JAVASATU.COM- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Malang menggelar Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sebagai langkah strategis mengoptimalkan program ketahanan pangan Pemasyarakatan Jawa Timur pada awal 2026. Sidang digelar di kawasan Museum Pendjara Lowokwaroe, Senin (5/1/2026).

Sidang TPP tersebut membahas kebutuhan sumber daya manusia pembinaan di pusat ketahanan pangan SAE L’SIMA Ngajum. Sebanyak 28 warga binaan pemasyarakatan (WBP) diusulkan mengikuti program asimilasi di luar lapas. Hasilnya, 21 WBP dinyatakan memenuhi persyaratan administratif dan substantif.
Dari 21 WBP yang disetujui mengikuti asimilasi, dipastikan tidak terdapat warga binaan dengan perkara narkotika. Mayoritas merupakan WBP kasus kriminal umum, seperti pencurian, penganiayaan, serta perlindungan perempuan dan anak (PPA), yang telah memenuhi syarat pembinaan dan penilaian risiko.
Kepala Lapas Kelas I Malang, Teguh Pamuji, mengatakan sidang ini menjadi langkah percepatan menyusul berkurangnya jumlah WBP asimilasi pada akhir 2025 karena banyak warga binaan telah bebas murni.
“Sidang TPP ini kami lakukan sebagai percepatan di awal tahun agar program ketahanan pangan di SAE L’SIMA Ngajum dapat kembali berjalan optimal dengan dukungan SDM yang siap,” ujar Teguh.
Ia menegaskan, seluruh WBP yang disetujui mengikuti asimilasi merupakan warga binaan non-narkoba. Mayoritas berasal dari kasus kriminal umum seperti pencurian, penganiayaan, serta perkara perlindungan perempuan dan anak (PPA).
“Seleksi dilakukan secara ketat dan objektif. Tidak ada WBP kasus narkoba yang kami libatkan dalam program ini,” tegasnya.
Sebanyak 21 WBP tersebut akan menjalani asimilasi dengan penempatan terukur sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Mereka akan terlibat dalam sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang menjadi fokus pengembangan SAE L’SIMA sebagai pusat ketahanan pangan Pemasyarakatan Jawa Timur.
Menurut Teguh, program ini tidak hanya bertujuan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kemandirian dan peningkatan keterampilan kerja warga binaan.
“Kami ingin SAE L’SIMA tidak sekadar menjadi tempat pembinaan, tetapi juga pusat kontribusi nyata Pemasyarakatan bagi ketahanan pangan daerah,” pungkasnya.
Dengan tambahan 21 WBP tersebut, Lapas Malang berharap peran SAE L’SIMA Ngajum sebagai Pusat Ketahanan Pangan Pemasyarakatan Jawa Timur dapat kembali optimal dan memberikan dampak berkelanjutan. (dop/nuh)