JAVASATU.COM- Sebanyak 33 desa dari Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan studi tiru pengelolaan dan pengembangan unit usaha BUMDes ke BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (7/10/2026).

Rombongan terdiri dari 17 desa dari Kecamatan Malaka Tengah dan 16 desa dari Kecamatan Malaka Barat.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari pengelolaan BUMDes sekaligus menggali potensi usaha yang dapat dikembangkan di masing-masing desa.
Salah satu yang menjadi perhatian rombongan adalah budidaya ikan air tawar, khususnya lele, yang dikembangkan BUMDes Ardiles.
Plt Camat Malaka Tengah Fransiskus Seran mengatakan studi tiru dilakukan karena pengelolaan sejumlah BUMDes di wilayahnya masih menghadapi kendala. Rombongan ingin mendapatkan pengalaman dari BUMDes yang dinilai telah berkembang di Kabupaten Malang.
“Kami ingin belajar, mendapatkan informasi, ilmu bagaimana caranya menghidupkan, memanage BUMDes yang di wilayah kami yang selama ini kelihatannya mati suri. Mungkin kami mendapatkan masukan dari BUMDes terbaik yang mungkin salah satu BUMDes terbaik di Kabupaten Malang ini,” kata Fransiskus.
Menurut Fransiskus, potensi Desa Ardimulyo memiliki sejumlah kesamaan dengan wilayah di Kecamatan Malaka Tengah. Kesamaan tersebut antara lain sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
“Dapat kami gambarkan bahwa secara topografi kewilayahan, potensi-potensi yang ada di wilayah Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari ini tipikalnya tidak berbeda jauh di wilayah kami. Ada potensi pertaniannya, peternakannya, perikanannya, ada hal-hal lain lagi,” ujarnya.
Budidaya Lele Jadi Perhatian
Budidaya ikan air tawar menjadi salah satu unit usaha yang menarik perhatian rombongan dari Malaka. Fransiskus menyebut pengembangan budidaya lele masih minim di wilayahnya.
“Perikanan terutama ikan air tawar, dalam hal ini budidaya ikan lele. Ini menjadi suatu hal yang kami mendapat masukan banyak sehingga potensi yang mungkin sedemikian dekat ini mungkin kami bisa minimal mendekati pengembangan potensi yang ada di wilayah Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari ini,” katanya.
Camat Malaka Barat Rofinus Seran mengatakan sektor peternakan, pertanian dan perikanan menjadi bagian yang dipelajari dalam kunjungan tersebut.
Ia menyebut budidaya lele sebagai salah satu potensi yang akan dipertimbangkan untuk dikembangkan di Malaka.
“Dengan adanya studi tiru di Singosari ini, kami sangat berterima kasih karena kedatangan kami ini mendapatkan hal yang sangat luar biasa dengan adanya studi tiru ini menyangkut mengenai peternakan, pertanian maupun perikanan, dalam hal ini lele yang kami lihat, kami akan lakukan di Kabupaten Malaka,” ujar Rofinus.
Menurut Rofinus, terdapat sejumlah kesamaan potensi antara wilayah Malaka dan Singosari. Namun, pengembangan ikan air tawar menjadi salah satu hal yang masih minim di Malaka.
Saat ditanya mengenai penerapan konkret yang akan dibawa ke Malaka, Rofinus menyebut budidaya ikan air tawar menjadi salah satu yang akan dipelajari untuk dikembangkan.
“Yang diterapkan di sana itu ikan lelenya bisa dengan ikan air tawar yang diterapkan di sana,” ujarnya.
BUMDes Ardiles Bangkit Lewat Kolaborasi
Camat Singosari Wellem mengatakan kedatangan rombongan dari Kabupaten Malaka menjadi kesempatan bagi kedua wilayah untuk saling bertukar pengalaman dalam pengelolaan BUMDes.
Menurut Wellem, Pemerintah Kecamatan Singosari terus mendorong pengembangan BUMDes. Namun, masih terdapat sejumlah BUMDes yang menghadapi kendala sehingga membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.
“Dengan kehadiran dan studi tiru dari Kabupaten Malaka ini, tentunya kita berbangga juga dan kita bisa sharing ilmu, kita berkolaborasi. Mana yang baik dari kita juga akan dibawa di Malaka, dan kita sharing apa yang baik di Malaka juga akan kita terapkan di sini,” kata Wellem.
Wellem mengatakan pengembangan BUMDes di Kecamatan Singosari dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan media.
“Memang ada beberapa yang masih berkendala, karena memang melihat situasi yang ada sekarang ini memang perlu kita berikan support, semangat bersama-sama. Yang terpenting adalah adanya kerja sama yang baik,” ujarnya.
“Kita bikin kolaborasi pentahelik antara pemerintah, dunia usaha, kemudian dari masyarakat, juga dukungan dari media, kita bersama-sama untuk berupaya mengembangkan BUMDes dan BUMDesma yang ada di Kecamatan Singosari ini,” sambung Wellem.
