JAVASATU.COM- Ketua Umum DPP KNPI, Tantan Taufik Lubis, menilai tragedi tewasnya driver ojek online (ojol), Affan Kurniawan, saat aksi demonstrasi di Jakarta menjadi momentum penting untuk mendorong reformasi internal Polri sekaligus pergantian Kapolri.

Affan tewas terlindas kendaraan taktis Barracuda Brimob ketika massa aksi tengah berlangsung. Peristiwa ini langsung memicu gelombang kritik publik terhadap cara kepolisian menangani unjuk rasa.
“Tragedi Affan bukan sekadar kecelakaan, ini cermin kegagalan sistemis dalam tubuh Polri. Perlu ada reformasi total, bahkan pergantian Kapolri,” tegas Tantan, Jumat (29/8/2025).
Tiga Masalah Utama di Tubuh Polri
Tantan memaparkan setidaknya ada tiga persoalan mendasar yang muncul dalam tragedi ini:
- Penggunaan kekuatan berlebihan. Barracuda, kendaraan taktis untuk konflik bersenjata, justru digunakan di tengah kerumunan warga sipil.
- Minim akuntabilitas. Meski tujuh anggota Brimob diamankan, publik meragukan transparansi penanganan kasus.
- Krisis kepercayaan publik. Insiden ini menambah daftar panjang citra negatif Polri usai Tragedi Kanjuruhan dan kasus lain.
“Kalau hanya anggota di lapangan yang disalahkan, sementara rantai komando tidak tersentuh, keadilan tidak akan tercapai,” tambahnya.
Dorongan Reformasi dan Pergantian Kapolri
Menurut KNPI, reformasi internal Polri sudah mendesak dilakukan. Beberapa langkah yang ditekankan antara lain:
- Evaluasi penggunaan kendaraan taktis,
- Peningkatan pelatihan HAM bagi aparat,
- Transparansi penyelidikan,
- Perubahan budaya institusi menuju pelayanan masyarakat.
Selain itu, Tantan menegaskan pergantian Kapolri adalah langkah strategis untuk menyegarkan kepemimpinan dan memulihkan kepercayaan publik.
“Kapolri harus bertanggung jawab secara moral. Regenerasi kepemimpinan dibutuhkan agar Polri kembali dipercaya rakyat,” ujarnya.
Respons Pemerintah
Meski desakan kian deras, Presiden Prabowo Subianto sejauh ini masih mempertahankan Kapolri. Pemerintah berjanji akan memberi dukungan penuh kepada keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab negara.
“Pergantian Kapolri hanyalah simbol, tapi yang lebih penting adalah perubahan sistem dan budaya Polri. Jika tidak, tragedi serupa hanya akan berulang,” tutup Tantan. (saf)