OPINI
Keterbatasan Kebijakan Fiskal dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro
Oleh: Raniah Salsabila Anugerah Putri – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Stabilitas ekonomi makro merupakan kondisi fundamental yang harus dijaga oleh setiap negara agar proses pembangunan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Stabilitas ini tercermin dari inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang konsisten, tingkat pengangguran yang rendah, serta kondisi fiskal dan keuangan negara yang sehat. Dalam kerangka kebijakan ekonomi nasional, kebijakan fiskal menjadi salah satu instrumen utama pemerintah untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Dalam teori ekonomi makro, kebijakan fiskal kerap diposisikan sebagai instrumen utama pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro. Melalui pengaturan pajak, belanja negara, dan pembiayaan anggaran, kebijakan fiskal diyakini mampu mengendalikan inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menekan tingkat pengangguran. Namun, sebagai sebuah opini kontradiksi, pandangan ini tidak sepenuhnya dapat diterima tanpa kritik.
Kebijakan fiskal tidak selalu menjadi solusi yang efektif bagi stabilitas ekonomi makro. Dalam banyak kondisi, kebijakan ini justru berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan baru apabila tidak dikelola secara hati-hati, terukur, dan selaras dengan kondisi struktural ekonomi suatu negara. Di sisi lain, kebijakan fiskal memang merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi makro menuntut kebijakan fiskal yang tidak hanya responsif terhadap kondisi ekonomi jangka pendek, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Dengan mengatasi tantangan struktural, mendorong inovasi kebijakan, serta menjaga disiplin fiskal, kebijakan fiskal berpotensi menjadi instrumen yang efektif dalam menciptakan stabilitas ekonomi makro yang inklusif dan berkelanjutan.
Pentingnya Stabilitas Ekonomi Makro
Stabilitas ekonomi makro tetap menjadi tujuan yang sangat penting karena menentukan keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Inflasi yang terkendali berperan menjaga daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi menciptakan lapangan kerja, dan stabilitas fiskal mencegah terjadinya krisis keuangan negara.
Namun demikian, opini kontradiksi menekankan bahwa stabilitas ekonomi makro tidak dapat dikejar hanya melalui kebijakan fiskal semata. Fokus yang berlebihan pada stabilitas indikator makro, seperti defisit anggaran dan inflasi,, sering kali mengabaikan realitas sosial, seperti ketimpangan pendapatan, kualitas pekerjaan, dan ketahanan ekonomi rumah tangga. Dengan demikian, stabilitas ekonomi makro yang dicapai melalui kebijakan fiskal belum tentu mencerminkan stabilitas ekonomi masyarakat secara nyata.
Meskipun kebijakan fiskal memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, kebijakan ini bukanlah solusi tunggal dan mutlak. Ketergantungan yang berlebihan pada kebijakan fiskal justru berisiko menciptakan ketidakstabilan baru apabila tidak diimbangi dengan disiplin anggaran, kebijakan moneter yang efektif, serta reformasi struktural yang mendalam. Stabilitas ekonomi makro yang sejati tidak hanya diukur dari indikator fiskal dan inflasi, tetapi juga dari ketahanan ekonomi masyarakat serta keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

Kritik terhadap Peran Kebijakan Fiskal
Secara teoritis, kebijakan fiskal ekspansif digunakan saat ekonomi melambat, sementara kebijakan fiskal kontraktif diterapkan ketika ekonomi mengalami overheating. Namun dalam praktiknya, efektivitas kebijakan fiskal sering kali terhambat oleh berbagai faktor.
Pertama, kebijakan fiskal cenderung mengalami keterlambatan waktu (time lag). Proses perencanaan, pembahasan, dan realisasi anggaran membutuhkan waktu yang panjang, sehingga respons fiskal sering kali terlambat ketika kondisi ekonomi sudah berubah. Kedua, kebijakan fiskal rentan terhadap kepentingan politik, sehingga keputusan anggaran tidak selalu didasarkan pada kebutuhan stabilisasi ekonomi, melainkan kepentingan jangka pendek.
Dalam perspektif opini kontradiksi ini, kebijakan fiskal lebih sering berfungsi sebagai alat politik anggaran dibandingkan sebagai instrumen stabilisasi ekonomi makro yang benar-benar efektif.
Tantangan Kebijakan Fiskal terhadap Stabilitas Ekonomi Makro
Tantangan utama kebijakan fiskal terletak pada keterbatasan ruang fiskal. Defisit anggaran yang terus meningkat serta beban utang negara yang semakin besar justru dapat mengancam stabilitas ekonomi makro dalam jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, stimulus fiskal yang berlebihan berisiko memicu inflasi, menimbulkan efek crowding out terhadap investasi swasta, serta melemahkan kepercayaan pasar.
Selain itu, ketergantungan pada penerimaan pajak yang bersifat fluktuatif membuat kebijakan fiskal kurang stabil sebagai alat pengendali ekonomi. Tantangan struktural seperti besarnya sektor informal dan rendahnya tingkat kepatuhan pajak semakin memperlemah daya dorong kebijakan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi makro.
Inovasi Kebijakan Fiskal
Berbagai inovasi kebijakan fiskal, seperti digitalisasi pajak, penerapan kebijakan fiskal yang bersifat countercyclical, serta penganggaran berbasis kinerja, patut diapresiasi. Namun, dalam opini kontradiksi ini, inovasi tersebut belum cukup menjamin terciptanya stabilitas ekonomi makro apabila tidak disertai dengan reformasi struktural yang lebih luas.
Tanpa perbaikan produktivitas nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembenahan struktur ekonomi, kebijakan fiskal cenderung hanya berfungsi sebagai penyangga sementara. Dengan kata lain, inovasi kebijakan fiskal sering kali bersifat reaktif, bukan solutif terhadap akar permasalahan ekonomi makro.

Dampak Kebijakan Fiskal terhadap Stabilitas Ekonomi Makro
Dampak kebijakan fiskal terhadap stabilitas ekonomi makro bersifat ambigu. Di satu sisi, kebijakan fiskal mampu meredam guncangan ekonomi dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, kebijakan fiskal yang agresif dan tidak disiplin justru berpotensi menciptakan ketidakstabilan baru, seperti inflasi struktural, ketergantungan pada utang, serta beban fiskal jangka panjang.
Dalam perspektif kontradiktif, stabilitas ekonomi makro yang terlalu bergantung pada kebijakan fiskal bersifat rapuh dan tidak berkelanjutan apabila tidak didukung oleh kebijakan moneter yang kredibel serta reformasi struktural yang konsisten. (*)