email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 15 Oktober 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Punokawan Merdeka di Malang, Ludruk Jadi Ruang Kritik dan Edukasi Budaya

by Syaiful Arif
19 Agustus 2026

JAVASATU.COM- Semangat melestarikan budaya ludruk kembali dihidupkan melalui pagelaran “Punokawan Merdeka!” di Kota Malang. Pertunjukan yang mengusung konsep “Tontonan dan Tuntunan Berbudaya Ludrukan” itu menjadi ruang hiburan sekaligus menyampaikan kritik, nasihat, dan nilai kehidupan kepada masyarakat.

Foto: Javasatu.com

Pagelaran digelar di KARA Cafe Culture atau TosanAji.id Working Space, Jalan Cengger Ayam I, Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (18/8/2026). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyongsong Hari Radio Nasional ke-81 tahun.

“Luar biasa. Di sini menghadirkan empat tokoh, ada Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Keempat tokoh ini membawa kebenaran. Ini sepertinya perlu disebarkan ke setiap instansi dan OPD. Penting karena dalam menyebarkan kebenaran, di situ bisa menyentil penguasa dalam situasi dan kondisi yang ada sekarang ini,” kata Kepala BAKORWIL III Malang, Asep Kusdinar.

Pagelaran merupakan kolaborasi TosanAji.id bersama BAKORWIL III Malang, Ludruk Punokawan, LPP RRI Malang, Sido Muncul, KARA Cafe Culture, serta para budayawan BOLODEWE Bhumi Arema.

Pertunjukan menghadirkan empat tokoh Punokawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Keempat karakter tersebut diperankan Claudio Akbar Yudhistira, Alim Santoso, Supriadi, dan Siswanto.

Asep menilai Punokawan bukan sekadar tokoh penghibur. Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong membawa nilai keteladanan, kebaikan, serta pesan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Menurutnya, nilai-nilai yang dibawa Punokawan perlu terus disebarluaskan, termasuk kepada berbagai instansi, terutama sebagai bagian dari upaya menegakkan kebenaran dan menyampaikan pesan yang mudah dipahami masyarakat.

“Budayawan ludruk harus terus dilanjutkan. Jangan sampai berhenti. Kegiatan Punokawan seperti ini bisa menjadi rutinitas dan menghadirkan anak-anak muda sebagai penerusnya. Itu luar biasa,” ujar Asep.

Sementara itu, budayawan Suroso dari Pakis Aji Malang menjelaskan, empat tokoh Punokawan memiliki ruang luas untuk membicarakan berbagai persoalan kehidupan. Persoalan keluarga, komunitas, kelompok masyarakat, kepentingan politik hingga kepentingan negara dapat diangkat melalui cerita Punokawan.

“Kegiatan ini untuk mencoba menunjukkan bahwa Punokawan itu satu tokoh dengan empat orang yang bisa membicarakan segala hal. Ini menjadi simbol bahwa rakyat bisa membicarakan apa pun kepada negara dan masyarakat, sekaligus memberikan usulan-usulan yang baik untuk pemerintah dan kebaikan rakyat,” kata Suroso.

BacaJuga :

Tari Bedhaya Gandrungmanis Kembali Dipentaskan di Jakarta, Hidupkan Warisan Klasik Jawa

GBPH Yudaningrat Resmi Sandang Sertifikat Kurator Keris dari BNSP

Menurut Suroso, Punokawan dalam cerita Mahabharata merupakan simbol “momong”, yakni menemani, mengarahkan, memberikan koreksi, serta menyampaikan usulan dan tuntunan kepada siapa pun yang didampingi.

“Intinya, Punokawan ini adalah tokoh dalam satu pertunjukan cerita Mahabharata yang menjadi simbol momong kepada siapa saja. Tugasnya momong, memberikan koreksi dan memberikan usulan-usulan yang baik untuk apa pun,” ujarnya.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Punokawan Merdeka yang menjadikan guyonan sebagai pintu masuk untuk menyampaikan kritik, refleksi, dan pesan kehidupan. Di balik kelucuan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, terdapat nilai tentang keteguhan menghadapi tantangan, filosofi hidup, serta keberanian menjalankan peran tanpa kehilangan kegembiraan.

Di tengah pertunjukan, hadir pula tokoh keris Malang, Mpu Fanani, yang memberikan edukasi mengenai keris sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Nusantara yang diakui UNESCO.

Andri dari Radio Republik Indonesia (RRI) Malang menilai materi edukasi mengenai keris menjadi salah satu bagian menarik dalam pagelaran tersebut. Menurutnya, Punokawan Merdeka berhasil membuka pemahaman masyarakat bahwa keris tidak semata-mata berkaitan dengan hal mistis.

“Sangat daging semua. Tadi disampaikan salah satunya membahas masalah keris. Ini menarik karena mungkin orang belum tahu bahwa keris itu bukan sekadar mistis. Punokawan Merdeka memerdekakan edukasi mengenai keris secara terbuka,” kata Andri.

