga :

OPINI: Transfer Pengetahuan BUMN: Belajar Tak Sekadar Meniru

OPINI: Monitoring, Evaluasi dan Akuntabilitas, Kunci Keberhasilan Public Private Partnership

Seriuskah masalah ini? Tentu saja serius, karena pada awalnya Nusantara ini memiliki ratusan (mungkin ribuan) bahasa etnis atau daerah. Jika semakin dekade, makin berkurang, bisa jadi anak cucu kita nanti tak lagi kenal bahasa nenek moyangnya. Bahasa etnis atau bahasa daerah, bukan saja terpinggirkan, tapi menuju kepunahan.

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Esge LaksanaSatupenaSatupena Jawa Timur

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Ojol Gresik Dapat BBM Gratis, Polsek Kebomas dan YALPK Gelar Baksos

SMP YPI Darussalam 1 Cerme Ajak Orang Tua Jadi Sahabat Anak

Mahasiswa ITS Olah Limbah Jeroan Ikan Jadi Pakan Alternatif di Blitar

Sambut HUT ke-81 RI, KKN Unira Bersihkan Punden Desa Kidal

Indonesia Sementara Raih 9 Emas di Asian Taekwondo Open 2026

Sambut HUT Ke-81 RI, Warga Desa Belung Hias Gang Sunan Gunungjati dengan Lampu Merah Putih

TransNusa Buka Rute Manado-Ternate, Terbang Dua Kali Sehari

Ketua Ekraf Majalengka H. Baya: Generasi Muda Harus Jaga Warisan Nyiramkeun Pusaka Talaga

Ifan Seventeen Ubah “Apa Kabar” Jadi Lebih Emosional, Ini Bedanya

Bupati Malang Lantik 166 Pejabat, Tekankan Integritas dan Kerja 5K

Prev Next

POPULER HARI INI

Bupati Malang Lantik 166 Pejabat, Tekankan Integritas dan Kerja 5K

Air Cucian Pusaka Talaga Manggung Majalengka Diburu Warga, Ada dari Sumedang

BRI Malang Sosialisasikan Otentikasi Pensiunan, Cegah Kejahatan Perbankan

Tong Tong Night Market Malang Masuk KEN 2026

Ketua Ekraf Majalengka H. Baya: Generasi Muda Harus Jaga Warisan Nyiramkeun Pusaka Talaga

BERITA LAINNYA

Ojol Gresik Dapat BBM Gratis, Polsek Kebomas dan YALPK Gelar Baksos

SMP YPI Darussalam 1 Cerme Ajak Orang Tua Jadi Sahabat Anak

Mahasiswa ITS Olah Limbah Jeroan Ikan Jadi Pakan Alternatif di Blitar

Sambut HUT ke-81 RI, KKN Unira Bersihkan Punden Desa Kidal

Indonesia Sementara Raih 9 Emas di Asian Taekwondo Open 2026

Sambut HUT Ke-81 RI, Warga Desa Belung Hias Gang Sunan Gunungjati dengan Lampu Merah Putih

TransNusa Buka Rute Manado-Ternate, Terbang Dua Kali Sehari

Ketua Ekraf Majalengka H. Baya: Generasi Muda Harus Jaga Warisan Nyiramkeun Pusaka Talaga

Ifan Seventeen Ubah “Apa Kabar” Jadi Lebih Emosional, Ini Bedanya

Bupati Malang Lantik 166 Pejabat, Tekankan Integritas dan Kerja 5K

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Orang Tua di Malang Dilaporkan Anak, Otje: Berharap Konflik Berakhir Damai

Tiga Jalan Protokol Kota Batu Ditutup Minggu 2 Agustus 2026, Ini Rinciannya

14,95 Ton Timah Ilegal Digagalkan di Pangkal Balam, Potensi Kerugian Rp9,76 Miliar

Survei DKN: Mayoritas Warga Malang Raya Dukung Trans Jatim Koridor 2, Angkot Feeder Jadi Solusi

Bupati Malang Lantik 166 Pejabat, Tekankan Integritas dan Kerja 5K

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved