JAVASATU.COM- Guru Besar Tasawuf, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi menegaskan madrasah dan pesantren harus bertransformasi menjadi pusat pembentukan identitas Muslim kamil atau Muslim yang utuh, tidak sekadar lembaga pengajaran agama.

Pernyataan itu disampaikan dalam bincang ilmiah di Pesantren Ikhtiar Insan Kamil, Sumenep pada Senin (16/2/2026) yang dihadiri asatidz, santri, serta pengelola lembaga pendidikan pesantren.
Menurut Prof Barizi, madrasah tidak cukup dipahami sebagai institusi pendidikan formal semata.
“Madrasah adalah penyemai identitas Muslim yang kamil, Muslim yang utuh, matang secara spiritual dan sosial,” tegas Guru Besar Bidang Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.
Ia menilai konsep tersebut selaras dengan visi Pesantren Ikhtiar Insan Kamil yang menanamkan kesempurnaan akhlak dan keilmuan.
Soroti Problem Manusia Modern
Dalam forum itu, Prof Barizi juga menyinggung problematika manusia modern di era digital yang dinilai rentan mengalami split personality atau kepincangan kepribadian.
Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan yang masih dikotomik, memisahkan sains dan agama (Al-Qur’an).
Ia menekankan pentingnya integrasi keilmuan sebagai langkah membangun kembali peradaban Islam yang maju sebagaimana masa keemasan Islam.
Guru Harus Jadi Inspirasi Berbasis Cinta
Prof Barizi menekankan pentingnya menghadirkan inspiring teacher, yakni guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk jiwa dan karakter.
“Urgensi cinta dalam hubungan guru dan murid adalah inti pendidikan pesantren. Ilmu akan tumbuh jika cinta hadir dalam prosesnya,” ujarnya.
Menurutnya, tasawuf mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan transfer ruh dan keteladanan.
Perubahan Dimulai dari Jiwa
Dalam kesempatan itu, ia juga mengutip gagasan tokoh pendidikan nasional A. Malik Fadjar tentang Change, Growth, Reform, and Sustainability sebagai fondasi pengelolaan lembaga pendidikan.
Prof Barizi mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan suatu kaum dimulai dari perubahan diri sendiri.
Ia menegaskan transformasi lembaga harus diawali dari perubahan jiwa: dari lemah menjadi kuat, dari malas menjadi pejuang, serta dari mengeluh menjadi solutif.
“Petani sukses pasti punya jiwa tani yang luar biasa. Pebisnis sukses punya jiwa usaha yang kuat. Maka kiai, guru, dan santri yang sukses harus punya jiwa dedikasi dan kompetensi yang luar biasa,” katanya.
Cinta dan Ikhlas Jadi Fondasi
Di akhir paparannya, Prof Barizi menekankan bahwa pengelolaan madrasah dan pesantren bukan sekadar manajemen institusi, tetapi manajemen jiwa.
“Cinta dan ikhlas adalah bahan bakar keberlanjutan,” tegasnya.
Bincang ilmiah ini menjadi momentum bagi Pesantren Ikhtiar Insan Kamil Sumenep untuk memperkuat posisinya sebagai pesantren masa depan yang mencetak insan kamil, kuat secara spiritual, matang secara intelektual, serta adaptif terhadap tantangan zaman. (arf)