JAVASATU.COM- Tradisi Sedekah Bumi (Dekahan) dan Haul Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, berlangsung meriah, Kamis (5/2/2026). Ratusan warga tumplek blek di lapangan makam desa untuk mengikuti rangkaian acara, termasuk tradisi udik-udikan uang koin yang menjadi agenda paling ditunggu.

Kegiatan tahunan menjelang Ramadan ini diisi berbagai agenda, mulai kerja bakti, penyembelihan sapi, pengajian umum, Khotmil Qur’an, Sholawat Shimtudurror, Ishari, Srokalan, hingga tradisi lempar koin di area makam desa.
Udik-udikan menjadi magnet utama. Warga yang ingin bersedekah melemparkan uang koin ke tengah lapangan, lalu diperebutkan ratusan peserta, didominasi anak-anak dan pemuda. Bahkan, perantau asal Tebuwung disebut pulang kampung untuk meramaikan tradisi tersebut.
“Alhamdulillah saya dapat Rp50 ribu. Buat nabung dan jajan,” kata Zafran, pelajar MI Al-Karimi, yang mengaku sempat berdesakan saat berebut koin.
Selain tradisi unik itu, proses memasak konsumsi juga menarik perhatian. Kaum lelaki menangani penyembelihan sapi hingga memasak dan mengolah daging, sementara ibu-ibu menyiapkan jajanan khas Dekahan seperti kucur, gemblong/tetel, tape ketan, kerupuk samiler, gapitan, dan rengginang.
Kepala Desa Tebuwung, Moh Hita’ Wajdi S.Pd, mengatakan Sedekah Bumi merupakan wujud syukur dan doa agar desa diberi keberkahan, keamanan, serta hasil panen melimpah.
“Melalui sedekah bumi kita bangun kebersamaan, guyub rukun, saling berbagi dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Ia menegaskan tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda agar nilai-nilai leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Tradisi Dekahan di Tebuwung tak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang kebersamaan warga sekaligus pelestarian budaya lokal yang terus dijaga,” imbuhnya.
Senada, Ketua GP Ansor Tebuwung Ahmad Thoyyib Shofi menyebut Haul Desa menjadi momentum memperkuat persatuan warga.
“Sebagai garda pemuda, kami mendukung pelestarian kearifan lokal ini secara istiqomah,” katanya.
Kegiatan Sedekah Bumi Tebuwung turut dihadiri perangkat desa, BPD, RT, PKK, NU dan banom NU, tokoh agama (toga), serta tokoh masyarakat (tomas). (hoo/nuh)