Ia menilai penjelasan Mpu Fanani mengenai filosofi keris penting untuk generasi saat ini karena keris mengandung berbagai pengetahuan dan nilai budaya.

“Secara filosofi keris dibahas oleh Mpu Fanani dan sangat bagus untuk edukasi generasi saat ini karena mengandung berbagai macam ilmu. UNESCO pada 2005 menetapkan keris sebagai warisan budaya takbenda. Ini sangat penting karena negara lain sudah mengincar keris menjadi warisan bagi negaranya,” ujarnya.

Andri juga memberikan apresiasi kepada TosanAji.id dan rekan-rekan Punokawan yang dinilainya telah membuka ruang edukasi budaya melalui pertunjukan tersebut.

“Indonesia sudah merdeka dengan memerdekakan keris sebagai warisan budaya takbenda. Selamat untuk teman-teman Tosan Aji dan juga rekan-rekan Punokawan. Bagus sekali,” kata Andri.

Melalui Punokawan Merdeka, ludruk tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang dialog budaya. Guyonan menjadi sarana untuk menyampaikan kritik, nasihat, koreksi, sekaligus nilai kehidupan dengan cara yang dekat dengan masyarakat.

Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dalam kebudayaan bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan seni tradisi tetap mampu berbicara kepada masyarakat saat ini dan generasi muda di masa depan.

Wahyu Eko Setiawan, CEO TosanAji.id sekaligus pemrakarsa kegiatan, menyampaikan terima kasih atas suksesnya pagelaran tersebut.

Ia berharap kegiatan itu menjadi bagian dari upaya kolaboratif menjaga keberlangsungan budaya ludruk sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap seni dan budaya asli bangsa.

Ia juga menekankan semangat merdeka dalam berkarya sebagai bagian dari upaya membangun bangsa melalui pelestarian budaya.

“Pagelaran Punokawan Merdeka ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ludruk melalui regenerasi. Kami berharap keterlibatan generasi muda dan kolaborasi berbagai pihak dapat membuat seni tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, kritis, dan relevan dengan persoalan masyarakat,” kata Wahyu Eko Setiawan. (saf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Bakorwil MalangbudayaKota MalangLudrukSeni

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Quick Wins Kapolri, Polres Gresik Tangkap DC Pinjol, Uang Korban Dikembalikan

GRIB JAYA Dorong Tes Narkoba Massal Seluruh Anggota DPRD Kabupaten Malang

Polres Malang Salurkan 30 Rombong UMKM untuk Aremania

Trans Jatim Koridor 2 Malang Tunggu Keputusan Provinsi, Titik Berangkat Diperdebatkan

SAE L’SIMA Ngajum Tanam Bibit Kopi, Libatkan Murid SD

Operasi Sikat Semeru, Polisi Ungkap Pencurian Laptop di UB

Polisi Tangkap Terduga Pencuri iPhone saat Bantengan di New Wendit Malang

Klinik Annahdlah Dukun Gresik Layani Prolanis dan Pap Smear Gratis

Sidak Revitalisasi Sekolah di Majalengka, Komisi III Temukan Jarak Rangka Atap Berbeda

Satpol PP Kota Malang Sosialisasi Ciri Rokok Ilegal ke Pedagang Pasar

Prev Next

POPULER HARI INI

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

Bupati Yani Ingatkan Ancaman Ekonomi Global saat Susun Pembangunan Gresik 2027

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

Hiswana Migas Malang Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg Aman Jelang Lebaran 2026

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

BERITA LAINNYA

Quick Wins Kapolri, Polres Gresik Tangkap DC Pinjol, Uang Korban Dikembalikan

GRIB JAYA Dorong Tes Narkoba Massal Seluruh Anggota DPRD Kabupaten Malang

Polres Malang Salurkan 30 Rombong UMKM untuk Aremania

Trans Jatim Koridor 2 Malang Tunggu Keputusan Provinsi, Titik Berangkat Diperdebatkan

SAE L’SIMA Ngajum Tanam Bibit Kopi, Libatkan Murid SD

Operasi Sikat Semeru, Polisi Ungkap Pencurian Laptop di UB

Polisi Tangkap Terduga Pencuri iPhone saat Bantengan di New Wendit Malang

Klinik Annahdlah Dukun Gresik Layani Prolanis dan Pap Smear Gratis

Sidak Revitalisasi Sekolah di Majalengka, Komisi III Temukan Jarak Rangka Atap Berbeda

Satpol PP Kota Malang Sosialisasi Ciri Rokok Ilegal ke Pedagang Pasar

Prev Next

POPULER MINGGU INI

GIBM Targetkan Bentuk Pengurus hingga Kecamatan di Blitar Akhir 2026

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Bakti Ramadan Pramuka MA An-Nur Bululawang, Bersihkan Masjid hingga Bagi Takjil

Mahasiswa Unesa Angkat Kisah Wandu Ludruk Lewat Film Dokumenter ‘Panggung Wandu’

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved