email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Selasa, 8 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Rani Jambak Demo Lewat Musik, LARA(NGAN) Suarakan Kegelisahan Negeri

by Syaiful Arif
19 Agustus 2026

JAVASATU.COM- Demonstrasi tak selalu hadir dalam bentuk massa yang turun ke jalan. Bagi komposer dan musisi Rani Jambak, keresahan terhadap kondisi negeri bisa disuarakan melalui karya. Ia memilih bunyi sebagai medium perlawanan lewat album LARA(NGAN) yang dirilis pada 10 Agustus 2026.

Rani Jambak. (Foto: Alvin Pandia)

Album tersebut dirilis melalui Yes No Wave Music, label/netlabel nirlaba asal Yogyakarta yang dikenal memberi ruang bagi musik independen, eksperimental, elektronik, dan karya di luar arus utama.

“Kalau mahasiswa atau aktivis, aksinya dengan demonstrasi. Musisi, selain bisa ikut demonstrasi, juga bisa melahirkan karya-karya tentang perlawanan,” kata Rani.

Pilihan Rani menyuarakan keresahan lewat musik bukan berarti ia sepenuhnya menjauh dari aksi jalanan. Pada 3 Juli 2026, ia terlibat dalam aksi “Liburan Tetap Melawan” di Bundaran UGM bersama komunitas Ibu Berisik dan sejumlah elemen masyarakat sipil.

Musik menjadi salah satu medium dalam aksi tersebut. Bagi Rani, kebebasan menyampaikan suara merupakan bagian penting dari kedaulatan diri.

“Intinya, kita jangan sampai kehilangan kedaulatan atas diri sendiri untuk bersuara,” ujarnya, Rabu (19/8/2026), dalam keterangan tetulisnya.

Namun, ketika kembali ke ruang artistik, Rani memilih medium yang lebih personal. Kegelisahan, kemarahan, sekaligus harapan dituangkannya dalam tujuh komposisi di album LARA(NGAN).

“Semua trek dikerjakan dengan hati yang lirih dan marah pada saat yang bersamaan. Kadang saya bertanya-tanya, mungkinkah harapan masih bisa kita miliki?” ujar Rani.

Suara Demonstrasi Masuk ke Album

Rani tidak menyampaikan kritik melalui slogan politik secara gamblang. Ia justru memasukkan rekaman suara demonstrasi ke dalam album dan membiarkan bunyi menjadi bahasa untuk menangkap kegelisahan sosial dan politik.

Album LARA(NGAN) lahir di tengah momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Rani menilai masih banyak persoalan yang menyisakan pertanyaan tentang keadilan, kedaulatan, lingkungan, hingga suara masyarakat yang belum mendapat ruang cukup untuk didengar.

Keresahan itu juga tidak terlepas dari perhatian Rani terhadap persoalan ekologis dan kebudayaan Nusantara.

Rani dikenal sebagai komposer, produser, perancang instrumen, field recordist, sekaligus vokalis berdarah Minangkabau yang lahir di Medan. Ia menjadikan bunyi sebagai cara membaca kebudayaan, mulai dari suara alam, aktivitas sosial, pengetahuan, hingga warisan budaya Nusantara.

Salah satu karyanya, Kincia Aia, mengolah teknologi kincir air tradisional Minangkabau menjadi instrumen musik berbasis sensor. Sementara Pamedangan mempertemukan teknik sulam tradisional Minangkabau dengan video dan komposisi audio.

Pendekatan tersebut mengantarkan Rani meraih The Oram Awards 2022 kategori internasional di Inggris, penghargaan yang diberikan untuk inovasi di bidang suara, musik, dan teknologi.

Bawa Duka Sumatera ke Panggung Internasional

Bagi Rani, bunyi tidak sekadar menjadi ruang eksperimen artistik. Pada Desember 2025, dalam pertunjukan Sounds from Sumatra in Melbourne, ia membawa persoalan krisis ekologis dan bencana yang terjadi di Sumatera ke panggung internasional.

