JAVASATU.COM- Tim Penggerak PKK Kota Batu bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menggelar edukasi kesehatan reproduksi remaja dan pencegahan stunting serta perkawinan usia anak di SMP Negeri 5 Batu, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan melalui program PKK Sambang Sekolah (PKK Bangsa) tersebut menyasar siswi kelas VII, VIII, dan IX. Edukasi diberikan untuk memperkuat pemahaman remaja putri mengenai kesehatan reproduksi, gizi, risiko seks bebas, penyakit menular seksual, hingga dampak perkawinan usia anak.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu Siti Faujiyah mengatakan edukasi kesehatan reproduksi penting diberikan sejak usia sekolah agar remaja memiliki pengetahuan untuk menjaga diri dan merencanakan masa depan.
“Tidak usah malu-malu, anggaplah kami sebagai teman curhat kalian. Pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini menjadi kunci tumbuh kembang remaja yang sehat dan percaya diri,” ujar Siti Faujiyah di hadapan para siswi.
Ia juga mendorong para siswi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi dan tidak terburu-buru memasuki perkawinan.
“Lanjutkan sampai ke SMA, kalau bisa sampai perguruan tinggi. Kuliah lah,” pesannya.
Sasar Siswi di Tiga SMP
Sekretaris Dinkes Kota Batu dr. Yuni Astutik menjelaskan program tersebut menyasar remaja putri di tiga sekolah, yakni SMPN 3, SMPN 4, dan SMPN 5 Batu.
Menurutnya, remaja putri menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat penguatan pengetahuan karena menghadapi kerentanan biologis dan sosial dalam masa pertumbuhan.
“Kenapa menyasar perempuan? Yang kami prioritaskan adalah remaja putri, karena ada kerentanan biologis dan sosial yang perlu dikuatkan, sehingga seluruh remaja putri mampu mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal yang tidak baik,” tegas Yuni.
Agar materi dapat dibahas lebih terbuka, kegiatan edukasi dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Cara tersebut diharapkan membuat peserta lebih leluasa bertanya mengenai persoalan kesehatan reproduksi tanpa merasa sungkan.
“Tidak ditutup-tutupi, tidak ada perasaan malu-malu, sehingga harapan agar tujuan kegiatan tercapai,” tambahnya.
Kesehatan Reproduksi Dikaitkan dengan Pencegahan Stunting
Yuni mengatakan pemahaman kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan usia anak menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mencegah stunting.
Materi yang diberikan mencakup gizi seimbang, bahaya seks bebas, penyakit menular seksual, serta dampak perkawinan usia anak dari aspek fisik, mental, psikologis, dan ekonomi.
“Mendorong peran aktif remaja sebagai agen perubahan guna mendukung percepatan penurunan stunting menuju perwujudan generasi Indonesia Emas yang sehat dan berdaya saing tinggi,” ungkap Yuni.
Dinkes Kota Batu juga berencana memperluas kegiatan serupa kepada siswa laki-laki pada tahap berikutnya.
Sekolah Minta Edukasi Berkelanjutan
Wakil Kepala SMPN 5 Kota Batu Bidang Kesiswaan, Masriadi, menyambut baik edukasi tersebut. Menurutnya, kegiatan itu relevan dengan kondisi sosial sebagian siswa yang berasal dari keluarga petani dan buruh tani.
Ia mengatakan sebagian masyarakat di lingkungan sekolah masih membutuhkan penguatan informasi mengenai kesehatan reproduksi, HIV, narkoba, dan dampak perilaku berisiko.
“Lingkungan di sini bukanlah lingkungan yang modern, masih dibilang pedesaan, masyarakatnya masih awam. Terkait HIV maupun narkoba, mereka belum memahami dampak buruknya. Sebelumnya belum pernah mengenal hal-hal seperti ini,” ujar Masriadi.
Karena itu, pihak sekolah berharap kegiatan edukasi tidak berhenti pada satu kali pelaksanaan, tetapi dapat dilakukan secara berkala.
“Ini harus ada tindak lanjutnya, karena ini juga membantu pihak sekolah,” tegasnya.
SMPN 5 Kota Batu memiliki enam ruang kelas dengan rata-rata 25 siswa per kelas dan 11 tenaga pendidik. Sebagian besar siswa berasal dari Desa Sumber Brantas. Sekitar separuh orang tua siswa merupakan penduduk asli, sedangkan lainnya merupakan pendatang yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani. (yon/arf)