email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 24 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Hari Tani Nasional, AMARAH Brawijaya Aksi di DPRD Kota Malang, Ini Tuntutannya

by Sugi Hartono
24 September 2026

JAVASATU.COM- Aliansi Mahasiswa Resah (AMARAH) Brawijaya menggelar aksi memperingati Hari Tani Nasional 2026 di depan Kantor DPRD Kota Malang, Kamis (24/9/2026).

Aksi massa AMARAH Brawijaya di depan DPRD Kota Malang. (Foto: Sugi Hartono/Javasatu.com)

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan persoalan agraria, perlindungan petani dan masyarakat adat, hingga kebijakan pertanian.

Aksi tersebut mengangkat isu besar “Hentikan Perampasan Ruang Hidup, Tegakkan Reforma Agraria Sejati, Selamatkan Petani, Masyarakat Adat, dan Lingkungan.” Mahasiswa menilai sejumlah persoalan di sektor pertanian masih perlu mendapat perhatian pemerintah, termasuk akses terhadap pupuk, penyusutan lahan pertanian, perlindungan petani serta keterlibatan masyarakat dalam kebijakan agraria.

“Persoalan pertanian ini masih banyak, mulai dari pupuk yang sulit sampai persoalan penguasaan lahan. Kami mempertanyakan bagaimana reforma agraria bisa benar-benar memberikan hak kepada petani kecil dan mewujudkan keadilan sosial,” kata Korlap Aksi AMARAH Brawijaya, Farhan.

Menurut Farhan, aksi tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan persoalan yang dihadapi petani di Malang Raya. AMARAH Brawijaya, kata dia, terdiri dari mahasiswa dari sejumlah fakultas dan individu yang membawa perhatian terhadap isu pertanian, lingkungan dan masyarakat.

“Kami ingin melihat apakah petani di Malang Raya sudah mendapatkan hak dan keadilan yang seharusnya. Apalagi lahan pertanian terus berkurang karena pembangunan. Ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Farhan, Korlap Aksi. (Foto: Sugi Hartono/Javasatu.com)

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa 10 tuntutan. Poin pertama, mereka meminta pengkajian ulang terhadap pengesahan UU Pengaturan Reforma Agraria (PRA) serta mendorong pelaksanaan reforma agraria yang dinilai dapat memperkuat perlindungan hak atas tanah masyarakat.

Kedua, mahasiswa meminta adanya partisipasi publik yang bermakna dalam setiap kebijakan agraria dan pembangunan yang berdampak terhadap masyarakat.

Ketiga, mereka mendesak agar RUU/UU Masyarakat Adat segera disahkan dengan substansi yang berpihak pada perlindungan masyarakat adat.

Keempat, AMARAH Brawijaya meminta penghentian kriminalisasi terhadap petani, masyarakat adat dan aktivis.

Kelima, mahasiswa meminta pemerintah melakukan penyelidikan secara menyeluruh serta mempercepat penanganan pascabencana dan kerusakan ekologis.

Keenam, mereka meminta penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai mengancam keberlanjutan ruang hidup masyarakat.

BacaJuga :

Pemkab Gresik Ajak Warga Cek dan Perbarui DTSEN

Hari Tani, Mas Dhito Bangun 26 Sumur Submersible untuk Hadapi Kemarau

Ketujuh, mahasiswa meminta penghentian praktik patronase dan monopoli dalam tata kelola sektor pertanian dan peternakan.

Kedelapan, mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan swasembada pangan dengan melibatkan masyarakat dan kalangan akademisi.

Kesembilan, AMARAH Brawijaya meminta pemerintah mengevaluasi tata kelola pupuk bersubsidi yang menurut mereka masih menimbulkan persoalan bagi petani.

Kesepuluh, mereka meminta Pemerintah Kota Malang turut mengevaluasi serta menyampaikan kritik terhadap berbagai regulasi pemerintah pusat yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat, baik dalam persoalan agraria maupun sektor lainnya.