“Saat itu saya tidak datang membawa kegembiraan. Saya datang membawa kabar duka dari Sumatera,” katanya.

Praktik tersebut kini diperdalam melalui studi doktoral Sound Heritage dalam program Re:Sound, kerja sama UGM dan Universiteit van Amsterdam.

Akhir Agustus 2026, Rani dijadwalkan berada di Amsterdam selama setahun untuk meneliti koleksi suara Jaap Kunst, etnomusikolog Belanda yang merekam musik di Hindia Belanda pada 1919-1934.

Koleksi itu mencakup rekaman suara, foto, film, dan dokumen mengenai kehidupan musik Nusantara pada masa kolonial. Melalui perspektif dekolonisasi dan repatriasi, Rani ingin mempertanyakan kembali siapa yang merekam, siapa yang menentukan cara kebudayaan dijelaskan, serta bagaimana masyarakat sumber dapat membaca kembali warisan tersebut.

BacaJuga :

Antibully Jakarta Festival Jadikan Musik sebagai Jembatan Kesetaraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan Anak Tipikal

Aurelia Fediana Rilis “Selalu Ada”, Lagu tentang Iman di Tengah Masa Sulit

LARA(NGAN), dari Larangan Menjadi Lara

Judul LARA(NGAN) mempertemukan dua kata, yakni larangan dan lara. Dalam kosmologi Nusantara yang menjadi pijakan Rani, larangan merupakan batas yang menjaga hubungan manusia dengan adat, spiritualitas, dan alam. Ketika batas tersebut dilanggar, muncul lara atau luka yang menjalar dari tanah kepada manusia.

Setelah dirilis secara daring, Rani menggelar listening session LARA(NGAN) di Emma, sebuah bar di Medan, pada 14 Agustus 2026.

Dalam sesi tersebut, ia menjelaskan gagasan di balik tujuh komposisi yang menyusun album.

Komposisi Pedogenesis berbicara tentang proses kelahiran tanah sekaligus keserakahan manusia terhadap kekayaan alam Sumatera.

“Tanah yang menyuburkan tanaman dan melahirkan keanekaragaman hayati jauh lebih penting daripada emas. Kita bernapas dengan oksigen, bukan emas,” kata Rani.

Sementara Mikroseisme menjadi metafora suara rakyat yang tidak didengar. Getaran kecil yang hanya dapat ditangkap seismograf itu digunakan Rani untuk menggambarkan suara masyarakat yang tidak mendapat perhatian karena penguasa dianggap tidak membuka ruang untuk mendengarkan.

Komposisi Regang menggambarkan kehidupan yang tumbuh pucat akibat kehilangan cahaya. Kemarahan kemudian berkembang menjadi rasa sakit bersama dalam Saseso, sebelum mencapai titik mati rasa melalui Abih Raso.

Setelah kehancuran, Kun menghadirkan kemungkinan bumi memulihkan dirinya. Sedangkan Utopia membayangkan dunia damai yang mungkin menjadi impian manusia setelah merusak lingkungan dan hubungan sosialnya.

Album itu bergerak dari luka menuju kemungkinan pemulihan.

Namun, keresahan Rani tidak hanya berhenti pada persoalan lingkungan. Ia juga mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati keadilan dan kemakmuran yang selama ini menjadi cita-cita kemerdekaan.

“Tanah kita, saudara-saudara kita di berbagai wilayah Nusantara tidak berada dalam kondisi yang adil. Hari ini kita mendengar lagi dan lagi ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’. Di dalam hati saya hanya ada satu pertanyaan: bagi siapa?”

Musisi Memilih Karya sebagai Perlawanan

Rani sengaja merilis LARA(NGAN) sebelum peringatan 17 Agustus 2026. Ia mengaku prihatin melihat kondisi pemerintahan dan situasi sosial yang menurutnya membuat momentum perayaan kemerdekaan terasa berbeda.

Ketika mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat kembali menyuarakan tuntutan melalui aksi jalanan, Rani melihat semangat perlawanan masih tetap hidup.

“Perjuangan harus tetap dijaga, dinyalakan, dan terus diingatkan. Dengan berbagai cara. Saya memilih cara musikal, tetap menyalakan ingatan melalui LARA(NGAN),” katanya.

Bagi Rani, demonstrasi tidak harus selalu dilakukan dengan turun ke jalan. Seorang seniman memiliki ruang sendiri untuk menyampaikan kritik, yakni melalui karya.

“Aksi seorang komposer atau musisi adalah melalui karya album. Tentang perlawanan.”

LARA(NGAN) pun menjadi bentuk demonstrasi dengan medium berbeda. Jika aksi jalanan mengandalkan massa dan suara yang terdengar saat itu juga, karya musik memungkinkan keresahan tersebut diputar, didengar, dan diingat kembali.

Sebuah demonstrasi yang tidak selesai ketika massa membubarkan diri, tetapi terus hidup setiap kali bunyi-bunyinya kembali diperdengarkan. (saf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: BandLagumusikMusisiPenyanyiRani Jambak

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Flashlight Mob UMM Gen 26 Libatkan 5.600 Maba, Tanpa Kertas dan Bebas Sampah

Mahasiswa FK UWKS Edukasi Lansia Asem Jajar soal Sinar Matahari hingga Hipertensi

Studi APPRI: Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Bidik ROI

Bakorwil Apresiasi Polres Malang Bongkar Penipuan Catut Nama Pemprov Jatim

Kemarau Bikin Lahan Kering, Warga Kabupaten Malang Diingatkan Tak Asal Bakar

Polres Gresik Raih Pelayanan Prima Nasional, 5 Personel Diganjar Penghargaan

Kapolres Malang Dorong HMI Jadi Mitra Jaga Kamtibmas

Dana Hibah KONI Kota Blitar Belum Cair, Ini Penjelasan Pemkot

Kapolresta Malang Kota Siapkan Buku Bahasa Walikan, Jaga Budaya Lokal

Sepekan, 1.770 Botol Miras Ilegal Disita di Kabupaten Malang

Prev Next

POPULER HARI INI

Baderhoods Wonosobo Didorong Ikut Promosikan Wisata Lewat Touring

Pemotor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang Malang, Tiga Orang Terluka

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

Ansor Tebuwung Tutup Ramadan dengan Khatmil Quran dan Aksi Sosial

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

BERITA LAINNYA

Flashlight Mob UMM Gen 26 Libatkan 5.600 Maba, Tanpa Kertas dan Bebas Sampah

Mahasiswa FK UWKS Edukasi Lansia Asem Jajar soal Sinar Matahari hingga Hipertensi

Studi APPRI: Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Bidik ROI

Bakorwil Apresiasi Polres Malang Bongkar Penipuan Catut Nama Pemprov Jatim

Kemarau Bikin Lahan Kering, Warga Kabupaten Malang Diingatkan Tak Asal Bakar

Polres Gresik Raih Pelayanan Prima Nasional, 5 Personel Diganjar Penghargaan

Kapolres Malang Dorong HMI Jadi Mitra Jaga Kamtibmas

Dana Hibah KONI Kota Blitar Belum Cair, Ini Penjelasan Pemkot

Kapolresta Malang Kota Siapkan Buku Bahasa Walikan, Jaga Budaya Lokal

Sepekan, 1.770 Botol Miras Ilegal Disita di Kabupaten Malang

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Warga Gerebek Rumah di Kalianget Wonosobo, Seorang Pria Diamankan

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Pemotor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang Malang, Tiga Orang Terluka

Terlanjur Klik File APK Penipuan? Ini Langkah yang Disarankan BRI untuk Nasabah

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved