email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Kamis, 16 April 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ananda Sukarlan: Musik Bikin Dunia Lebih Masuk Akal di Hari Asperger 2026

by Redaksi Javasatu
18 Februari 2026

JAVASATU.COM- 18 Februari diperingati sebagai Hari Asperger Internasional atau International Asperger’s Day. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan hari lahir Hans Asperger (18 Februari 1906), dokter anak asal Austria yang pertama kali mendeskripsikan karakteristik sindrom tersebut pada 1940-an.

Komponis dan Pianis Ananda Sukarlan. (Credit: Lasman Simanjuntak)

Peringatan ini menjadi momentum untuk menguatkan pemahaman tentang neurodiversitas sebagai bagian dari keragaman manusia, sekaligus mendorong penghapusan stigma serta peningkatan inklusi di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial bagi individu dalam spektrum autisme.

Salah satu tokoh Indonesia dengan Sindrom Asperger adalah komponis dan pianis Ananda Sukarlan. Ia pernah disebut harian The Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists, at the forefront of championing new piano music”.

Ananda juga menerima sejumlah penghargaan internasional, antara lain tanda kehormatan “Real Orden de Isabel la Católica” dari Kerajaan Spanyol serta gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” yang dianugerahkan Presiden Italia Sergio Mattarella pada 2020. Ia juga masuk daftar “Asia’s Most Influential” di bidang seni versi Tatler Asia pada tahun yang sama.

Dalam perbincangan dengan wartawan dan penyair Lasman Simanjuntak, Ananda mengungkap bagaimana Asperger memengaruhi cara ia merespons dunia, khususnya terhadap suara dan cahaya.

Hipersensitif terhadap Suara dan Cahaya

Ananda mengaku sangat sensitif terhadap rangsangan berlebihan, terutama visual seperti cahaya menyilaukan. Namun dalam hal suara, ia membedakan antara kebisingan biasa dan bunyi bernada.

“Noise masih sering tidak masalah. Tapi kalau ada bunyi dengan pitch atau membentuk melodi, itu bisa mengganggu konsentrasi saat saya menulis musik,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Ia menyebut musik sebagai “suara yang dirapikan”. Sejak kecil, menurutnya, dunia terasa kacau dan membingungkan, tetapi menjadi lebih terstruktur ketika ia mendengarkan musik.

“Hanya musik yang terasa masuk akal,” kata Ananda.

Fokus Intens dan Cara Mendengar Musik

Ananda menjelaskan, individu dengan Asperger, yang kerap disebut “Aspie” cenderung memiliki fokus intens pada bidang tertentu. Ia mencontohkan beberapa tokoh seni seperti Andy Warhol yang dikenal memiliki ketertarikan detail visual yang kuat.

Dalam menikmati konser musik klasik, Ananda mengaku mendengarkan dalam dua lapisan sekaligus: detail tiap not dan struktur keseluruhan karya.

BacaJuga :

1-800 Wicked Rilis “Vespa Biru”, Siap Ekspansi ke Pasar Musik Indonesia

Beeswax Rilis Album Self-Titled 2026, Rayakan 12 Tahun Perjalanan Musik

“Saya bisa bosan dengan konser yang teknisnya sempurna tapi tanpa karakter. Sebaliknya, pertunjukan yang mungkin tidak sempurna tapi beridentitas kuat justru lebih menyentuh,” ujarnya.

Namun ia mengaku terganggu dengan musik latar di restoran atau hotel, karena sulit mengabaikan unsur musikal yang tidak sesuai dengan preferensinya.

Pengalaman Bullying dan Diagnosis di Usia 28 Tahun

Sebagai pendidik dan dosen tamu di berbagai universitas, Ananda menilai kesadaran publik terhadap spektrum autisme kini lebih baik dibandingkan era 1970–1990-an.

Ia baru mengetahui kondisi Asperger yang dimilikinya pada usia 28 tahun. Diagnosis itu, menurutnya, menjadi titik balik penting.

“Seolah-olah pintu tiba-tiba terbuka dalam hidup saya. Banyak hal yang dulu membingungkan akhirnya terjelaskan,” katanya.

Saat kecil, ia mengalami perundungan karena dianggap berbeda. Ia juga menyebut bahwa pada era 1990-an, persepsi publik tentang autisme masih sempit dan kerap dipengaruhi gambaran film seperti Rain Man yang dibintangi Dustin Hoffman.

