JAVASATU.COM- Malang bukan hanya menjadi tempat mahasiswa menempuh pendidikan. Kota ini juga menjadi ruang bagi generasi muda dari berbagai daerah untuk mengenal sejarah, budaya dan identitas lokal. Karena itu, Ngalam Hebak 2026 dinilai bisa menjadi ruang belajar budaya bagi mahasiswa.

Pandangan tersebut disampaikan Dekan FISIP Universitas Brawijaya (UB) Dr Imron Rozuli menjelang deklarasi Ngalam Hebak di Sanggar Sasana Kridha Budaya, Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang, pada Minggu 27 September 2026.
Menurut Imron, posisi Malang sebagai kota pendidikan membuat mahasiswa dari berbagai daerah datang, tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Pertemuan itu membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengenal kebudayaan Malang secara langsung, tidak hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
“Malang adalah kota yang terus bertumbuh dan bertemu dengan banyak identitas. Tantangannya bagaimana keterbukaan itu tetap berjalan tanpa membuat masyarakat kehilangan akar sejarah dan kebudayaannya,” kata Imron, Selasa (22/9/2026).
Mahasiswa Bisa Belajar Budaya di Ruang Publik
Imron menilai pembelajaran tentang budaya tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi mengenai sejarah dan kebudayaan. Generasi muda perlu memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dengan budaya yang ada di lingkungan tempat mereka belajar dan tinggal.
“Generasi muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa Malang mempunyai sejarah dan budaya. Mereka perlu memperoleh ruang untuk mengenal, mengalami dan kemudian memberikan makna baru terhadap kebudayaan itu sesuai zamannya,” ujar Imron, yang juga selaku Ketua Panitia Ngalam Hebak 2026.
Dalam konteks tersebut, Ngalam Hebak tidak hanya dipandang sebagai agenda pelestarian budaya. Gerakan ini dapat menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dengan sejarah, tradisi dan identitas Malang.
Salah satu identitas lokal yang dibawa dalam Ngalam Hebak adalah Osob Kiwalan atau Boso Walikan.
“Salah satu identitas yang dibawa Ngalam Hebak adalah Osob Kiwalan atau Boso Walikan,” tegasnya.
Boso Walikan tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Dalam deklarasi Ngalam Hebak, pengunjung hingga pelaku UMKM didorong menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuat mahasiswa dan generasi muda tidak hanya mengetahui Boso Walikan sebagai identitas khas Arek Malang, tetapi berkesempatan melihat penggunaannya dalam kehidupan sosial.
Belajar Budaya dari Kota Tempat Menempuh Pendidikan
Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki karakter sosial yang mempertemukan masyarakat lokal dengan mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah.
Interaksi tersebut membuat kampus dan ruang publik memiliki peran dalam memperkenalkan kebudayaan lokal kepada generasi muda. Mahasiswa yang tinggal di Malang tidak hanya berhadapan dengan lingkungan akademik, tetapi juga dengan masyarakat dan budayanya.
Ngalam Hebak membawa konsep Malang Kabeh (Malang untuk Semua), dengan menempatkan Malang sebagai ruang bersama yang terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan asal daerah, profesi, generasi maupun latar belakang.
Melalui Holopes Janji Ngalam Hebak, komitmen yang dibawa mencakup penghormatan terhadap martabat manusia, penolakan terhadap diskriminasi dan intoleransi, serta penguatan keamanan, kerukunan dan gotong royong.
Di sisi lain, identitas lokal tetap mendapat tempat melalui upaya merawat sejarah Malang, Boso Walikan, sastra, seni, tradisi dan berbagai bentuk kearifan lokal.
“Identitas lokal dan keterbukaan tidak harus dipertentangkan. Justru masyarakat yang memahami identitasnya akan mempunyai fondasi yang lebih kuat ketika berinteraksi dengan masyarakat yang semakin beragam,” kata Imron.
Deklarasi Libatkan Mahasiswa dan Komunitas
Deklarasi Ngalam Hebak akan menghadirkan berbagai unsur masyarakat. Akademisi, mahasiswa, komunitas, pelaku budaya, UMKM, tokoh pemuda hingga masyarakat umum dijadwalkan terlibat.
Gerakan ini digagas Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno.
Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026 Hanan Djalil sebelumnya menegaskan bahwa gerakan tersebut dirancang sebagai ruang bersama untuk merawat Malang.
Deklarasi juga akan diisi pertunjukan seni lintas daerah. Beskalan dan Topeng Malang akan bertemu dengan Remo Surabaya, Jathilan dan Reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi hingga kesenian Bali.
Ada Sarasehan Boso Walikan hingga City Run
Rangkaian Ngalam Hebak tidak berhenti pada deklarasi. Kegiatan direncanakan berlanjut melalui sarasehan Boso Walikan pada pertengahan Oktober dan city run pada akhir Oktober 2026.
City run akan membawa peserta menyusuri sejumlah kampung tematik, mulai Kampung Warna-Warni, Kampung Putih, Kampung Celaket, Kampung Biru hingga Kayutangan Heritage.
Dalam perspektif pendidikan, rangkaian tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal Malang melalui pengalaman langsung. Tantangannya bukan hanya membuat mahasiswa tinggal dan belajar di Malang, tetapi juga mengenal cerita, nilai dan kebudayaan kota tempat mereka menempuh pendidikan.
Dengan pendekatan tersebut, Ngalam Hebak membawa isu kebudayaan ke ruang pendidikan dan kehidupan sosial, sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal identitas Malang tanpa harus terpisah dari keberagaman kota. (saf)