JAVASATU.COM- Ribuan warga memadati Pasar Panganan Giri Biyen di Kampung Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Pasar kuliner jadul ini menghadirkan kembali jejak panganan era Sunan Giri dan Kerajaan Giri Kedaton yang kini mulai jarang ditemui.

Sebanyak 120 jenis makanan dan jajanan tradisional dijajakan di 43 stan sepanjang gang kampung. Dalam waktu kurang dari dua jam, sebagian besar panganan ludes diserbu pembeli. Harga yang ditawarkan pun terjangkau, mulai Rp2 ribu hingga Rp10 ribu.
Pengunjung dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto hingga Lamongan sudah memadati lokasi. Meski berada di gang sempit, antusiasme warga tak surut untuk berburu kuliner tempo dulu.
Ketua Pasar Panganan Giri Biyen, Nurul Huda, mengatakan kegiatan ini telah digelar untuk ketiga kalinya. Tujuannya untuk melestarikan warisan kuliner peninggalan Sunan Giri sekaligus menggerakkan ekonomi pelaku UMKM setempat.
“Ada sekitar 120 jenis panganan jadul yang dijual. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga untuk mengangkat perekonomian UMKM agar lebih sejahtera,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
Pencetus ide kegiatan, Muhammad Ma’arif, menyebut sejumlah makanan khas yang dihadirkan di antaranya kupat ketek berbahan beras ketan, bubur masen, sego roomo, nasi bukhori, pleret, hingga lontong roomo khas Giri. Beberapa di antaranya bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
“Kupat ketek sudah menjadi warisan budaya tak benda. Makanan di sini memang unik dan harganya sangat terjangkau,” kata Ma’arif.
Suasana nostalgia semakin terasa karena transaksi jual beli menggunakan uang dobog, koin berlubang menyerupai alat tukar tempo dulu. Namun, panitia tetap melayani pembayaran dengan rupiah bagi pengunjung yang tidak menukarkan uangnya.
“Pasar Panganan Giri Biyen menjadi upaya merawat warisan kuliner Sunan Giri sekaligus menghidupkan kembali tradisi kebersamaan masyarakat tempo dulu di Gresik,” imbuhnya.
Selain kuliner, sejumlah pedagang juga menjajakan mainan tradisional anak seperti kapal-kapalan. Banyak pengunjung menikmati makanan dengan lesehan sederhana di sepanjang kampung, sementara lainnya memilih membungkus untuk dibawa pulang.
Salah satu pengunjung, Rani, warga Gresik, mengaku penasaran ingin mencicipi makanan khas Giri yang kini sulit ditemukan.
“Belanja nasi bukhori khas Giri, juga beli pleret dan lontong roomo. Rasanya khas dan bikin nostalgia,” ujarnya. (bas/nuh)