email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Kamis, 12 Februari 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Diplomasi Baru, Pro Kemerdekaan Palestina Tapi Menerima Israel untuk U-20 Piala Dunia di Indonesia

by Redaksi Javasatu
29 Maret 2023
(Foto: Satupena Indonesia)

Diplomasi Baru, Pro Kemerdekaan Palestina Tapi Menerima Israel untuk U-20 Piala Dunia di Indonesia

Oleh: Denny JA, Ketua Umum Penulis Satupena Indonesia

Kontroversi atas akan hadirnya kesebelasan sepakbola Israel dalam Piala Dunia U-20 FIFA di Indonesia mengingatkan saya tentang perbedaan Diplomasi Lama versus Diplomasi Baru.

 

Diplomasi baru berkembang di dunia sejak tahun 1990–an. Dunia di masa kini sudah berbeda dengan dunia di era ssbelumnya. Yang menjadi aktor penting internasional masa kini tak hanya negara nasional.

Kini tumbuh dan berkembang begitu banyak aktor non- state di tingkat internasional. Mereka adalah organisasi independen yang terlepas dari kepentingan negara nasional.

Aktor non- state ini pun ikut mewarnai pergaulan dunia. Diplomasi baru, berbeda dengan diplomasi lama, memberi tempat yang lebih luas bagi peran aktor non- state itu.

Contoh aktor non- state itu adalah non-profit organizations, labor unions, non-governmental organizations, banks, corporations, media organizations, business magnates, people’s liberation movements, lobby groups, religious groups, dan aid agencies.

FIFA adalah contoh aktor non- state yang punya pengaruh di dunia untuk sepakbola. Palang Merah itu aktor non- state untuk isu kesehatan. Amnesty International adalah non- state untuk isu hak asasi manusia.

BacaJuga :

OPINI: Nisfu Sya’ban dan Isu “Blackout”, Cahaya Doa di Tengah Gelapnya Kepanikan Publik

OPINI: Hari Lahir NU, Etika Kepemimpinan di Tengah Sorotan Kasus Hogi Minaya

Aktor non- state ini memiliki cabang di banyak negara. Kepentingan mereka adalah kepentingan profesi. Kadang kepentingan mereka tak harus sama dengan kepentingan nasional.

Negara yang menganut diplomasi baru lebih toleran atas peran non- state ini. Negara itu menyadari bahwa dunia internasional ini bukan hanya milik negara nasional.

Para individu dan organisasi, lembaga perdagangan, civil society, forum budaya, festival seni dan organisasi olah raga juga punyak hak berperan dalam pergaulan internasional.

Di era diplomasi baru, sebuah negara tetap bisa pro kepada kemerdekaan Palestina, sebagai misal. Tapi negara itu memberikan kebebasan organisasi PSSI, di bawah FIFA, bergerak dengan aturannya sendiri.

Tak terhindari di FIFA, peserta negara yang lolos seleksi pertandingn dunia bisa saja negara Israel.

Tak terhindari pula, yang terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA adalah Indonesia, melalui perjuangan dan seleksi yang keras, yang anti Israel, misalnya.

Bagi negara anggota FIFA, sebuah kehormatan bisa terpilih menjadi tuan rumah piala dunia FIFA. Sebagai olah raga yang penggemarnya sama banyaknya dengan penganut agama besar, menjadi tuan rumah membuat Indonesia menjadi perhatian dunia.

Jika menjadi tuan rumah, tak terhindari pula Indonesia harus ikut aturan FIFA. Termasuk menerima kesebelasan sepakbola Israel untuk ikut bertanding di Indonesia. Bukankah Israel adalah kesebelasan anggota FIFA yang sah, yang secara sah pula lolos seleksi?

Walaupun kebijakan nasional Indonesia pro kemerdekaan Palestina, dan anti kependudukan Israel, walaupun tak ada hubungan diplomatik Indonesia dan Israel, itu tak bisa mengubah aturan FIFA: bahwa negara yang lolos seleksi FIFA seperti Israel tetap harus bermain di negara tuan rumah.

Memang kita mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina. Memang kita berterima kasih atas peran Palestina dalam pengakuan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Memang konstitusi kita menyatakan hak kemerdekaan itu milik segala bangsa.

Kita harus bangga dengan sikap negara nasional Indonesia memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.

Apalagi Indonesia secara resmi ikut dalam Two State Solution bagi berdirinya dua negara merdeka di Timur Tengah: Israel dan Palestina.

Tapi perjuangan dan pilihan kebijakan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina tak ada hubungan dengan peristiwa olah raga sepakbola FIFA.

Diplomasi baru tidak memaksakan sebuah organisasi internasional untuk tunduk kepada pilihan politik sebuah negara nasional yang menjadi tuan rumah.

Jika Indonesia ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA, pemerintah nasional Indonesia yang harus ikut aturan FIFA. Bukan sebaliknya.

Diplomasi lama tak bisa menerima realitas baru itu. Tapi Diplomasi baru bisa menerimanya.

