JAVASATU.COM- Selama ini sebagian siswa mengenal Topeng Panji sebatas kesenian tari. Begitu pula dengan keris yang lebih sering dipahami sebagai senjata. Melalui program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, siswa SDN Bumiayu 1 Kota Malang diajak melihat sisi lain dari dua warisan budaya tersebut.

Pembelajaran sejarah dan kebudayaan itu berlangsung di lingkungan sekolah, Senin (21/9/2026). Siswa diperkenalkan dengan sejumlah koleksi dan materi budaya, mulai dari arca, keris hingga Topeng Panji Malang.
Museum Keliling membuat siswa dapat mengenal warisan budaya secara langsung tanpa harus datang ke museum. Materi yang diberikan juga tidak berhenti pada bentuk benda, tetapi mengajak siswa memahami cerita, sejarah dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Topeng Panji Punya Cerita Panjang
Arkeolog dan Peneliti, Juan Steven Susilo, mengatakan pengenalan koleksi museum diarahkan untuk membantu siswa memahami sejarah sekaligus mengenali identitas budaya daerah.
“Adik-adik mengenali jati diri mereka masing-masing melalui sejarah dan juga koleksi yang ada di Museum Mpu Purwa. Koleksi tersebut ada arca, keris dan juga topeng Panji Malang,” ujar Juan.
Salah satu materi yang diperkenalkan yakni Topeng Panji Malang. Siswa tidak hanya melihat bentuk topeng, tetapi juga mendapat penjelasan mengenai tokoh, cerita dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Menurut Juan, cerita Panji memiliki sejarah panjang. Cerita tersebut berasal dari abad ke-10 dan abad ke-11, kemudian berkembang hingga ke berbagai wilayah Asia Tenggara.
“Cerita Panji itu dari abad ke-10 dan juga abad ke-11, kemudian menyebar ke seluruh Asia Tenggara. Salah satu daerah yang memiliki tarian topeng Panji adalah Malang dan sampai sekarang masih terjaga,” jelas Juan.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda. Sebab, menurut Juan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda atau koleksinya.
Generasi penerus juga perlu mendapatkan pengetahuan dan pemahaman agar warisan budaya dapat terus dikenal dan diteruskan.
“Generasi-generasi yang akan datang ini harus dipersiapkan dengan baik dan diberikan edukasi sebaik-baiknya,” katanya.
Siswa Mulai Pahami Makna Topeng
Kepala SDN Bumiayu 1 Kota Malang, Putria Suprianti, mengatakan kehadiran Museum Keliling memberikan pengalaman dan edukasi berbeda bagi siswa. Mereka dapat berinteraksi langsung dengan materi budaya yang selama ini mungkin hanya dikenal melalui pembelajaran di kelas.
Menurut Putria, sebagian siswa sebelumnya hanya mengenal Topeng Panji sebagai bagian dari kesenian tari. Setelah mendapat penjelasan, siswa mulai mengetahui bahwa karakter dan bentuk topeng memiliki makna.
“Anak-anak jadi mengenal topeng yang merah dan hijau tadi. Yang diketahui anak-anak hanya tari topeng, tapi tidak tahu itu maknanya,” ujar Putria.
Materi Museum Keliling juga diperkuat melalui pemutaran video. Cara tersebut membantu siswa memahami sejarah dan kebudayaan dengan penyampaian yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Juan berharap pengenalan tersebut dapat membuat generasi muda semakin mengenal dan mencintai kebudayaan yang dimiliki Malang.
“Harapannya generasi-generasi muda lebih mencintai dan lebih mengerti. Ternyata di Malang ini memiliki kebudayaan yang sudah terkenal se-Asia Tenggara dan kita harus bangga dengan kebudayaan tersebut,” ujarnya.
Keris Tak Sekadar Senjata
Selain Topeng Panji, keris menjadi salah satu materi yang diperkenalkan kepada siswa.
Dalam pembelajaran tersebut, siswa dikenalkan bahwa keris tidak hanya berkaitan dengan fungsi sebagai senjata, tetapi juga memiliki nilai filosofi dan budaya.
Putria mengaku dirinya bersama siswa mendapatkan pemahaman baru mengenai keberadaan keris.
“Saya pun dan anak-anak pastinya tahu, ternyata keris itu punya arti dan filosofi sendiri, tidak sekadar untuk senjata, ternyata ada filosofinya sendiri,” katanya.
Bagi Putria, pengenalan sejarah dan budaya penting dilakukan sejak sekolah dasar. Anak-anak perlu mengetahui sejarah sekaligus berbagai peninggalan yang menjadi bagian dari kekayaan bangsa.
“Semoga ke depannya anak-anak semakin mengenal sejarah dari bangsa ini, sejarahnya, terus peninggalan-peninggalannya agar tidak mudah diklaim oleh negara lain,” tegasnya.
Ia khawatir generasi muda semakin jauh dari pengetahuan sejarah apabila pengenalan terhadap warisan budaya tidak dilakukan sejak dini.
“Kalau anak-anak tidak dikenalkan, saya kok pesimis ke depan anak-anak semakin tidak tahu bahwa Indonesia ini begitu kaya raya peninggalannya,” ujarnya.
Museum Keliling Jadi Jembatan Budaya
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Juli Handayani mengatakan Museum Keliling menjadi salah satu upaya memperkuat literasi sejarah dan kebudayaan di kalangan pelajar.
Melalui program tersebut, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan koleksi museum, tetapi juga diajak memahami sejarah dan filosofi yang melekat pada warisan budaya, termasuk Topeng Panji dan keris.
Museum Keliling diharapkan menjadi jembatan antara koleksi budaya dengan generasi muda.
Dengan demikian, pengenalan sejarah tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman melihat dan memahami materi budaya secara langsung.
“Pembelajaran seperti ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat warisan budaya yang ada di daerahnya. Termasuk mengenal cerita Panji yang memiliki jejak sejarah panjang serta memahami keris tidak hanya dari bentuk dan fungsinya, tetapi juga dari nilai dan filosofi yang melekat di dalamnya,” ujar Juli Handayani. (har/arf)