JAVASATU.COM- Demonstrasi tak selalu hadir dalam bentuk massa yang turun ke jalan. Bagi komposer dan musisi Rani Jambak, keresahan terhadap kondisi negeri bisa disuarakan melalui karya. Ia memilih bunyi sebagai medium perlawanan lewat album LARA(NGAN) yang dirilis pada 10 Agustus 2026.

Album tersebut dirilis melalui Yes No Wave Music, label/netlabel nirlaba asal Yogyakarta yang dikenal memberi ruang bagi musik independen, eksperimental, elektronik, dan karya di luar arus utama.
“Kalau mahasiswa atau aktivis, aksinya dengan demonstrasi. Musisi, selain bisa ikut demonstrasi, juga bisa melahirkan karya-karya tentang perlawanan,” kata Rani.
Pilihan Rani menyuarakan keresahan lewat musik bukan berarti ia sepenuhnya menjauh dari aksi jalanan. Pada 3 Juli 2026, ia terlibat dalam aksi “Liburan Tetap Melawan” di Bundaran UGM bersama komunitas Ibu Berisik dan sejumlah elemen masyarakat sipil.
Musik menjadi salah satu medium dalam aksi tersebut. Bagi Rani, kebebasan menyampaikan suara merupakan bagian penting dari kedaulatan diri.
“Intinya, kita jangan sampai kehilangan kedaulatan atas diri sendiri untuk bersuara,” ujarnya, Rabu (19/8/2026), dalam keterangan tetulisnya.
Namun, ketika kembali ke ruang artistik, Rani memilih medium yang lebih personal. Kegelisahan, kemarahan, sekaligus harapan dituangkannya dalam tujuh komposisi di album LARA(NGAN).
“Semua trek dikerjakan dengan hati yang lirih dan marah pada saat yang bersamaan. Kadang saya bertanya-tanya, mungkinkah harapan masih bisa kita miliki?” ujar Rani.
Suara Demonstrasi Masuk ke Album
Rani tidak menyampaikan kritik melalui slogan politik secara gamblang. Ia justru memasukkan rekaman suara demonstrasi ke dalam album dan membiarkan bunyi menjadi bahasa untuk menangkap kegelisahan sosial dan politik.
Album LARA(NGAN) lahir di tengah momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Rani menilai masih banyak persoalan yang menyisakan pertanyaan tentang keadilan, kedaulatan, lingkungan, hingga suara masyarakat yang belum mendapat ruang cukup untuk didengar.
Keresahan itu juga tidak terlepas dari perhatian Rani terhadap persoalan ekologis dan kebudayaan Nusantara.
Rani dikenal sebagai komposer, produser, perancang instrumen, field recordist, sekaligus vokalis berdarah Minangkabau yang lahir di Medan. Ia menjadikan bunyi sebagai cara membaca kebudayaan, mulai dari suara alam, aktivitas sosial, pengetahuan, hingga warisan budaya Nusantara.
Salah satu karyanya, Kincia Aia, mengolah teknologi kincir air tradisional Minangkabau menjadi instrumen musik berbasis sensor. Sementara Pamedangan mempertemukan teknik sulam tradisional Minangkabau dengan video dan komposisi audio.
Pendekatan tersebut mengantarkan Rani meraih The Oram Awards 2022 kategori internasional di Inggris, penghargaan yang diberikan untuk inovasi di bidang suara, musik, dan teknologi.
Bawa Duka Sumatera ke Panggung Internasional
Bagi Rani, bunyi tidak sekadar menjadi ruang eksperimen artistik. Pada Desember 2025, dalam pertunjukan Sounds from Sumatra in Melbourne, ia membawa persoalan krisis ekologis dan bencana yang terjadi di Sumatera ke panggung internasional.
“Saat itu saya tidak datang membawa kegembiraan. Saya datang membawa kabar duka dari Sumatera,” katanya.
Praktik tersebut kini diperdalam melalui studi doktoral Sound Heritage dalam program Re:Sound, kerja sama UGM dan Universiteit van Amsterdam.
Akhir Agustus 2026, Rani dijadwalkan berada di Amsterdam selama setahun untuk meneliti koleksi suara Jaap Kunst, etnomusikolog Belanda yang merekam musik di Hindia Belanda pada 1919-1934.
Koleksi itu mencakup rekaman suara, foto, film, dan dokumen mengenai kehidupan musik Nusantara pada masa kolonial. Melalui perspektif dekolonisasi dan repatriasi, Rani ingin mempertanyakan kembali siapa yang merekam, siapa yang menentukan cara kebudayaan dijelaskan, serta bagaimana masyarakat sumber dapat membaca kembali warisan tersebut.
LARA(NGAN), dari Larangan Menjadi Lara
Judul LARA(NGAN) mempertemukan dua kata, yakni larangan dan lara. Dalam kosmologi Nusantara yang menjadi pijakan Rani, larangan merupakan batas yang menjaga hubungan manusia dengan adat, spiritualitas, dan alam. Ketika batas tersebut dilanggar, muncul lara atau luka yang menjalar dari tanah kepada manusia.
Setelah dirilis secara daring, Rani menggelar listening session LARA(NGAN) di Emma, sebuah bar di Medan, pada 14 Agustus 2026.
Dalam sesi tersebut, ia menjelaskan gagasan di balik tujuh komposisi yang menyusun album.
Komposisi Pedogenesis berbicara tentang proses kelahiran tanah sekaligus keserakahan manusia terhadap kekayaan alam Sumatera.
“Tanah yang menyuburkan tanaman dan melahirkan keanekaragaman hayati jauh lebih penting daripada emas. Kita bernapas dengan oksigen, bukan emas,” kata Rani.
Sementara Mikroseisme menjadi metafora suara rakyat yang tidak didengar. Getaran kecil yang hanya dapat ditangkap seismograf itu digunakan Rani untuk menggambarkan suara masyarakat yang tidak mendapat perhatian karena penguasa dianggap tidak membuka ruang untuk mendengarkan.
Komposisi Regang menggambarkan kehidupan yang tumbuh pucat akibat kehilangan cahaya. Kemarahan kemudian berkembang menjadi rasa sakit bersama dalam Saseso, sebelum mencapai titik mati rasa melalui Abih Raso.
Setelah kehancuran, Kun menghadirkan kemungkinan bumi memulihkan dirinya. Sedangkan Utopia membayangkan dunia damai yang mungkin menjadi impian manusia setelah merusak lingkungan dan hubungan sosialnya.
Album itu bergerak dari luka menuju kemungkinan pemulihan.
Namun, keresahan Rani tidak hanya berhenti pada persoalan lingkungan. Ia juga mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati keadilan dan kemakmuran yang selama ini menjadi cita-cita kemerdekaan.
“Tanah kita, saudara-saudara kita di berbagai wilayah Nusantara tidak berada dalam kondisi yang adil. Hari ini kita mendengar lagi dan lagi ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’. Di dalam hati saya hanya ada satu pertanyaan: bagi siapa?”
Musisi Memilih Karya sebagai Perlawanan
Rani sengaja merilis LARA(NGAN) sebelum peringatan 17 Agustus 2026. Ia mengaku prihatin melihat kondisi pemerintahan dan situasi sosial yang menurutnya membuat momentum perayaan kemerdekaan terasa berbeda.
Ketika mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat kembali menyuarakan tuntutan melalui aksi jalanan, Rani melihat semangat perlawanan masih tetap hidup.
“Perjuangan harus tetap dijaga, dinyalakan, dan terus diingatkan. Dengan berbagai cara. Saya memilih cara musikal, tetap menyalakan ingatan melalui LARA(NGAN),” katanya.
Bagi Rani, demonstrasi tidak harus selalu dilakukan dengan turun ke jalan. Seorang seniman memiliki ruang sendiri untuk menyampaikan kritik, yakni melalui karya.
“Aksi seorang komposer atau musisi adalah melalui karya album. Tentang perlawanan.”
LARA(NGAN) pun menjadi bentuk demonstrasi dengan medium berbeda. Jika aksi jalanan mengandalkan massa dan suara yang terdengar saat itu juga, karya musik memungkinkan keresahan tersebut diputar, didengar, dan diingat kembali.
Sebuah demonstrasi yang tidak selesai ketika massa membubarkan diri, tetapi terus hidup setiap kali bunyi-bunyinya kembali diperdengarkan. (saf)