JAVASATU.COM- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M terasa semakin istimewa karena beriringan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi masyarakat Muslim Indonesia, Maulid yang di sejumlah daerah dikenal sebagai Grebeg Maulid bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara nilai Islam dan kekayaan budaya Nusantara.

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, MA, mengatakan bahwa esensi Maulid bukan sekadar memperingati kelahiran Rasulullah Saw., melainkan menghadirkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan.
Menurut Prof. Barizi, Nabi Muhammad SAW. merupakan figur al-Amin (manusia terpercaya) dan al-Kamil (manusia sempurna) dalam keteladanan. Karena itu, memperingati Maulid harus mendorong umat untuk mengenang, mencintai, mengidolakan, mencontoh, dan meneladani Rasulullah Saw.
“Bershalawat itu mengenang, mencintai, mengidolakan, mencontoh, dan meneladani Rasulullah Saw. dalam setiap perilakunya di dalam kehidupan,” ujar Prof. Barizi, Senin (24/8/2026).
Ia menjelaskan, sholawat tidak hanya menjadi ekspresi kecintaan kepada Rasulullah, tetapi juga menjadi sarana spiritual untuk meneguhkan iman, memperkuat Islam, dan menyucikan jiwa agar semakin dekat dengan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Dalam konteks keislaman dan keindonesiaan, Prof. Barizi melihat Grebeg Maulid sebagai tradisi yang memiliki dimensi sosial dan budaya. Maulid dapat menjadi ruang komunikasi masyarakat, sarana dakwah bagi para dai, sumber inspirasi intelektual bagi para penulis, sekaligus ruang refleksi bagi masyarakat untuk menentukan arah kehidupan.
Lebih jauh, Prof. Barizi menegaskan bahwa pesan utama Maulid adalah menghidupkan kembali misi kenabian, yaitu menghadirkan Islam sebagai agama yang mampu membangun kehidupan manusia secara utuh.
“Islam harus mampu membangun konsepsi kemanusiaan dalam berbagai aspek. Islam menempatkan manusia pada posisi puncak kekhalifahan,” katanya.
Menurutnya, Islam tidak hanya berbicara mengenai ritual individual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Islam harus mampu membentuk identitas dan karakter masyarakat dengan tetap menghargai perbedaan secara toleran serta membangun keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam.
Di tengah kondisi masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan moral, bahkan di kalangan masyarakat terdidik, Prof. Barizi menilai pesan akhlak Rasulullah Saw. semakin relevan. Ia menekankan bahwa akhlak dalam Islam bukan sesuatu yang statis, melainkan harus progresif dan transformatif.
Prof. Barizi, yang juga merupakan Anggota Dewan Pendidikan Kota Malang periode 2025–2030, memaknai akhlak sebagai kesadaran manusia mengenai arti dirinya dalam relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Karena itu, menurutnya, Islam dapat dipahami sebagai akhlak pembebasan, akhlak peradaban, sekaligus akhlak kemanusiaan, agama yang mendorong perubahan sosial, pembangunan peradaban yang rasional dan berkeadaban, serta tetap relevan dengan perkembangan zaman dan modernitas.
Dengan demikian, Maulid Nabi tidak seharusnya berhenti sebagai perayaan tahunan. Maulid adalah momentum untuk menghadirkan kembali akhlak dan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan, sehingga kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak hanya terdengar melalui lantunan shalawat, tetapi juga terlihat dalam karakter manusia dan kehidupan sosial. (ery/arf)