JAVASATU.COM- Presiden RI, Prabowo Subianto mengungkap rencana produksi massal mobil listrik nasional paling lambat 2028. Pengembangan kendaraan listrik tersebut menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri kendaraan listrik Indonesia.

Rencana itu disampaikan Prabowo saat meluncurkan Motor Listrik Nasional beserta Ekosistem Pendukung di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).
“Ada kompleks besar kita lagi bangun, mobil listrik Indonesia yang kita berharap paling lambat tahun 2028 sudah produksi besar-besaran,” kata Prabowo.
Prabowo menjelaskan, kompleks pengembangan mobil listrik tersebut berada di kawasan Subang, Jawa Barat, sekitar Kilometer 84. Pemerintah berharap fasilitas itu menjadi bagian dari penguatan industri kendaraan listrik nasional.
Pengembangan mobil listrik nasional tidak berdiri sendiri. Pemerintah mendorong keterlibatan perusahaan swasta, BUMN, pelaku usaha, hingga perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.
Prabowo menilai kolaborasi tersebut merupakan contoh konsep Indonesia Incorporated, yakni kerja bersama berbagai kekuatan nasional untuk membangun kemampuan industri dan teknologi dalam negeri.
“Keberhasilan suatu bangsa di era modern adalah kemampuan bangsa itu menguasai sains dan teknologi, dan menggunakan teknologi untuk melangsungkan kehidupan bangsa tersebut,” ujarnya.
Motor Listrik Nasional Jadi Langkah Awal
Sebelum masuk ke produksi massal mobil listrik, pemerintah lebih dulu mendorong pengembangan industri motor listrik nasional.
Dalam peluncuran di Cikarang, Prabowo menyebut kelompok Indika telah berhasil memproduksi 20 ribu motor listrik. Presiden kemudian menargetkan kapasitas produksi tersebut terus meningkat hingga 200 ribu unit bahkan dua juta unit.
“Kalau kalian nanti mencapai 200 ribu, saya datang lagi. Dua juta, saya datang lagi,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, keberanian pelaku usaha membangun industri kendaraan listrik patut diapresiasi karena sektor tersebut menghadapi persaingan dari negara-negara dengan industri otomotif yang sudah kuat, seperti Jepang, Korea Selatan dan China.
“Tidak ada kemenangan tanpa inisiatif, tidak ada keberhasilan tanpa keberanian,” katanya.
Mobil Listrik untuk Kurangi Ketergantungan Energi Impor
Prabowo menempatkan pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi dari luar negeri.
Ia menyebut Indonesia masih mengeluarkan sekitar US$28 miliar hingga US$30 miliar per tahun untuk BBM. Karena itu, pemerintah ingin memperbesar penggunaan listrik sebagai sumber energi untuk kendaraan dan berbagai kebutuhan lainnya.
“Kita butuh untuk tidak tergantung kepada energi di luar negara kita. Kita terlalu besar untuk menggantungkan diri kepada pihak luar,” tegas Prabowo.
Menurutnya, penggunaan energi listrik tidak hanya diarahkan untuk mobil dan motor. Pemerintah juga mendorong pemanfaatannya pada bus, traktor dan berbagai alat lainnya.
Target Energi Surya 100 GW
Sejalan dengan pengembangan kendaraan listrik, pemerintah juga menyiapkan peningkatan kapasitas energi terbarukan.
Prabowo menyebut pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 100 gigawatt dalam empat tahun. Untuk 2026, target yang disebut mencapai 30 gigawatt.
Pemerintah juga meminta PLN mengurangi penggunaan pembangkit listrik berbasis diesel. Prabowo menyebut sekitar 13 gigawatt pembangkit diesel harus segera ditinggalkan.
“Kita akan membangun listrik dari tenaga surya sebesar 100 gigawatt, dan ini harus kita laksanakan dalam empat tahun. Tapi, tahun ini saja target kita adalah 30 gigawatt,” ucapnya.
Prabowo menegaskan pembangunan industri kendaraan listrik dan pengembangan energi nasional harus berjalan beriringan. Dengan begitu, kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri tidak hanya memiliki basis industri nasional, tetapi juga ditopang sumber energi yang semakin mandiri. (saf)