email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Jumat, 26 Juni 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Kebijakan Fiskal Berkelanjutan dan Inklusif di Era Transisi Hijau dan Digitalisasi Nasional

by Javasatu
4 November 2025
Dela Amanda Putri. (Foto: dok. pribadi)

OPINI

Kebijakan Fiskal Berkelanjutan dan Inklusif di Era Transisi Hijau dan Digitalisasi Nasional

Oleh: Dela Amanda Putri, Mahasiswa FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Kebijakan fiskal merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pembangunan nasional yang berkelanjutan dan inklusif. Dalam konteks global yang diwarnai perubahan iklim, digitalisasi ekonomi, serta meningkatnya ketimpangan sosial, peran kebijakan fiskal kini tidak hanya menjaga keseimbangan anggaran, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk mencapai keadilan sosial, efisiensi energi, dan pembangunan hijau.

Menurut Sachs (2015), pembangunan berkelanjutan menuntut adanya keseimbangan antara dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Karena itu, kebijakan fiskal modern perlu bertransformasi menjadi fiskal hijau (green fiscal policy) dan fiskal inklusif (inclusive fiscal policy) agar mampu menjawab tantangan multidimensional tersebut.

Di Indonesia, arah kebijakan fiskal kini berfokus pada reformasi sistem pajak, peningkatan transfer fiskal ke daerah, dan penguatan belanja sosial untuk mengurangi ketimpangan. Selain itu, digitalisasi fiskal mempercepat lahirnya kebijakan fiskal adaptif melalui penggunaan big data, sistem audit digital, serta transparansi anggaran berbasis teknologi.

Pemerintah Indonesia, sejalan dengan rekomendasi OECD (2025), telah memulai berbagai langkah seperti digitalisasi subsidi sosial, penerapan pajak progresif digital, serta pembiayaan proyek energi terbarukan. Langkah-langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di era transisi hijau.

Permasalahan

Meski arah kebijakan fiskal Indonesia sudah menuju keberlanjutan dan inklusivitas, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, subsidi sosial kerap tidak tepat sasaran akibat keterbatasan data penerima manfaat. Kedua, transfer fiskal antar daerah belum efektif dalam mendorong pemerataan pembangunan karena masih timpangnya kapasitas fiskal antarwilayah.

Selain itu, adaptasi kebijakan fiskal terhadap isu perubahan iklim juga masih lemah. Meskipun telah diperkenalkan pajak karbon dan instrumen hijau lainnya, efektivitasnya rendah akibat lemahnya pengawasan serta resistensi dari sektor industri.

Kurangnya integrasi digitalisasi fiskal juga menghambat efektivitas pengawasan terhadap pengeluaran dan bantuan sosial secara real-time. Tantangan utama kebijakan fiskal berkelanjutan bukan hanya pada tahap formulasi, melainkan juga pada implementasi yang akuntabel dan berdampak langsung bagi masyarakat serta lingkungan.

Pembahasan

1. Konsep Kebijakan Fiskal Berkelanjutan dan Inklusif

Kebijakan fiskal berkelanjutan menitikberatkan pada efisiensi penggunaan sumber daya ekonomi dan lingkungan. Ernst et al. (2025) menyebutkan bahwa kebijakan fiskal inklusif mampu memperkuat pasar tenaga kerja sekaligus menekan emisi karbon.

Instrumen fiskal hijau seperti pajak karbon, subsidi energi terbarukan, dan anggaran lingkungan menjadi bukti konkret integrasi aspek ekologi ke dalam kebijakan ekonomi. Pemerintah juga memperluas kebijakan fiskal inklusif dengan memperkuat perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja hijau, dan partisipasi masyarakat dalam transisi energi.

2. Strategi Fiskal Inklusif
(Sumber gambar: Dela Amanda Putri)

Bagan di atas menunjukkan empat strategi utama pelaksanaan kebijakan fiskal inklusif, yaitu:

  1. Subsidi Sosial – Memberikan dukungan langsung kepada masyarakat berpendapatan rendah, meski dampaknya masih terbatas oleh besaran anggaran.

  2. Kebijakan Pajak Progresif – Meningkatkan keadilan ekonomi dengan beban pajak lebih besar pada kelompok berpenghasilan tinggi.

  3. Transfer Fiskal – Mendorong pemerataan pembangunan melalui alokasi dana ke daerah, meski terkendala kapasitas fiskal yang tidak merata.

  4. Platform Digital untuk Bantuan Sosial – Mengoptimalkan teknologi guna meningkatkan akurasi dan transparansi penyaluran bantuan.

Menurut Musgrave & Musgrave (1989), kerangka fiskal inklusif adalah fondasi stabilitas sosial berkelanjutan. Reinhart & Rogoff (2010) menambahkan bahwa inklusivitas fiskal mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap kebijakan nasional.

3. Sumber Pendanaan Berkelanjutan
(Sumber gambar: Dela Amanda Putri)

Sumber pendanaan berkelanjutan di Indonesia terbagi menjadi dua tingkat:

a. Tingkat Pusat

  • Kementerian Keuangan: Mengelola instrumen seperti Obligasi Hijau (Green Bonds) untuk proyek ramah lingkungan.

