JAVASATU.COM- Tantangan pengelolaan fiskal Indonesia pada 2027 menjadi salah satu perhatian dalam Forum Indonesia Economic Outlook (IEO) 2027. Sejumlah ekonom, pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan organisasi masyarakat sipil membahas pentingnya menjaga disiplin fiskal sekaligus mendukung kebutuhan pembangunan di tengah dinamika ekonomi global.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam Forum IEO 2027 bertajuk “Fiscal Discipline in a Changing Landscape: Reassessing Indonesia’s Fiscal Space Amid Domestic Priorities and Global Pressures” yang digelar di Auditorium BCA, Gedung MM FEB UI Salemba, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Forum menghadirkan Ekonom Senior Bank Dunia Mehwish Ashraf, Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kementerian Keuangan Hidayat Amir, CEO Sucor Sekuritas Bernadus Setya Ananda Wijaya, Direktur Penelitian Prasasti Center for Policy Studies Adhi Nugroho Saputra, serta Direktur Eksekutif The PRAKARSA Victoria Fanggidae. Diskusi dipandu Ekonom Bank Central Asia Samuel Artha.
Dalam sesi pembuka, Mehwish Ashraf menekankan bahwa disiplin fiskal tidak harus dipandang sebagai kebijakan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kebijakan fiskal akan lebih efektif apabila berjalan beriringan dengan reformasi dari sisi penawaran.
“Fiscal policy works better when it is paired with supply-side reform,” ujar Mehwish.
Mehwish juga menyoroti pentingnya transparansi risiko fiskal, pemilihan program pemerintah secara terukur, serta investasi berkelanjutan pada sumber daya manusia untuk mendukung ketahanan fiskal Indonesia.
Dari sisi pemerintah, Hidayat Amir menyampaikan sejumlah perkembangan positif Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Ia antara lain menyoroti penurunan kemiskinan ekstrem, akses layanan kesehatan melalui BPJS, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil.
“APBN dan APBD sebaiknya dikelola sebagai satu kesatuan, bukan sebagai komponen yang saling dipertentangkan,” kata Hidayat.
Sementara itu, Bernadus Setya Ananda Wijaya membahas pentingnya kepastian regulasi dan arah kebijakan dalam menjaga kepercayaan investor. Menurutnya, perubahan kebijakan yang dilakukan secara mendadak dapat menjadi perhatian bagi pelaku usaha dan investor.
“Perubahan mendadak, misalnya pada royalti atau pajak, dapat merusak kepercayaan para investor,” ujarnya.

Dari perspektif penelitian, Adhi Nugroho Saputra menyoroti perlunya melihat lebih jauh kualitas pertumbuhan ekonomi, termasuk kontribusi sektor swasta dan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja. Ia menyebut pertumbuhan kredit investasi masih banyak ditopang bank Himbara, sementara pertumbuhan lapangan kerja relatif terbatas.
“Kredit investasi yang tumbuh sekitar 25 persen sebagian besar masih ditopang oleh bank Himbara. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun belum banyak terasa karena pertumbuhan lapangan kerja melambat di bawah angka 1 persen dan lebih didominasi oleh pekerjaan informal,” kata Adhi.
Sementara itu, Victoria Fanggidae menekankan pentingnya memperkuat penerimaan negara sebagai salah satu upaya membangun ruang fiskal yang berkelanjutan. Kebijakan fiskal juga dinilai perlu memperhatikan aspek pemerataan dan perlindungan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Ruang fiskal harus dibangun melalui penerimaan yang sehat dan diarahkan menuju kebijakan yang berkeadilan serta tahan terhadap tekanan eksternal,” ujar Victoria.
Victoria juga menyampaikan sejumlah rekomendasi, antara lain memperluas basis pajak penghasilan, melakukan audit terhadap insentif pajak dengan standar yang sama, serta memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat kelas bawah.

Forum kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta yang berasal dari kalangan pengusaha, analis kebijakan, dan mahasiswa. Sejumlah isu yang dibahas meliputi perizinan usaha, transfer ke daerah, ekonomi kreatif, serta ketahanan fiskal menghadapi potensi perubahan kondisi pangan dan energi pada 2027.
Forum IEO 2027 menjadi ruang diskusi mengenai arah kebijakan fiskal Indonesia, khususnya dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan, pengelolaan anggaran, kepastian kebijakan, dan dinamika ekonomi global. (arf/arf)