JAVASATU.COM- Guru Besar Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., menggagas konsep Kampus Ekologi yang memadukan sains, kearifan lokal, dan spiritualitas untuk membangun kesadaran serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

Gagasan tersebut disampaikan Prof Barizi dalam agenda Visiting Professor di Politeknik Pertanian dan Peternakan (Poltana) Mapena, Tuban. Menurutnya, upaya mengatasi krisis lingkungan tidak cukup mengandalkan teknologi dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
Ia menilai kerusakan hutan, pencemaran sungai, degradasi tanah, dan persoalan sampah menunjukkan pentingnya membangun kesadaran ekologis yang disertai etika dan tanggung jawab moral.
“Jika sains modern membantu manusia membaca alam, tasawuf membantu manusia membaca dirinya ketika berhadapan dengan alam,” demikian inti pemikiran yang disampaikan Prof Barizi dalam pemaparannya, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Prof Barizi, alam tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai sumber keuntungan material. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai hamba sekaligus khalifah untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan menjaga keseimbangan kehidupan.
Ia menjelaskan, konsep tazkiyat al-nafs atau penyucian jiwa serta sikap zuhud memiliki relevansi dalam membangun etika lingkungan. Zuhud, dalam konteks tersebut, bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, melainkan mengendalikan kepentingan material agar tidak mendorong eksploitasi alam secara berlebihan.
Konsep Kampus Ekologi yang ditawarkannya bertumpu pada tiga unsur utama. Sains berperan menyediakan data dan penjelasan empiris, kearifan lokal menghadirkan pengalaman masyarakat dalam merawat lingkungan, sedangkan spiritualitas menjadi landasan nilai dan tanggung jawab moral.
Prof Barizi menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kampus juga perlu membentuk sumber daya manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab serta memahami batas pemanfaatan sumber daya alam.
Dalam penerapannya, pendidikan ekologi dapat dilakukan melalui pembelajaran perubahan iklim, pencemaran, dan degradasi lahan yang dipadukan dengan kegiatan pelestarian lingkungan. Mahasiswa juga dapat belajar langsung dari petani, masyarakat pesisir, dan komunitas sekitar hutan mengenai praktik pengelolaan alam yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut dinilai relevan bagi perguruan tinggi di bidang pertanian dan peternakan. Pengembangan ilmu terapan dan pemanfaatan sumber daya alam perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta dampaknya bagi generasi mendatang.
Melalui perspektif tasawuf, Prof Barizi juga mengaitkan kesalehan dengan perilaku manusia terhadap lingkungan. Menjaga sumber air, merawat tanah, mengurangi sampah, dan mengendalikan konsumsi berlebihan merupakan bentuk tanggung jawab yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam agenda Visiting Professor di Poltana Mapena Tuban tersebut, gagasan Kampus Ekologi diperkenalkan sebagai pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat, dan nilai-nilai spiritual dalam membangun kesadaran lingkungan. (arf/arf)