JAVASATU.COM- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong sekolah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi, megathrust, dan letusan gunung api. Upaya tersebut dilakukan melalui penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), latihan evakuasi berkala, serta integrasi edukasi kebencanaan dalam kegiatan belajar mengajar.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan hal itu saat membuka kegiatan Sharing Session bertajuk “Implementasi SPAB dan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust dan Letusan Gunung Api di Banten” di Kota Serang, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah tersebut merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026.
Abdul Muhari mengatakan, kesiapsiagaan bencana harus menjadi proses pembelajaran berkelanjutan. Menurutnya, aktivitas tektonik dan vulkanik tidak dapat dihentikan, sehingga upaya penanggulangan perlu difokuskan pada pengurangan risiko dan perlindungan keselamatan manusia.
“Kesiapsiagaan bencana itu bukan pembelajaran sekali untuk seumur hidup, melainkan pembelajaran seumur hidup. Kejadian bencananya sendiri tidak bisa kita hentikan. Namun, yang wajib kita lakukan sebagai manusia adalah mengurangi dampak risikonya. Karena itu, kunci utamanya terletak pada pembangunan infrastruktur gedung yang tahan gempa serta kesiapan manusianya,” ujar Abdul Muhari.
Ia menjelaskan, penerapan SPAB mencakup tiga aspek utama, yakni fasilitas sekolah yang aman terhadap bencana, regulasi dan standar operasional prosedur (SOP) evakuasi yang jelas, serta integrasi pendidikan kebencanaan dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Abdul Muhari, ketahanan bangunan dan kesiapan warga sekolah menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa saat bencana terjadi. Ia mencontohkan gempa Yogyakarta pada 2006 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang.
Karena itu, BNPB mendorong sekolah mengadakan simulasi evakuasi secara rutin, terutama bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Latihan tersebut diharapkan membantu siswa mengenali prosedur keselamatan dan mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Abdul Muhari juga menekankan pentingnya Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) untuk melatih masyarakat tetap mampu mengambil keputusan di tengah situasi darurat.
“Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) bertujuan membentuk kemampuan berpikir jernih di tengah situasi sekitar yang panik. Jika simulasi tidak dilatih sejak dini dan secara berkala, manusia cenderung terjebak dalam psikologi massa dan hanya ikut-ikutan berlari ke mana orang banyak pergi tanpa tahu apakah arah tersebut aman atau tidak,” katanya.
Ia menambahkan, edukasi kebencanaan tidak harus disampaikan melalui kurikulum khusus. Materi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran sehari-hari, seperti fisika, matematika, dan agama.
Kegiatan Sharing Session tersebut digelar LRB/MDMC PP Muhammadiyah sebagai bagian dari rangkaian Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2026 yang diselenggarakan BNPB bersama Pemerintah Provinsi Banten. (dop/arf)