JAVASATU.COM- Doa untuk keselamatan Indonesia digelar masyarakat spiritual dari berbagai daerah di Pendopo Kabupaten Malang, Kepanjen, Sabtu (3/10/2026) malam. Sekitar 600 orang berkumpul dalam kegiatan yang sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat budaya Jawa dan menjaga kearifan lokal.

Kegiatan yang digelar Laskar Kampung Nuswantara tersebut mengusung tema “Bersama dalam Doa, Bersatu dalam Persaudaraan untuk Keselamatan Nuswantara.” Peserta mengikuti rangkaian doa, ikrar perdamaian dan persaudaraan, serta berbagai pertunjukan seni tradisional Jawa.
Ketua Laskar Kampung Nuswantara, Riyanto, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari gagasan spontan untuk menggelar doa bersama dengan pendekatan budaya Jawa. Dari gagasan itu, panitia kemudian dibentuk hingga kegiatan dapat terlaksana.
“Gagasan ini tiba-tiba muncul dari benak hati saya, kemudian kita membentuk panitia dan akhirnya terbentuklah doa bersama dengan budaya Jawa,” ujar Riyanto.
Doa bersama tersebut diarahkan sebagai bentuk harapan agar Indonesia dan masyarakatnya berada dalam kondisi yang lebih baik. Riyanto juga ingin kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi yang diwariskan para sesepuh.
“Harapan yang pertama agar bangsa dan Kampung Nusantara ini menjadi bangsa dan kampung yang lebih baik lagi, tidak terpuruk dari suatu apa pun, akan menjadi baik. Kemudian dengan doa ini akan diikuti oleh generasi-generasi anak-anak Jawa, bisa mengikuti para sesepuh pada malam hari ini,” katanya.
Dari Pendopo Kabupaten Malang, pesan menjaga budaya Jawa juga disampaikan melalui rangkaian kesenian. Sebelum acara inti, masyarakat menyaksikan Mbok Ireng Bucal Sesuker dan Tari Beskalan Putri.

Acara inti dimulai sekitar pukul 19.40 WIB dengan bebuka, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan pembacaan teks Pancasila. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Tari Topeng Grebeg Sabrang, sambutan ketua panitia, serta ikrar penyampaian pesan perdamaian dan persaudaraan.
Rangkaian berikutnya berupa tumpeng mijil, doa sakral bersama hingga kenduri.
Riyanto mendorong masyarakat untuk tidak berhenti mengenal budaya lokal, tetapi turut menjaga dan menghidupkannya sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.
“Harapan saya, semoga semua penghayat atau budaya ini bisa membangkitkan budaya kita sehingga budaya kita ini tidak dimasuki oleh budaya-budaya yang lain. Inilah budaya bangsa kita, bangsa Indonesia,” ujar Riyanto.
Ia juga berharap pesan pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada budaya Jawa. Menurutnya, masyarakat di daerah lain dapat melakukan hal serupa dengan menghidupkan budaya lokal masing-masing.
“Dalam arti kita membangkitkan di sini adalah budaya Jawa. Mudah-mudahan di tempat-tempat yang lain juga akan membangkitkan budayanya masing-masing, yaitu budaya bangsa,” katanya.
Kegiatan tersebut dikonsep sebagai kegiatan spiritual yang dapat diikuti lintas agama. Riyanto mengatakan Laskar Kampung Nuswantara berencana menjadikan doa bersama tersebut sebagai agenda tahunan.
“Ke depannya akan tetap ini menjadi agenda atau murni doa orang Jawa, doa spiritual. Tepat tanggal 3 bulan 10 2027 akan kita adakan lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang, Dr. Suroso, mengatakan pertemuan masyarakat spiritual, seniman, budayawan, dan para sesepuh dalam kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menjaga adat, budaya, dan kearifan lokal.
“Hadirnya kegiatan ini sangat luar biasa untuk masyarakat spiritual, seni, budaya, keluhuran-keluhuran, kearifan lokal yang kita bangun bersama kali ini. Kita mempunyai adat budaya yang sangat luar biasa, kita bangun bersama, jangan sampai ditinggalkan,” ujar Suroso.

Suroso menyebut pelestarian budaya juga berkaitan dengan warisan yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Ini merupakan nanti untuk anak-cucu kita, tinggalan-tinggalan yang baik. Intinya, ‘Pencino Boso, Soko Leluhur Biso’,” katanya.
Kegiatan di Pendopo Kabupaten Malang ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah sekitar pukul 21.20 WIB. (arf/arf)