Agak unik kejadian di Indonesia. Ketika begitu banyak politisi Indonesia menentang kesebelasan Israel bermain di Indonesia selaku tuan rumah piala dunia U-20 FIFA, dengarlah pandangan Duta Besar Palestina sendiri untuk Indonesia.

Ujar sang Dubes, Palestina memahami posisi Indonesia. Tak terhindari sebagai tuan rumah, Indonesia perlu ikut aturan FIFA selaku penyelenggara.

Lebih jauh lagi sang dubes menyatakan. “Keikutsertaan masing-masing negara dalam event ini tidak ada kaitannya dengan suka atau tidak suka dengan suatu negara, karena setiap negara ikut serta sebagai bagian dari kompetisi yang berjalan sesuai aturan yang berlaku.” (1)

Bahkan sang Dubes Palestina menyatakan. Sekalipun Indonesia mengizinkan Israel untuk datang ke Indonesia, dukungan Indonesia kepada kemerdekaan Palestina tidak akan pernah berubah.

Sikap Dubes Palestina ini adalah bagian dari Diplomasi Baru. Menyenangkan untuk tahu, tokoh seperti Jusuf Kala dan Presiden Jokowi sendiri berpendapat sama. Baik Jusuf Kala dan Jokowi, berbeda dengan politisi lain, mereka juga sudah berada di alam Diplomasi Baru.

Erick Tohir selaku ketua baru PSSI mungkin terkaget juga. Tantangan terberatnya pertama- tama belumlah pada area menaikkan kualitas sepak bola. Tantangan beratnya pertama- tama justru di arena politik: menerima kesebelasan Israel bermain dalam U 20 FIFA di Indonesia.

Jokowi sudah memberikan pandangannya: jangan campurkan politik dan olah raga. Jokowi sudah mengekspresikan sebuah mindset diplomasi baru.

Tinggalah mindset diplomasi lama yang kini perlu menyadari, bahwa dunia sudah berubah.


CATATAN:
1. Sikap Dubes Palestina untuk Indonesia justru memahami Indonesia harus ikut aturan FIFA menerima kesebelasan Israel bertanding di Indonesia selaku tuan rumah
https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-6631755/soal-israel-di-piala-dunia-u-20-palestina-terserah-indonesia-saja/amp

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Source: Akaha Taufan Aminudin, Koordinator Paguyuban Penulis Satupena Jawa Timur
Tags: Denny JASatupena
ADVERTISEMENT

Comments 1

  1. akahataufanaminudin says:
    3 tahun ago

    Alhamdulillah semangat Sepanjang Masa Succesfull Sedulur SatuPena SatuHati SatuJiwa SatuRasa KOMPAK KEBERSAMAAN

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

Selisih 4.000 Meter Persegi, Dugaan Mark Up Sewa Lahan WTP Kota Malang Terkuak

Pemkot Malang Dinilai Tak Bisa Tunjukkan Alas Hak Supit Urang-Pandanwangi

Pelatih Muda Malang Raya Digembleng Pelatih Nasional

Agustina Faizin Resmi Pimpin Ansor Malaysia 2026-2031

Bupati Gresik Ajak Perempuan Tentukan Arah Pembangunan di Musrenbang 2026

Gresik Jadi Tuan Rumah Pengukuran Kepuasan Layanan Digital Pemerintah

Siswa MI Al-Karimi Gresik Tasmi’ Juz 1 dan 2 Sekali Majelis

TMMD 2026 di Blora Bangun Jalan dan Rehab RTLH

Musrenbang, Wabup Gresik Tegaskan Sinkronisasi Usulan Desa

Prev Next

POPULER HARI INI

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

Pelatih Muda Malang Raya Digembleng Pelatih Nasional

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

Stok Bapokting Kabupaten Malang Aman, Cabai Rawit Rp80 Ribu Jelang Ramadan

BERITA LAINNYA

Agustina Faizin Resmi Pimpin Ansor Malaysia 2026-2031

TMMD 2026 di Blora Bangun Jalan dan Rehab RTLH

HPN 2026, Wali Kota Malang Terima Trofi Abyakta Kebudayaan dari PWI Pusat

HUT ke-6 JMSI, Soroti Gempuran AI dan Algoritma Medsos

HUT ke-18 Gerindra, DPC Kota Kediri Targetkan 7 Kursi DPRD di Pemilu Mendatang

Cak Imin Buka Puncak HPN 2026 di Banten, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

Sertijab Kodim Wonosobo, Sambut Kapten Masraniansyah Lepas Kapten Redo

Nabila Ellisa Rilis EP “GERD”, Angkat Luka Batin Lewat Lagu “Tanyaku”

Immersion by Lexus Pamerkan Karya Oliver Wihardja untuk Sibolga

H Saimo Pimpin IKG 2026-2031, RUAP Sahkah AD/ART Baru

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Kadispora Kabupaten Malang Buka Suara Terkait Penggeledahan Kejaksaan

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Stok Bapokting Kabupaten Malang Aman, Cabai Rawit Rp80 Ribu Jelang Ramadan

Sepak Bola Malang Raya Jalan di Tempat, Siapa yang Salah?

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved