JAVASATU.COM- Seratus hari setelah wafatnya Ketua Umum PP Fatayat NU, almarhumah Hj Margaret Aliyatul Maimunah, sosok dan keteladanannya masih membekas di kalangan kader Fatayat NU. Pengurus Harian (PH) Fatayat NU Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, turut menghadiri tahlil dan doa bersama yang digelar di kediaman suami almarhumah, H. Abdullah Mas’ud, di Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Sabtu (6/6/2026).

Bagi kader Fatayat NU, peringatan 100 hari wafat bukan sekadar tradisi mendoakan almarhumah, tetapi juga menjadi momentum mengenang dedikasi dan perjuangan Hj Margaret dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
“Alhamdulillah, sebagai bentuk simpati dan khidmah di organisasi Fatayat NU, kami ikut membersamai tahlil dan doa bersama untuk almarhumah Hj Margaret. Semoga beliau mendapatkan rahmat Allah SWT dan husnul khatimah,” ujar Ketua Fatayat NU Dukun, Siti Amsaroh, S.Pd.
Menurut perempuan yang akrab disapa Neng Liya itu, almarhumah Hj Margaret meninggalkan teladan kepemimpinan yang kuat. Sosoknya dikenal ulet, telaten, totalitas, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pendampingan perempuan dan anak.
“Edukasi yang bisa kita teladani dari beliau adalah pemimpin yang ulet, telaten, totalitas, serta sangat peduli terhadap pendampingan dan pemberdayaan perempuan dan anak. Semoga semangat beliau terus menginspirasi kader-kader Fatayat NU,” katanya.
Semasa hidupnya, Hj Margaret Aliyatul Maimunah tidak hanya aktif memimpin organisasi perempuan Nahdlatul Ulama, tetapi juga dikenal produktif dalam dunia literasi. Beberapa karya yang ditulisnya antara lain buku Perempuan Berdaya Nusantara Jaya: Landasan Advokasi Pemberdayaan Perempuan yang diterbitkan pada 2015, serta Panduan Amaliah Ramadan untuk Pelajar Putri.
Selain itu, almarhumah juga pernah mengemban amanah sebagai tenaga ahli Komisi IX DPR RI pada 2008-2009 yang membidangi ketenagakerjaan, kesehatan, BKKBN, Badan POM, dan BNP2TKI. Dua tahun berikutnya, ia melanjutkan kiprahnya sebagai tenaga ahli Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama dan sosial.
Bagi keluarga besar Fatayat NU, Hj Margaret bukan hanya dikenang sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU, melainkan juga sebagai sosok perempuan inspiratif yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan organisasi, pemberdayaan perempuan, dan kesejahteraan masyarakat.
Peringatan 100 hari wafat yang digelar di kediaman keluarga almarhumah di Desa Bulangan, Dukun, Gresik, menjadi penegas bahwa jejak pengabdian dan nilai-nilai yang diwariskan Hj Margaret Aliyatul Maimunah masih hidup dan terus dijaga oleh kader-kader Fatayat NU hingga hari ini. (hoo/nuh)