Aksi massa AMARAH Brawijaya di depan DPRD Kota Malang. (Foto: Sugi Hartono/Javasatu.com)

Korlap aksi lainnya, Reno, mengatakan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan menjadi salah satu hal yang mereka soroti. Menurutnya, petani, akademisi dan kelompok masyarakat di tingkat bawah perlu dilibatkan agar kebijakan yang dibuat mempertimbangkan kondisi sosial di lapangan.

“Partisipasi masyarakat harus bermakna. Petani dan akademisi yang memahami persoalan agraria, pertanian maupun peternakan perlu dilibatkan agar kebijakan tidak hanya melihat persoalan dari atas,” kata Reno.

Ia juga menyoroti persoalan pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat, termasuk konflik yang berkaitan dengan lahan serta pembangunan. Menurut Reno, persoalan tersebut membutuhkan evaluasi dan tindak lanjut, bukan hanya berhenti pada penyusunan kebijakan.

Reno menegaskan 10 tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut merupakan sejumlah isu yang menurut AMARAH Brawijaya perlu mendapat perhatian dan evaluasi. Mahasiswa menyatakan akan terus memantau perkembangan persoalan yang mereka soroti.

Aksi AMARAH Brawijaya berlangsung bertepatan dengan Hari Tani Nasional, yang diperingati setiap 24 September. Peringatan tersebut secara historis berkaitan dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 24 September 1960. (har/arf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: AksiDemoHari Tani NasionalKota MalangmahasiswaubUniversitas Brawijaya

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Hari Tani Nasional, AMARAH Brawijaya Aksi di DPRD Kota Malang, Ini Tuntutannya

Hari Tani Nasional, Anak TK di Depok Belajar Jadi Petani dari Kebun Sekolah

Pemkab Gresik Ajak Warga Cek dan Perbarui DTSEN

Kopi Keliling Polisi di Gresik, Warga Bisa Sampaikan Keluhan Kamtibmas

Hari Tani, Mas Dhito Bangun 26 Sumur Submersible untuk Hadapi Kemarau

Ngalam Hebak Gelar Panggung Budaya 14 Jam di Celaket, Ini Rutenya

Jelang HUT ke-81 TNI, H.B.L. Mantiri Pesan Prajurit Tetap Solid

Pramuka Gresik Mulai Beralih ke Administrasi Digital

Motor Dicuri di Rest Area Wahas Gresik, Dua Terduga Pelaku Ditangkap

Petrokimia Gresik dan MUI Bahas Pemberdayaan Ekonomi Umat

Prev Next

POPULER HARI INI

Agum Gumelar Ingatkan Prajurit TNI Pegang Teguh Sapta Marga

SOR Baribis Majalengka Tetap Dibangun, Desain Digeser 20 Meter karena Sesar

Jelang Mudik Lebaran, Polres Malang Perketat Pengamanan Stasiun dan Terminal

Hiswana Migas Malang Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg Aman Jelang Lebaran 2026

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

BERITA LAINNYA

Hari Tani Nasional, AMARAH Brawijaya Aksi di DPRD Kota Malang, Ini Tuntutannya

Hari Tani Nasional, Anak TK di Depok Belajar Jadi Petani dari Kebun Sekolah

Pemkab Gresik Ajak Warga Cek dan Perbarui DTSEN

Kopi Keliling Polisi di Gresik, Warga Bisa Sampaikan Keluhan Kamtibmas

Hari Tani, Mas Dhito Bangun 26 Sumur Submersible untuk Hadapi Kemarau

Ngalam Hebak Gelar Panggung Budaya 14 Jam di Celaket, Ini Rutenya

Jelang HUT ke-81 TNI, H.B.L. Mantiri Pesan Prajurit Tetap Solid

Pramuka Gresik Mulai Beralih ke Administrasi Digital

Motor Dicuri di Rest Area Wahas Gresik, Dua Terduga Pelaku Ditangkap

Petrokimia Gresik dan MUI Bahas Pemberdayaan Ekonomi Umat

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Jembatan Sasak Beureum Sumedang Ditargetkan Rampung 28 Desember

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

Ramadan di Lapas Malang, Ratusan Warga Binaan Buka Puasa Bersama Keluarga

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved