JAVASATU.COM- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menggelar kampanye Stop Boros Pangan sekaligus pelatihan pengolahan sampah dapur atau food waste.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (29-30/9/2026), di Malang Creative Center (MCC), diikuti 230 peserta, termasuk perwakilan dari 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang Dr. Elfiatur Roikhah mengatakan kampanye tersebut mendorong masyarakat untuk mengurangi makanan yang terbuang sekaligus mengolah sisa pangan menjadi sesuatu yang bernilai guna.
“Pemerintah sekarang concern bagaimana mengubah mindset masyarakat supaya lebih menghargai pangan, jadi tidak ada makanan yang terbuang. Jika ada makanan yang terbuang, maka diubah menjadi produk yang bernilai ekonomi dan menjadi sirkular ekonomi,” kata Elfiatur, Rabu (30/9/2026), mewakili Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, SP, Rabu (30/9/2026).
Elfiatur menjelaskan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan pangan dilakukan dengan memanfaatkan kembali sisa makanan untuk mendukung produksi pangan. Sisa pangan dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik cair (POC), hingga pakan berbasis maggot.
“Untuk sisa pangan atau food waste itu kita olah menjadi kompos, menjadi pupuk organik cair atau POC, menjadi maggot. Maggot sendiri bisa dimanfaatkan menjadi pakan ikan, pakan ayam, bisa juga menjadi pupuk,” ujarnya.
Menurut Elfiatur, Dispangtan Kota Malang saat ini membina 115 kelompok urban farming yang tersebar di 57 kelurahan. Program pelatihan tahun ini diarahkan pada konsep integrated urban farming, sehingga hasil budidaya dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan kelompok.
“Kami ada 115 kelompok urban farming di 57 kelurahan. Tahun ini kami fokus di integrated urban farming. Harapannya hasil budidaya ini bisa dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas mereka,” jelasnya.
Salah satu penerapan konsep tersebut berada di kelompok urban farming Kampung Semar. Kelompok itu mengintegrasikan budidaya tanaman, ikan, ayam, serta pengolahan maggot. Maggot digunakan sebagai pakan ikan dan ayam sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar.
“Di sana sudah ada pengolahan maggot. Maggot ini dipakai untuk pakan ikan, mereka juga pelihara ikan, kemudian ada ayam. Jadi bisa dipakai untuk pakan ayam. Konsepnya berputar,” tutur Elfiatur.
Dispangtan juga mendorong pengurangan konsumsi pangan berlebihan melalui kampanye Stop Boros Pangan. Edukasi dilakukan melalui kelompok urban farming dan kegiatan penganekaragaman konsumsi pangan lokal setiap Jumat, antara lain dengan memanfaatkan ubi, singkong dan labu.
“Kami juga melakukan kampanye Stop Boros Pangan, untuk mengurangi pangan berlebih. Konsumsi pangan lokal itu berbasis sumber daya lokal, misalnya ubi, singkong dan labu,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Dispangtan menghadirkan pemateri Fauzi Rahman dari Grand Larva Maggot dan Prof Nur Hidayat dari Universitas Brawijaya (UB). Perwakilan 10 SPPG di Kota Malang juga mengikuti pelatihan dengan masing-masing mengirimkan tiga peserta.
Elfiatur mengatakan pengolahan sisa pangan juga berkaitan dengan persoalan food loss dan food waste secara nasional. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan dalam acara, timbulan food loss dan food waste nasional mencapai 23-48 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar Rp330-Rp551 triliun.
“Potensi sampah yang terbuang itu besar sekali. Itu cukup untuk memberikan makan kepada 60 juta orang. Artinya, di satu sisi masyarakat pangannya berlebih, tapi di sisi lain ada kelompok masyarakat yang masih membutuhkan,” ujarnya.
Di Kota Malang, materi pelatihan menyebut produksi sampah harian mencapai 731,24 ton per hari. Sekitar 41 persen disebut merupakan food waste, dengan sumber antara lain rumah tangga dan pasar rakyat.
Selain pengolahan sisa pangan, Dispangtan menjalankan program food care dan food rescue di Pasar Dinoyo. Bahan pangan yang masih layak konsumsi tetapi tidak layak jual didistribusikan kembali kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Kami juga melakukan program kegiatan food care dan food rescue di Pasar Dinoyo. Bahan-bahan pangan yang masih layak dikonsumsi tetapi mungkin tidak layak jual, kita redistribusi ke kelompok-kelompok yang membutuhkan,” kata Elfiatur. (har/arf)