Kini, ia merasa lebih mampu berasimilasi dengan lingkungan sosial, meski tetap mengakui adanya paradoks: membutuhkan kesendirian, tetapi tidak ingin kesepian.

“Saya bisa berbicara di depan ribuan orang tanpa demam panggung. Tapi datang ke pesta di mana saya tidak mengenal siapa pun, itu jauh lebih sulit,” tuturnya.

Pesan untuk Orang Tua Anak Spektrum Autisme

Menutup perbincangan, Ananda menekankan pentingnya dukungan keluarga bagi anak dengan gangguan spektrum autisme.

“Dukung, cintai, lindungi mereka dari perundungan, dan berikan apa yang mereka butuhkan, selama tidak melanggar hukum,” ujarnya.

Ia mengaku beruntung karena orang tuanya membiarkan ia mendalami minat bermusik sejak kecil, meski dianggap tidak lazim.

“Kalau ada minat obsesif yang tidak merugikan, biarkan. Itu bisa jadi jalan hidup mereka,” kata Ananda. (lasman simanjuntak/arf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: BandKomponismusikMusisiPenyanyiPianis

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Kapolres Gresik Perkuat Sinergi dengan Purnawirawan Polri

Tiga Desa di Kecamatan Manyar Jadi Pilot Project Desa Cantik Gresik 2026

Polres Batu Ringkus Pengedar Ekstasi di Oro-Oro Ombo, 40 Pil Disita

Tiga Warga Sinak Papua Ditembak OPM, TNI Evakuasi Korban ke RS Mulia

TNI AU Gelar Bazar Murah di Makassar, Ringankan Beban Warga

Warga Kembru Ditembak TPNPB-OPM, TNI Evakuasi Korban dan Perketat Pengamanan

Malang Raya Roundtable Jelang Arema vs Persebaya, Polisi Belum Beri Izin Pertandingan

NasDem Malang Raya Minta Tempo Klarifikasi Pemberitaan Surya Paloh

Analis Nilai Serangan ke Jusuf Kalla Bermotif Politik, Ajak Publik Lebih Rasional

Dinkes Kabupaten Blitar Percepat Penerbitan SLHS, Dukung Program MBG

Prev Next

POPULER HARI INI

Tiga Desa di Kecamatan Manyar Jadi Pilot Project Desa Cantik Gresik 2026

Gus-Gus Gresik Hadiri Halalbihalal Asparagus Nasional di Yogyakarta

Pelaku Budaya Malang Tolak Baju Khas Daerah, Desak SK Wali Kota Dicabut

KKI Jatim Juara Umum Kejurprov FORKI 2026, Borong 9 Emas di Malang

DPRD Kota Malang Sahkan 3 Perda, Atur Parkir hingga Pemajuan Kebudayaan

BERITA LAINNYA

Tiga Warga Sinak Papua Ditembak OPM, TNI Evakuasi Korban ke RS Mulia

TNI AU Gelar Bazar Murah di Makassar, Ringankan Beban Warga

Warga Kembru Ditembak TPNPB-OPM, TNI Evakuasi Korban dan Perketat Pengamanan

Analis Nilai Serangan ke Jusuf Kalla Bermotif Politik, Ajak Publik Lebih Rasional

Dinkes Kabupaten Blitar Percepat Penerbitan SLHS, Dukung Program MBG

Pemkot Kediri Sulap Kelurahan Ketami Jadi Kampung Ikan Cupang Lewat Program DAK TPPKT

Terganjal Komitmen Kontraktor, Pedagang dan Warga Desak Rehabilitasi Alun-Alun Kediri Segera Dimulai

Pengamat Nilai UNIPOL Jadi Instrumen Strategis Polri Perkuat SDM dan Peradaban Bangsa

MCC Bukan Beban APBD: Kekeliruan Cara Pandang dalam Membaca Ekonomi Kreatif

Warga Kembru Kembali dari Pengungsian, Kibarkan Bendera Merah Putih

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Pelaku Budaya Malang Tolak Baju Khas Daerah, Desak SK Wali Kota Dicabut

Internet Rakyat Hadir di Blitar, Tarif Rp100 Ribu per Bulan Kecepatan 100 Mbps

141 PNS Sidoarjo Terima SK Pensiun April-Juni 2026, Pemkab Apresiasi Pengabdian

KKI Jatim Juara Umum Kejurprov FORKI 2026, Borong 9 Emas di Malang

DPRD Kota Malang Sahkan 3 Perda, Atur Parkir hingga Pemajuan Kebudayaan

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d