JAVASATU.COM- Ratusan warga Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, mengikuti tradisi adat Guar Bumi atau Munjung di Buyut Cacah Guna, Jumat (16/10/2026). Tradisi tahunan ini menjadi wujud syukur atas rezeki sekaligus upaya menjaga warisan leluhur dan memperkuat gotong royong masyarakat.

Warga mengikuti prosesi doa dengan membawa beragam makanan dan hasil bumi. Setelah doa selesai, mereka bersama-sama mengambil makanan yang telah disiapkan dalam prosesi adat tersebut.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengapresiasi masyarakat yang konsisten mempertahankan tradisi Guar Bumi di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.
“Alhamdulillah, Jatiwangi, tepatnya Desa Ciborelang, ternyata budaya masyarakatnya luar biasa. Sangat menghargai karuhunnya atau leluhurnya,” ujar Eman.
Menurut Eman, Guar Bumi memiliki dua makna utama, yakni ungkapan syukur atas rezeki dan keberhasilan serta penghormatan kepada leluhur melalui tradisi munjung dan doa di makam.
Ia menilai tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menjaga semangat gotong royong di tengah perubahan kehidupan masyarakat.
“Di sana ada silaturahmi, di sana ada nilai kegotongroyongan. Di tengah peradaban yang luar biasa hari ini, kemajuan teknologi, tetapi mereka masih bisa merawat dan menjaga budaya,” katanya.
Eman berharap nilai-nilai yang diwariskan para leluhur dapat menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus membangun desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
TNI Apresiasi Pelestarian Tradisi Guar Bumi
Danramil 1712/Jatiwangi Kapten Inf. Maman Kardiman turut mengapresiasi masyarakat yang mempertahankan tradisi Guar Bumi. Ia menilai pelestarian budaya lokal membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Majalengka Eman Suherman, Wakil Bupati Dena Muhammad Ramdan, anggota DPRD Majalengka Abdul Toyib, Camat Jatiwangi Ade Anung Ilharja, Kapolsek Jatiwangi AKP Rudi Djunardi, serta Kepala Desa Ciborelang Yasa.
Sejumlah unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan perangkat desa juga mengikuti kegiatan tersebut. (eko/arf)