JAVASATU.COM- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah tak hanya menjadi ajang kompetisi seni baca dan pemahaman Al-Qur’an. Penyelenggaraan kegiatan tersebut diperkirakan ikut menggerakkan perekonomian hingga Rp1,2 triliun.

Angka tersebut merupakan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Sabtu (19/9/2026).
“Ini menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, perputaran ekonomi tersebut terjadi karena penyelenggaraan MTQ melibatkan berbagai sektor. Mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga industri kreatif.
Kehadiran kafilah dari berbagai daerah, panitia, tamu undangan, peserta, pendamping, serta masyarakat turut menciptakan aktivitas ekonomi selama rangkaian MTQ berlangsung.
“MTQ menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM, dan industri kreatif,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin menilai dampak ekonomi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pengembangan MTQ ke depan tidak hanya diarahkan pada aspek kompetisi, tetapi juga manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Di sisi lain, MTQ Nasional XXXI 2026 menetapkan Kalimantan Timur sebagai juara umum. Kafilah Kaltim meraih 288 poin, disusul Jawa Tengah dengan 208 poin dan DKI Jakarta 129 poin.
“Piala bergilir kembali ke Kalimantan Timur. Sampai jumpa di MTQ berikutnya di Jakarta,” ujar Nasaruddin.
Jakarta akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional berikutnya pada 2027. Estafet penyelenggaraan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi daerah tuan rumah untuk mengembangkan dampak MTQ, termasuk dari sisi pemberdayaan ekonomi masyarakat.
MTQ Tak Berhenti sebagai Ajang Lomba
Selain dampak ekonomi, Nasaruddin menyampaikan empat arah pengembangan MTQ ke depan. Pertama, MTQ diharapkan berkembang dari sekadar perlombaan menjadi ekosistem pembelajaran dan peradaban Al-Qur’an.
Pembinaan qari-qariah, hafiz-hafizah, mufasir, penulis, dan kaligrafer diharapkan berlangsung terencana dan berkelanjutan, tidak berhenti setelah kompetisi selesai.
Kedua, MTQ diarahkan semakin inklusif. Pengembangan cabang bagi penyandang disabilitas perlu diikuti dengan perluasan akses terhadap tenaga pengajar, metode pembelajaran, serta fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas.
“Begitu juga dengan metode pembelajaran, dan fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas,” tegas Nasaruddin.
Ketiga, generasi Qurani didorong mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tanpa meninggalkan integritas dan nilai moral.
“Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, dakwah, dan akses pengetahuan, dengan tetap mewaspadai disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data, dan ujaran kebencian di ruang digital,” tuturnya.
Keempat, aspek ekonomi menjadi bagian dari pengembangan MTQ. Penyelenggaraan MTQ dinilai dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kegiatan keagamaan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Nasaruddin pun meminta semangat yang muncul selama MTQ tidak berhenti setelah acara ditutup. Para kafilah diharapkan membawa nilai-nilai Al-Qur’an kembali ke daerah masing-masing.
“Sampaikan kepada masyarakat bahwa kita datang dari latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh kecintaan kepada Al-Qur’an dan pengabdian kepada Indonesia,” pungkasnya. (dop/arf)