JAVASATU.COM- Elemen Masyarakat Kota Patriot (Emaskot) mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta yang mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPST Bantargebang sebagai upaya mengatasi krisis sampah di ibu kota, terutama pasca insiden longsor yang terjadi pada Maret 2026.

“Langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membenahi sistem pengolahan sampah yang selama ini menjadi persoalan utama Jakarta,” ujar Koordinator Emaskot, Sandy Timur, Senin (20/4/2026).
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya mengusulkan pembangunan tiga PLTSa, yakni di Bantargebang, Rorotan, dan Sunter. Khusus di Bantargebang, fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 3.000 ton sampah per hari, terdiri dari 2.000 ton sampah baru dan 1.000 ton sampah lama.
Namun demikian, Emaskot menilai kapasitas tersebut masih belum ideal jika dibandingkan dengan volume sampah yang masuk ke Bantargebang yang mencapai lebih dari 7.000 ton per hari. Selain itu, timbunan sampah yang telah menggunung sejak 1989 juga menjadi tantangan besar dalam pengelolaan.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, kapasitas itu belum cukup. Idealnya bisa ditingkatkan hingga 6.500 sampai 7.000 ton per hari agar penanganannya lebih maksimal,” tegasnya.
Emaskot juga mendorong agar pembangunan PLTSa tidak hanya berhenti pada satu fasilitas, melainkan diperluas menjadi 3 hingga 5 unit di kawasan Bantargebang guna mempercepat penanganan krisis sampah secara menyeluruh.
“Kami mendorong penambahan unit PLTSa agar proses pengolahan sampah bisa lebih cepat dan tidak terus menumpuk,” katanya.
Selain itu, perluasan lahan TPST Bantargebang dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Dari luas saat ini sekitar 130 hektare, diusulkan diperluas hingga 200 hektare untuk mendukung pembangunan zona baru, fasilitas PLTSa, serta area parkir truk guna mengurai antrean kendaraan.
“Perlu ada penataan kawasan, termasuk penambahan lahan agar operasional lebih aman dan tertib,” jelas Sandy.
Di sisi lain, masyarakat sekitar Bantargebang menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan PLTSa selama diiringi pengelolaan yang lebih baik dan pemberian kompensasi yang layak. Selama puluhan tahun, warga hidup berdampingan dengan aktivitas TPST yang juga menjadi sumber penghidupan.
“Selama dikelola dengan baik dan ada perhatian terhadap dampak lingkungan serta kompensasi, masyarakat tentu mendukung,” ujarnya.
Emaskot menegaskan, pembangunan PLTSa menjadi langkah strategis yang harus dioptimalkan agar mampu menjawab persoalan sampah Jakarta secara jangka panjang.
“Ini langkah awal yang baik. Tinggal bagaimana pemerintah memastikan kapasitas dan pelaksanaannya benar-benar mampu menyelesaikan krisis sampah,” pungkasnya. (arf)