JAVASATU.COM- ASTON Gresik Hotel & Conference Center menghadirkan batik lokal dalam balutan fesyen kekinian melalui gelaran Wastra Gresik, Melihat Gresik dengan Cara Berbeda pada 23–24 Oktober 2026.
Kegiatan ini menampilkan koleksi empat pengrajin batik Gresik melalui pameran dan peragaan busana yang melibatkan ibu-ibu komunitas serta staf hotel.

Empat pengrajin yang terlibat yakni Batik Gajah Mungkur, Batik Leles, Batik Giri, dan Batik Bangsawan.
Koleksi mereka diperagakan dengan pendekatan busana modern untuk menunjukkan bahwa batik lokal dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, termasuk aktivitas sehari-hari.
Marketing Communication Executive ASTON Gresik Hotel & Conference Center, Candy Vicha, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan budaya Gresik melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Melalui Wastra Gresik, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat Gresik dari perspektif yang berbeda, melalui kekayaan budaya, kreativitas, dan cerita yang dimiliki oleh para pengrajin lokal,” kata Candy, Selasa (27/10/2026).
Peragaan busana digelar pada hari kedua, Minggu (24/10/2026). Berbeda dari peragaan busana yang hanya melibatkan model profesional, kegiatan ini juga menghadirkan ibu-ibu dari komunitas dan staf ASTON Gresik sebagai peraga koleksi batik lokal.
Motif dan karakter khas batik Gresik dipadukan dengan gaya berbusana masa kini. Melalui pendekatan tersebut, batik ditampilkan tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pilihan fesyen yang dapat digunakan lintas generasi.
Selain peragaan busana, kegiatan ini menghadirkan pengalaman membatik bersama Batik Giri pada hari pertama. Pengunjung berkesempatan mengenal proses pembuatan batik secara langsung, mulai dari pengerjaan yang membutuhkan ketelitian hingga kreativitas dalam menghasilkan motif.
Keempat pengrajin juga memamerkan koleksi batik mereka di area display selama dua hari kegiatan. Pengunjung dapat melihat beragam produk sekaligus membeli karya yang diminati.
Kegiatan tersebut turut dihadiri rekan media, anggota komunitas IWAPI dan P2LIPI, serta tamu undangan lainnya.
Candy mengatakan pelestarian budaya perlu disertai upaya memperkenalkannya kepada generasi sekarang dan mendatang agar tetap mendapat apresiasi.
“Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan Gresik tidak hanya terletak pada perkembangan kota dan industrinya. Ada tradisi, keterampilan, serta kreativitas para pengrajin yang ikut membentuk identitas daerah,” pungkasnya. (bas/arf)