Terkait BUMDes Ardiles, Wellem mengatakan unit usaha tersebut pernah mengalami masa stagnasi sebelum berkembang melalui pendampingan dan kolaborasi berbagai pihak.
“BUMDes Ardiles ini dulu memang sudah pernah masa-masa yang masih stagnan dulu, tapi dengan adanya bimbingan bersama, kita melakukan kolaborasi bersama dengan support dari semua pihak. Alhamdulillah ini BUMDes Ardiles ini sudah semakin berkembang,” katanya.
Wellem mengatakan BUMDes Ardiles juga telah memberikan dukungan terhadap ketahanan pangan, termasuk untuk mendukung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di Singosari.
“Bahkan sudah memberikan support terhadap ketahanan pangan juga khususnya untuk mensupport SPPG yang ada di Singosari,” ujarnya.
Selain itu, Wellem menyebut hasil budidaya ikan BUMDes Ardiles ke depan akan dikembangkan agar dapat menembus pasar ekspor.
“Bahkan ini ke depan juga akan dikembangkan untuk bisa diekspor dari hasil budidaya ikan yang ada di BUMDes Ardiles ini,” kata Wellem.
BUMDes Ardiles Siapkan Kebun Alpukat
Direktur Utama BUMDes Ardiles Ardimulyo, Misbahul Munir, mengatakan kunjungan 33 desa dari Kabupaten Malaka menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman sekaligus menjadi tantangan bagi BUMDes Ardiles untuk terus mengembangkan usaha.
“Menurut saya sih ini merupakan suatu kegiatan kunjungan yang sangat menarik. Dan pertama, kita bisa bertukar ilmu dengan teman-teman, dengan saudara-saudara kita dari jauh dari Kabupaten Malaka, khususnya Kecamatan Malaka Barat dan Malaka Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur,” kata Munir.
Menurut Munir, kunjungan tersebut juga menjadi motivasi untuk mengembangkan kawasan BUMDes Ardiles sebagai kawasan edukasi.
“Untuk kami sendiri, ini menjadi peluang, tantangan bagi kami bahwa BUMDes ini bisa menjadikan motivasi kami untuk ke depannya bisa menjadi lebih maju dan cita-cita kami untuk menjadikan area kawasan kami ini menjadi suatu kawasan edukasi,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Munir mengatakan ada peserta dari Malaka yang masih ragu menjalankan program BUMDes, khususnya program ketahanan pangan dengan alokasi 20 persen.
“Mereka ini kurang berani untuk menjalankan program BUMDes, khususnya ketahanan pangan yang 20%. Mereka takut mau melangkah. Tadi saya gambarkan yang penting kita jalan dulu, yang penting kita tetap pendampingan dinas-dinas terkait dan musyawarah desa sebagai acuan itu tetap diperhatikan,” katanya.
Untuk pengembangan pada 2027, BUMDes Ardiles menyiapkan rencana usaha perkebunan alpukat. Pengembangan tersebut akan melibatkan akademisi untuk memperkuat aspek agribisnis.
“Kami rencana mau buat suatu perkebunan alpukat. Di sana nanti kami mau menggandeng akademisi bagaimana sisi agribisnisnya bisa mengenal di situ,” ujar Misbahul.
Pengembangan tersebut juga direncanakan terintegrasi dengan sektor perikanan. Limbah air kolam ikan akan dimanfaatkan untuk tanaman alpukat.
“Kami mau memanfaatkan limbah air kolam untuk tanaman di perkebunan alpukat. Di situ nutrisinya sangat bagus untuk perkembangan perkebunan alpukat,” katanya.
Hasil Studi Tiru Dibawa ke Malaka
Fransiskus mengatakan hasil diskusi dengan Pemerintah Kecamatan Singosari, Pemerintah Desa Ardimulyo dan pengurus BUMDes Ardiles menjadi bahan yang akan dibawa pulang untuk diterapkan di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.
Ia mengatakan rombongan datang dari Malaka untuk mendapatkan masukan mengenai pengelolaan dan pengembangan unit usaha BUMDes.
“Kami sangat-sangat berharap, makanya kami jauh-jauh datang dari Malaka, Provinsi NTT, menyeberang lautan sampai ke Pulau Jawa, teristimewa di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang dan Kecamatan Singosari, lebih khusus Desa Ardimulyo ini adalah bahwa kami ingin mendapatkan input,” kata Fransiskus.
Fransiskus menyebut pengalaman yang diperoleh dari BUMDes Ardiles akan menjadi bahan bagi desa-desa di Malaka dalam mengembangkan pengelolaan BUMDes masing-masing.
“Kemajuan-kemajuan yang telah diraih atau dicapai di desa ini, kami bisa membawa perubahan ini minimal, walaupun tidak banyak tapi sedikit memberikan dampak perubahan di wilayah desa kami, terutama di masyarakat dalam hal pengelolaan BUMDesnya ini,” pungkas Fransiskus. (saf/saf)