  • BPDLH (Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup): Mengelola dana pelestarian lingkungan dan perubahan iklim.

  • BLU (Badan Layanan Umum): Memungkinkan pengelolaan dana publik secara mandiri untuk program berkelanjutan.

    BacaJuga :

    OPINI: Smart Kampung Banyuwangi dan Transformasi Pelayanan Publik

    OPINI: Pelayanan Publik Unggul Berawal dari Integrasi Tata Kelola dan Digitalisasi

b. Tingkat Daerah

  • Bantuan Keuangan Umum dan Khusus: Dana dari pusat ke daerah untuk proyek berkelanjutan.

  • Pendanaan Proyek Spesifik: Termasuk kerja sama dengan lembaga internasional dan sektor swasta.

Skema Penyaluran Anggaran:
Mekanisme Community-Based Targeting (CBT) memastikan masyarakat terlibat langsung dalam menentukan prioritas pendanaan agar anggaran lebih efektif dan tepat sasaran.

4. Isu dan Tren Terkini

Isu fiskal berkelanjutan saat ini berfokus pada transisi energi hijau, digitalisasi keuangan publik, dan penguatan pajak progresif. OECD (2025) menyebut big data sebagai alat penting untuk memantau efektivitas belanja sosial secara real-time.

Doğan et al. (2025) menegaskan bahwa pengeluaran fiskal lingkungan berkontribusi pada penurunan emisi karbon, sedangkan Sun & Razzaq (2022) menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal dapat mendorong inovasi hijau di daerah.

Arah kebijakan fiskal global kini bergerak menuju integrasi fiskal hijau dan sosial yang saling memperkuat, mewujudkan efisiensi fiskal sekaligus keberlanjutan planet.

Kesimpulan

Kebijakan fiskal berkelanjutan dan inklusif menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional yang adil, hijau, dan tangguh terhadap krisis. Dalam konteks modern, kebijakan fiskal berperan tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga alat sosial dan ekologis.

Strategi seperti subsidi sosial, pajak progresif, transfer fiskal, dan platform digital terbukti memperkuat keadilan sosial serta kepercayaan publik terhadap pemerintah. Namun, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada kapasitas institusional dan digitalisasi fiskal nasional.

Untuk itu, Indonesia perlu memperkuat koordinasi lintas lembaga, mengembangkan big data fiscal management, dan mengintegrasikan prinsip hijau serta inklusif ke dalam setiap kebijakan publik. Dengan langkah konsisten, Indonesia berpotensi menjadi pionir dalam tata kelola fiskal yang efisien, adil, dan berkelanjutan. (*)

*Artikel ini untuk tugas perkuliahan

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: OpiniUntag Banyuwangi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Bakorwil Malang Gandeng PWI Jatim Perkuat Narasi Malang Raya Megapolitan

Wabup Alif Sebut Masa Depan Gresik Ditentukan Desa

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Malang Bangun 7 Sumur Bor untuk Ribuan Warga

Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Remaja, Siap Hadapi Ancaman Modern

Gresik Kejar Target Sanitasi Aman, Sekda Dorong Percepatan Akses Air Bersih

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

Kapolres Gresik Ganjar Tim Pengungkap BBM Ilegal dan Narkoba

Anggaran Dinkes Kabupaten Malang Rp475 Miliar Disorot, Transparansi Dipertanyakan

Mediasi Gugatan Rumah Bocor di PN Malang Gagal, Tergugat Hanya Tawarkan Rp2 Juta

Industri Gresik Utara Melaju, SDM Lokal Siap?

Prev Next

POPULER HARI INI

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Umpatan “Ndasmu” Menurut Rasa Bahasa Jawa

HMD Gemas Wonosobo Siapkan Aksi Damai Dukung Program MBG, Soroti Kebijakan Baru BGN

Artmeru Gallery Buka Pameran Perdana di Kota Malang, Tampilkan 22 Perupa Nasional

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

BERITA LAINNYA

Bakorwil Malang Gandeng PWI Jatim Perkuat Narasi Malang Raya Megapolitan

Wabup Alif Sebut Masa Depan Gresik Ditentukan Desa

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Malang Bangun 7 Sumur Bor untuk Ribuan Warga

Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Remaja, Siap Hadapi Ancaman Modern

Gresik Kejar Target Sanitasi Aman, Sekda Dorong Percepatan Akses Air Bersih

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

Kapolres Gresik Ganjar Tim Pengungkap BBM Ilegal dan Narkoba

Anggaran Dinkes Kabupaten Malang Rp475 Miliar Disorot, Transparansi Dipertanyakan

Mediasi Gugatan Rumah Bocor di PN Malang Gagal, Tergugat Hanya Tawarkan Rp2 Juta

Industri Gresik Utara Melaju, SDM Lokal Siap?

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Banner “Usir Mahasewa” di Aksi Dukung MBG, Budayawan: Tak Ada Budaya Usir-Mengusir di Malang

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Umpatan “Ndasmu” Menurut Rasa Bahasa Jawa

Dosen UIZ Gresik Jadi Pembicara Internasional di Kampus Turki

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved