
OPINI
Implementasi Kebijakan Fiskal Daerah dalam Mendorong Inovasi dan Teknologi di Jatim
Oleh: Bintang Putra H – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Kebijakan fiskal daerah merupakan salah satu instrumen strategis yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengarahkan pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam kerangka otonomi daerah, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk mengelola pendapatan dan belanja melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Salah satu tujuan utama kebijakan fiskal daerah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, serta penguatan inovasi dan teknologi.
Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah dengan kontribusi ekonomi terbesar di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar serta struktur ekonomi yang beragam, Jawa Timur memiliki potensi signifikan untuk mengembangkan inovasi berbasis teknologi, baik di sektor industri, UMKM, maupun pelayanan publik. Namun demikian, pengembangan inovasi daerah masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti ketimpangan pembangunan antarwilayah, keterbatasan kapasitas fiskal di beberapa daerah, serta rendahnya tingkat adopsi teknologi di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, peran kebijakan fiskal daerah menjadi sangat strategis. Melalui alokasi belanja daerah yang tepat sasaran, pemberian insentif fiskal, serta pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK), Pemerintah Provinsi Jawa Timur diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya inovasi dan penguatan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana implementasi kebijakan fiskal daerah di Jawa Timur dalam mendorong inovasi dan teknologi secara berkelanjutan.
Implementasi kebijakan fiskal daerah di Provinsi Jawa Timur diwujudkan melalui berbagai instrumen kebijakan, antara lain belanja daerah, insentif fiskal, serta transfer ke daerah dari pemerintah pusat. Belanja daerah diarahkan untuk mendukung sektor-sektor strategis seperti pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta pembangunan infrastruktur teknologi informasi. Investasi pada sektor pendidikan dan pelatihan bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan inovasi.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memanfaatkan insentif fiskal untuk mendorong aktivitas ekonomi berbasis inovasi. Insentif tersebut dapat berupa keringanan pajak daerah, kemudahan perizinan, serta dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM dan startup berbasis teknologi. Kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan biaya usaha, meningkatkan minat investasi, serta mempercepat adopsi teknologi digital di tingkat daerah.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, realisasi insentif fiskal dan Dana Alokasi Khusus (DAK) di Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan sepanjang tahun 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan adanya komitmen pemerintah dalam memperkuat pembiayaan pembangunan daerah. DAK Fisik dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung inovasi, seperti fasilitas pendidikan dan sarana teknologi, sementara DAK Nonfisik diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik, pendidikan, dan pelatihan.

Hubungan antara kebijakan fiskal daerah dan inovasi dapat digambarkan melalui alur kebijakan yang dimulai dari perencanaan APBD, alokasi anggaran, hingga dampaknya terhadap peningkatan inovasi dan teknologi daerah. Melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor swasta, implementasi kebijakan fiskal diharapkan mampu mendorong peningkatan Indeks Inovasi Daerah serta memperkuat daya saing ekonomi Provinsi Jawa Timur secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, implementasi kebijakan fiskal daerah di Provinsi Jawa Timur memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong inovasi dan teknologi. Melalui alokasi belanja daerah yang tepat, pemberian insentif fiskal, serta pemanfaatan Dana Alokasi Khusus, pemerintah daerah dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan inovasi. Peningkatan realisasi fiskal menjadi indikator komitmen pemerintah dalam mendukung pembangunan berbasis teknologi.
Meski demikian, keberhasilan kebijakan fiskal daerah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan juga oleh efektivitas implementasi dan kuatnya sinergi antar pemangku kepentingan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan koordinasi, peningkatan kualitas perencanaan anggaran, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan keuangan daerah. Dengan langkah tersebut, kebijakan fiskal daerah di Provinsi Jawa Timur diharapkan mampu mendorong inovasi dan teknologi secara optimal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing daerah. (*)