JAVASATU.COM-MALANG- Berkreasi dari alam, Pasukan Dongkel Liar (PDL) berkreasi membuat tanaman Bonsai bernilai seni tinggi. Dari bibit menjadi bahan Bonsai dan disentuh oleh tangan kreatif secara otodidak. Lahirlah tanaman Bonsai bernilai seni tinggi.
Masyarakat yang tergabung di paguyuban PDL ada sejak tahun 2020 silam. Mereka rata-rata memiliki profesi sebagai pegawai swasta. Sesama hobi dalam hal seni Bonsai, mereka sepakat berkreasi bersama melalui tanaman Bonsai. Mereka biasa berkumpul untuk berdiskusi tentang Bonsai di Sekretariat, tepatnya di Perumahan Bumi Mondoroko Raya blok AM, No 69, Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Jawa Timur.

Ketua Paguyuban Pasukan Dongkel Liar (PDL), Rofi’i mengatakan, berdirinya PDL berawal dari sesama hobi tentang Bonsai. Seringnya nongkrong sambil diskusi tentang bonsai, menjadi pemicu semangat para anggota untuk berkarya di dunia Bonsai.
“Kini anggota PDL ada 20 orang tersebar di Malang Raya. Kita awal berdirinya tahun 2020. Iya kita rata-rata para pekerja atau karyawan swasta. Sering kumpul bahas tentang Bonsai. Kita belajar secara otodidak” jelas Rofi’i ditemui media ini, Selasa (27/9/2022) malam saat mengadakan lomba perdana Bonsai di Perumahan Banjararum View, Watugede Singosari, Kabupaten Malang.
Dalam hal jenis tanaman yang dijadikan Bonsai, dirincikan Rofi’i, ada banyak macam tanaman seperti, serut, sisir, loa, rukem, gulgum, sancang, dewandaru, kimeng, sarkumik, amplas hitam, asem jawa, cendrawasih, kurmin, murbei, santigi, serbin, cawista, hokiantea, benjamin, cemara buaya, sianci, ulmus micro.
“Teknisnya, dari bibit dibersihkan, dicari karakter, kemudian ditanam dalam wadah yang ditentukan hingga tumbuh. Setelah itu dilakukan pemilahan kemudian dibentuk sesuai dengan keinginan. Dari bibit sampai menjadi tanaman Bonsai prosesnya 5 sampai 10 tahun” urai dia.
Meski paguyubannya dikategorikan baru, kata Rofi’i dalam hal pasar lumayan cukup lancar.
“Kalau dari pasar atau peminat pembeli, lumayan cukup lancar dan lumayan cukup tertarik dari masyarakat. Ada yang pesan. Intinya ini kan hobi, jika ditanya berapa harga per tanaman Bonsai jika dijual. Itu relatif. alau yang paling diminati adalah Bonsai Serut” terangnya.
Terkahir dia berharap, bagi para anggotanya untuk terus belajar dalam hal menggeluti seni Bonsai yang tergabung di paguyuban PDL.
“Kita harus terus belajar dan sering mengikuti pameran-pameran baik di Malang Raya maupun luar kota bahkan luar negeri” ujar Rofi’i.
“Jika anda ingin berbagi pengalaman, berdiskusi tentang Bonsai, bahkan bergabung dengan paguyuban PDL, silahkan hubungi ke nomor telepon: 0857 9370 8298” tandasnya.

Terkait lomba bonsai, nampak tanaman Bonsai berjajar di tempat yang sudah disediakan. Juri dengan teliti menilai Bonsai satu per satu.
Menurut Juri yang sekaligus pengrajin Bonsai sejak lama, Nanto. Karya tanaman Bonsai yang dihasilkan oleh pengrajin paguyuban PDL sudah kelas menengah. Baik pengetahuan serta cara mengkreasikan seni dalam dunia Bonsai.
“Sambil sering berkreasi, bereksplor dan yang paling penting sering mengikuti pameran. Itu yang bisa menambah pengalaman serta menaikkan kelas seni per-bonsai-an secara individu maupun kelompok” kata Nanto ditemui media ini usai melakukan penjurian.
Uniknya tanaman Bonsai, kata Nanto, antara tanaman sau dengan lainnya tidak ada yang sama. Karena seniman bonsai memiliki ciri khas dan gaya masing-masing.
“Kalau dari teknik dasar di seni bonsai itu ada yang istilah namanya, kaki, tangan, kepala dan muka. Itu secara istilah. Tetapi untuk keindahan dan keserasian itu tergantung dari pengrajin atau seniman masing-masing. Taste seninya jadi penentu karya yang dihasilkan” terang pengrajin Bonsai yang bergelut sejak tahun 2004 ini.
“Kalau di tahun 2022 ini, karakter tanaman Bonsai yang ditonjolkan adalah kaki atau pengakaran. Jadi tidak ada tanaman Bonsai yang sempurna. Itu semua relatif tergantung penikmat. Karena seni adalah relatif. Contohya, kalau bonsai itu banyak yang suka, brati itu bagus” imbuhnya.
Terakhir, Nanto berpesan kepada paguyuban PDL terus bersemangat kreasi melalui seni Bonsai.
“Sering ikut pameran dan sering mencari referensi untuk menambah pengalaman dalam menggeluti seni Bonsai” pesan Nanto.

Sementara itu, salah satu panitia pelaksana pameran dan lomba Bonsai karya PDL, Suparman mengaku lega dan puas bisa menyelenggarakan pameran dan lomba Bonsai secara internal paguyuban.
“Persiapannya cuma seminggu untuk membuat pameran ini. Semoga ke depan pameran dan lombanya bisa meriah. Rencana tahun depan kita akan berkolaborasi dengan pecinta atau pengrajin Bonsai lain untuk membuat pameran bersama, baik kota/kabupaten di Indonesia. PDL juga memiliki rencana akan membuat perlombaan seni tanaman Bonsai kolaborasi dengan paguyuban atau komunitas lain” ujar Suparman. (Saf)